Majalah Sunday

Kejawen, Tradisi Jawa yang Sering Kita Temui Tanpa Sadar

Penulis: Adistya Armitayana – UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Sunners, pernah dengar istilah Kejawen tapi belum benar-benar paham apa artinya? Banyak orang mengira Kejawen hanya soal ritual atau hal mistis. Padahal, di balik istilah itu tersimpan lapisan Budaya Jawa yang membentuk cara hidup banyak orang hingga hari ini. Banyak nilai Kejawen yang sebenarnya masih kita praktikkan tanpa sadar. Mulai dari cara berbicara yang penuh tata krama, kebiasaan menahan emosi, sampai prinsip hidup seperti tepo seliro, eling lan waspada, dan mencari keseimbangan batin. Semua itu adalah bagian dari kearifan lokal Jawa yang diwariskan secara halus lewat keluarga, lingkungan, dan tradisi sehari-hari.

Di tengah dunia modern yang serba cepat dan penuh tekanan, Kejawen hadir bukan sebagai sesuatu yang ketinggalan zaman, melainkan sebagai pengingat bahwa hidup tidak hanya soal pencapaian, tapi juga soal ketenangan, rasa, dan laku. Memahami Kejawen berarti membuka kembali ruang refleksi tentang bagaimana budaya Jawa mengajarkan manusia untuk hidup selaras tanpa kehilangan arah, tanpa harus meninggalkan akarnya.

Apa Itu Kejawen?

Kejawen dipahami sebagai pandangan hidup masyarakat Jawa yang tumbuh dari perpaduan nilai budaya, spiritual, dan pengalaman hidup turun-temurun. Ia bukan agama, melainkan sistem nilai yang membentuk cara orang Jawa memandang hubungan antara manusia, alam, dan Yang Maha Kuasa. Dalam Kejawen, hidup tidak dilihat sebagai sesuatu yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari tatanan yang lebih besar dan saling terhubung.

Karena itu, Kejawen menekankan keselarasan—antara batin dan tindakan, antara individu dan lingkungan, serta antara manusia dan sesamanya. Prinsip-prinsip ini diwariskan lewat cerita, petuah orang tua, tradisi keluarga, hingga kebiasaan sehari-hari. Tanpa disadari, banyak orang yang tumbuh dalam budaya Jawa sebenarnya sudah mempraktikkan nilai Kejawen, meski tidak pernah menyebut namanya secara langsung.

Masyarakat melakukan doa dan persembahan sebagai bentuk penghormatan pada leluhur dan alam.

Nilai-Nilai yang Hidup di Dalamnya

Salah satu kekuatan Kejawen terletak pada nilai-nilainya yang membumi. Konsep tepo seliro, misalnya, mengajarkan untuk memahami perasaan orang lain sebelum bertindak. Ada pula ajaran eling lan waspada, yang mengingatkan manusia untuk selalu sadar diri dan berhati-hati dalam bersikap. Nilai-nilai ini membentuk karakter yang tenang, tidak gegabah, dan lebih mengutamakan harmoni daripada konflik.

Selain itu, Kejawen juga mengajarkan pentingnya menerima hidup apa adanya tanpa kehilangan usaha. Sikap nrimo sering disalahartikan sebagai pasrah tanpa daya, padahal maknanya lebih dalam: menerima keadaan dengan lapang dada sambil tetap berusaha menjalani hidup sebaik mungkin. Nilai-nilai seperti inilah yang membuat Kejawen tetap relevan, bahkan di tengah tekanan hidup modern.

Praktik Kejawen di Kehidupan Modern

Meski sering dianggap tradisi lama, praktik Kejawen masih hidup sampai sekarang. Kita bisa menemukannya dalam kebiasaan seperti selametan, ziarah makam leluhur, penggunaan hari baik dalam acara penting, hingga cara berbicara yang penuh unggah-ungguh. Bahkan sikap menahan diri, berbicara pelan, dan menghindari konflik terbuka juga merupakan cerminan nilai Kejawen.

Di tengah kehidupan modern yang serba cepat dan kompetitif, Kejawen justru menawarkan jeda. Ia mengajarkan pentingnya mengolah batin, tidak hanya mengejar hasil, tetapi juga memperhatikan proses dan dampaknya bagi sekitar. Tanpa disadari, banyak orang masih menjalankan nilai Kejawen meski tidak lagi menyebutnya dengan nama itu.

Tradisi Kejawen yang hidup lewat cerita dan petuah para sesepuh kepada generasi muda. (Sumber: Pinterest)

Tokoh-Tokoh yang Dikenal Dekat dengan Kejawen

Beberapa tokoh dikenal lekat dengan nilai-nilai Kejawen, bukan hanya lewat kepercayaan yang mereka anut, tapi juga dari cara hidup, pemikiran, dan pengaruhnya dalam budaya Jawa.

Soeharto

Soeharto, Presiden kedua Republik Indonesia, sering disebut sebagai salah satu tokoh yang dekat dengan Kejawen. Dalam berbagai catatan, ia dikenal mendalami spiritualitas Jawa dan kerap mengunjungi tempat-tempat yang dianggap sakral, seperti Gunung Srandil dan Dataran Tinggi Dieng. Soeharto sendiri pernah menyampaikan bahwa secara batin ia memang menapaki jalan Kejawen, terinspirasi dari ajaran Daryatmo yang dikenalnya sejak muda.

Dalam buku Soeharto Muda: Pembentukan Prajurit, 1921–1945 karya David Jenkins, sisi lain kehidupan Soeharto diulas cukup mendalam. Dari sana terlihat bahwa ia tidak hanya menjalankan ajaran Islam, tetapi juga memegang kuat nilai-nilai Kejawen. Di tengah perubahan masyarakat Indonesia yang semakin religius secara formal, Kejawen tetap menjadi bagian penting dari perjalanan spiritualnya.

Soedjono Prawirosoedarso

Nama Soedjono Prawirosoedarso mungkin tidak sepopuler tokoh nasional lainnya, tapi kisahnya cukup unik. Ia berhasil menjadi anggota DPR hasil Pemilu 1955 tanpa dukungan partai politik, dengan perolehan suara yang tidak sedikit. Di luar dunia politik, Soedjono dikenal sebagai guru kebatinan dan pendiri Perguruan Ilmu Sejati.

Ajaran Ilmu Sejati berangkat dari laku batin dan pencarian spiritual seseorang yang dipercaya mendapat petunjuk langsung dari Tuhan. Melalui perguruan yang ia dirikan, Soedjono mengajarkan nilai-nilai sederhana namun dalam: selalu ingat Tuhan, sabar dalam menjalani hidup, tawakal, dan saling mengasihi. Tujuannya bukan sekadar ritual, tapi ketenteraman hidup dan pemahaman tentang asal-usul serta tujuan manusia dalam kehidupan.

Permadi

Permadi dikenal publik sebagai politikus yang terang-terangan mengakui dirinya sebagai penganut Kejawen. Bagi Permadi, Kejawen bukan sekadar budaya, melainkan keyakinan yang telah diwariskan dalam keluarganya secara turun-temurun. Identitas itu juga terlihat dari gaya penampilannya yang sering mengenakan pakaian serba hitam.

Dalam menjalani Kejawen, Permadi melakukan berbagai praktik spiritual yang bagi sebagian orang terdengar tidak biasa. Ia pernah melakukan ritual di Gunung Kawi, termasuk mandi di kawasan tersebut, yang dipercaya memiliki makna spiritual bagi penghayat Kejawen. 

Kejawen bukan sekadar tradisi lama, tapi juga cara hidup yang mengajarkan keseimbangan, empati, dan ketenangan batin. Di tengah dunia yang penuh tekanan, nilai-nilai Kejawen bisa menjadi pegangan untuk memahami diri sendiri dan berhubungan lebih baik dengan lingkungan. Memahami Kejawen berarti memahami salah satu akar budaya Jawa yang memberi warna pada identitas Indonesia.

Kenali lebih dalam tentang Kejawen sebagai bagian dari kekayaan budaya kita. Bukan untuk diikuti sepenuhnya, tetapi untuk dipelajari nilai-nilainya supaya kita bisa hidup lebih bijak, lebih sadar, dan lebih menghargai keberagaman budaya yang ada di sekitar kita.

*****

Majalah Sunday, Teman Memahami Tips Belajar, Edukasi Seksual dan Kesehatan Mental

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.

Ikutan berkarya di
Majalah Sunday

Post Views: 7