Penulis: Nama Lengkap – Institusi
Paragraf pertama
(harus ada keyphrase)
Bu Santi: “Eh Bu Jeni, ga boleh gitu. Hilatus kan kerja jadi maklum lah, Bu.” (Dengan nada meledek)
Bu Jeni: “Makanya neng, jangan terlalu ambisi kalo kerja, sewajarnya aja. Lagian Neng Hilatus terlalu cantik klo cuma kerja di kantoran, kan bisa kerja sampingan sama anak saya di karaoke gajinya besar lho kerjanya juga gampang.”
Bu Santi: “Bener tuh Hilatus, lagian kamu kan pinter. Sayang lho kepintarannya ga kepake, kan bisa buat minterin orang, ya kan Bu?”
Bu Jeni: “Ya, jangan pinter-pinter banget lah Neng, nanti lelaki pada minder kalo deketin Neng, makanya jadi susah jodoh.”
Bu Santi: “Eh buka sudah jodoh, Bu. Kemarin kan menolak jodoh.” (Bu Santi dan Bu Jeni tertawa)
Menghela napas panjang, Hilatus segera membayar sayuran yang sudah ia pilih dan meninggalkan tempat.
Hilatus: “Ibu-Ibu, saya duluan, ya.”
Ibu-Ibu: “Iya, Neng sok mangga.”
Meski begitu Hilatus tak menjawab sepatah kata pun, hanya membalas dengan senyuman dan tak mau berbicara panjang lebar. Hilatus merasa orang-orang di sekitarnya tak pernah memberi celah untuk menunjukkan kebebasan dalam hal pendidikan, pekerjaan, bahkan status sosial.
Oleh: Lois Ernike Hutabarat-Universitas Kristen Indonesia
*****
Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.