WeCreativez WhatsApp Support
Hai, Sunners... Mimin di sini!
Mau ngobrolin apa nih?

Kenapa Aku?

“Lo tuh kenapa sih, suka banget mainin laptop gue?” tanyaku kesal karena merasa terganggu dengan suara ketikan yang disebabkan oleh teman tak terlihatku itu.

Iya, teman tak terlihat. Karena memang dia tidak kelihatan. Dia tidak terlihat oleh orang-orang di sekitarku, kecuali aku. Ya, cuma aku yang bisa melihatnya. Entah aku harus merasa senang atau sebaliknya. Karena cukup menguras emosi jika dianggap gila terus-menerus oleh teman-teman di dunia nyataku. Ya, karena berteman dengan sosok itu, maka aku pun merasa bukan ada di dunia yang nyata. Seperti mempunyai teman khayalan sewaktu masih kecil dulu.

“Aku seneng aja, Tar. Keinget waktu ngerjain tugas-tugas sekolahku ketika aku masih hidup dulu,” kata teman tak terlihatku itu sambil terus mengusap bagian atas laptopku dengan sorot mata penuh kerinduan.

Ketika melihatnya yang sedih seperti itu, aku baru sadar jika hantu ternyata bisa merasakan sedih juga. Tapi, apa dia gak merasa lapar juga, ya? Soalnya aku sudah merasa lapar lagi, padahal baru satu jam yang lalu aku makan. Ah, lupakan saja. Hantu mana bisa makan. Eh, tapi hantu bisa makan makanan manusia gak, sih? Coba deh nanti aku tanya langsung.

Teman tak terlihatku itu tertawa, “Kamu kalau lapar selalu deh pertanyaannya suka lucu. Aku gak butuh makanan, Tar. Gak merasa lapar juga. Jadi, aku gak bisa makan makanan manusia.”

Aku menengok ke arahnya sambil melotot, “Kok lo bisa tahu apa yang gue pikirin?”

Dia melepaskan jemarinya yang sejak tadi mengusap lembut bagian atas laptopku, lalu berbalik mengahadapku yang kini duduk di pinggiran tempat tidur, menghadapnya. Kini kami saling berhadapan, “Aku kan hantu. Jadi aku bisa tahu isi hati dan pikiran kamu.”

Ya, aku bertemu dengannya baru dua hari yang lalu. Mengalami hal seperti ini pun baru saja. Maksudku, berteman dengan sosok hantu bagaikan berteman dengan manusia. Rasanya seperti punya sahabat yang selama ini tak pernah aku rasakan. Kalau melihat hantu, itu sudah sejak kecil, katanya sih keturunan dari kakekku, ayah mamaku. Tapi, menemukan hantu yang bisa kujadikan teman seperti ini adalah pertama kalinya bagiku.

Maka, ketika sosok itu tiba-tiba datang dengan senyumannya yang begitu tulus, mampu membuat hatiku menghangat. Awalnya kukira dia adalah manusia, namun ternyata bukan. Karena dia sangat cantik, dengan kedua bola matanya yang berwarna cokelat gelap, rambut sebahunya yang hitam legam dengan gelombang-gelombang kecil di bagian bawah, dan senyumannya yang memikat, mampu membuatku tak mengira jika ia adalah sosok hantu yang sama seperti biasa kutemui.

Tapi, biasanya mereka akan menunjukkan sosok yang menyeramkan. Sehingga aku terlalu malas untuk sekadar menatapnya. Karena takut terbayang-bayang ketika akan tertidur nanti. Ya, walau aku bisa melihat mereka, bukan berarti aku tidak takut.

Rena. Nama itu yang diperkenalkannya padaku. Nama yang cantik. Secantik senyumnya. Tapi, dia belum menceritakan apa pun padaku. Padahal aku sungguh sangat penasaran bagaimana bisa dia menjadi sosok hantu seperti itu? Kenapa bisa dia masih ada di sini? Berarti ada suatu hal yang membuatnya masih tertahan di sini, kan? Tapi, apa? Aku terlalu takut untuk menanyakannya. Takut akan membuatnya sedih, lalu mengingat kembali kenapa dirinya bisa meninggal, dan tidak bisa pulang ke rumah yang seharusnya. Bukan berkeliaran di bumi seperti ini, layaknya manusia biasa.

“Terima kasih, Tari,” ah suara lembut itu tiba-tiba saja membuyarkan lamunanku akan sosoknya.

Aku menatap wajahnya, mengernyit heran, “Makasih buat apa? Perasaan gue gak ngelakuin apa-apa selain bengong.”

“Terima kasih karena kamu takut akan membuatku sedih jika kamu menanyakan sesuatu, tentang kenapa aku bisa berada di sini, di tempat yang bukan seharusnya,” Rena tersenyum sangat tulus, namun aku bisa melihat tatapan sendu dari kedua matanya.

“Gue juga gak akan maksa lo buat cerita kok. Lo ada di sini aja gue udah seneng banget. Gue jadi bisa ngerasain gimana rasanya punya temen deket,” aku tersenyum menatapnya, lalu dengan ragu bertanya, “Atau, lo keberatan gak kalau gue nyebut lo sebagai sahabat gue?”

Rena mengangguk antusias. Matanya berbinar, dengan senyum yang tak pernah lepas dari mulutnya, “Boleh! Boleh banget, Tari. Aku merasa sangat senang.”

Aku mengangguk-ngangguk, lalu ikut tersenyum lagi ketika melihat bagaimana cantiknya saat Rena tersenyum, dengan sorot matanya yang begitu bahagia. Namun, ketika mataku tak sengaja melihat turun ke bawah, tepatnya ke kedua kaki Rena yang memang terlihat sampai batas lutut, karena dia menggunakan baju atasan sepanjang lutut, berwarna putih. Aku melihat darah menetes satu persatu di lantai, di sebelah kakinya yang menapak di lantai kamarku.

Lalu, semuanya berubah menjadi gelap. Tubuhku seperti melayang-layang tidak tentu arah. Aku bahkan tidak bisa membuka kedua mataku, hanya sekadar ingin melihat apa yang kini sedang terjadi. 

Namun, tiba-tiba saja aku merasakan tubuhku tersentak sangat keras. Seperti terjatuh dari atas ketinggian, lalu terbanting begitu saja di tanah. Aku mengatur napasku, mencoba membuka kedua mataku. Ternyata bisa. Kini, aku melihat sebuah rumah yang sangat besar dan megah. Bahkan ini tiga kali lipat lebih besar dari rumahku. Aku tidak tahu ini rumah siapa, karena hanya ada aku di sana. Sepi. Sunyi. Perlahan aku berjalan menuju pintu utama rumah itu, mencoba membukanya perlahan, dan ternyata tidak terkunci. Karena penasaran, aku tanpa ragu melangkah masuk ke dalam.

Di sana, tepatnya di ruang makan. Aku melihat ada laki-laki paruh baya seumuran dengan ayahku, sedang menatap laki-laki yang kukira seumuran denganku itu dengan sorot mata penuh amarah. Kurasa mereka adalah sepasang ayah dan anak.

“Papa kecewa sama kamu! Kenapa Papa bisa punya anak laki-laki bodoh seperti kamu! Kenapa kamu gak bisa kayak adik kamu itu? Kenapa, Reza?! Kenapa?”

Aku tersentak mendengar laki-laki paruh baya itu berteriak murka di depan anak lelakinya yang kini hanya menatap datar wajah ayahnya. Kenapa bisa seorang ayah mengatakan anaknya sendiri bodoh? Jika ayahku yang mengatakan itu, maka aku akan sangat terpukul dan kecewa.

“Papa! Papa jangan salahin Abang. Ini salah Rena. Rena gak sempat bantuin Abang belajar kemarin, makanya nilai Abang menurun,” gadis yang menyebut dirinya sebagai Rena itu memeluk lengan laki-laki paruh baya itu, “Jangan marahin Abang, Pa. Marahin Rena aja.”

Papa? Rena?

Jadi ini rumah Rena? Dan, dua laki-laki tadi adalah papa dan abangnya Rena?

Aku mengerti sekarang. Rena sedang membawaku ke rumahnya, dan menceritakan semuanya. Bagaimana ketika ia masih hidup dulu. Aku menunduk takut ketika tiba-tiba saja ruangan ini menjadi sangat gelap. Aku tidak bisa melihat apa-apa. Hening.

“Abaaang, sakit! Jangan, Bang. Sakit.”

Suara itu. Rena. Tapi kenapa aku tidak bisa melihat apa-apa? Apa yang terjadi pada Rena? Kenapa dia berteriak kesakitan? Abang? Sepertinya yang melakukan itu adalah abangnya. Tapi, mana mungkin seorang kakak menyakiti adiknya sendiri?

“Abang, Rena sayang sama Abang. Abang kenapa lakuin ini sama, Rena?”

Suara itu begitu lirih, seperti menahan tangis dan sakit secara bersamaan.

“Tapi Papa sama Mama gak pernah sayang sama gue, Ren! Mereka cuma sayang sama lo! Mereka selalu bangga-banggain lo! Sementara gue? Gue kayak sampah di mata mereka!”

Aku tersentak mendengar teriakan itu, hingga kakiku perlahan mundur karena merasa takut. Aku menggeleng ketika mendengar suara Rena yang berteriak kesakitan. Air mataku tanpa sadar mengalir terus-menerus. Hatiku terasa sakit. Aku memejamkan mata, mencoba menghilangkan rasa sakit itu.

Namun, rasa sakit itu semakin menusuk, hingga jantungku seperti berhenti berdetak. Di sana, aku melihat semuanya. Darah. Kayu runcing. Gunting. Tali. Pisau berkarat. Amis. Teriakan kesakitan. Tawa melengking. Tangis. Napas tercekat. Tolong.

“Rena sayang Abang.”

Suara lirih itu yang paling terdengar, seperti bisikan di telingaku.

Dan di sana, di ujung ruangan yang gelap, aku bisa melihat seseorang sedang berdiri di sana, dengan baju kurung sepanjang lutut, berwarna hijau lembut, lusuh, penuh bercak darah yang telah berubah warna menjadi cokelat, mengering.

Kakinya, entah itu apa, aku bahkan sudah tidak bisa melihat warna kulit aslinya seperti apa, karena tertutup oleh darah yang sudah mengering, seperti ada bekas sayatan panjang yang begitu banyak, hingga aku bisa melihat ada yang menggantung di sana, di sepanjang kulit kakinya, panjang, pendek, dengan bentuk yang tidak beraturan. Aku menarik napasku yang semakin tercekat.

Lalu, ketika aku melihat semakin ke atas, tangan itu. Kedua tangan itu, ke mana jari-jemarinya? Kenapa aku hanya melihat telapak tangannya, tanpa jari? Wajah itu, aku ingin sekali berteriak, namun tak ada suara apa-apa yang keluar dari mulutku. Kenapa begitu hancur? Ke mana bola matanya?

Tapi, senyuman itu. Senyuman tulus yang sangat aku kenal beberapa hari terakhir ini. Sungguh, aku ingin menjerit sekeras-sekerasnya  ketika sosok itu berbicara.

“Terima kasih, Tari.”

 

Puja Sindia
Politeknik Negeri Media Kreatif Jakata

Leave A Comment