WeCreativez WhatsApp Support
Hai, Sunners... Mimin di sini!
Mau ngobrolin apa nih?

Kamu Merasa Diancam oleh Pacarmu? Yuk Kenali Ciri-Ciri Blackmail!

Hello fellow Sunners! Di sini, Sunners punya pacar semua gak sih? Atau kebanyakan pada jomblo? Haha whoopsie bercanda kok. By the way, kali ini aku mau bahas tentang sesuatu yang berhubungan sama relationship nih yaitu emotional blackmail.

Kalian pernah gak, khususnya yang lagi punya pasangan nih, merasa didominasi dan dituntut untuk patuh dan melakukan apa saja? Istilah jaman sekarang tuh gaslighting dan toxic relationship lah ya. Tapi yang berhubungan sama suatu yang dilakukan pasangan entah itu menuntut, memerintah bahkan menekan kamu untuk patuh terhadapnya serta kamu merasa tertekan secara emosional itu dinamakan emotional blackmail.

Wah bisa jelasin lagi gak, emotional blackmail tuh gimana? 

Dilansir dari Healthline, Emotional Blackmail adalah istilah yang dipelopori oleh Dr. Susan Forward, terapis, penulis, dan dosen pada 1997. Istilah itu mengarah pada tindakan manipulasi yang memanfaatkan perasaan kamu sebagai alat untuk mengendalikan perilaku kamu untuk melihat sesuatu dari sudut pandang dia. 

Menurut Dr. Susan Forward dalam bukunya yang berjudul “Emotional Blackmail: When the People in Your Life Use Fear, Obligation, and Guilt to Manipulate You” lebih dalam menjelaskan tentang 6 tahap emotional blackmail. Tahapan-tahapan tersebut, di antaranya:

  • Tuntutan (Demand)

“ih aku gak suka deh kalau kamu deket-deket sama temen kamu yang itu”,

“kayaknya besok kamu gak usah main deh sama dia, dia keliatan gak baik buat kamu”.

Kalian yang pernah dengar kata-kata ini dari pasangan kalian perlu waspadai kenapa dia berbicara seperti itu loh Sunners! Mereka menuntut dan mulai mengontrol apa yang ada di lingkungan sekitarmu tanpa alasan yang jelas.

  • Perlawanan (Resistance)

Biasanya pada tahap ini jika kalian menolak permintaan mereka maka dia bisa saja melakukan perlawanan dengan mendiamkan kamu seharian atau marah tanpa sebab yang jelas. Mereka menuntut keinginannya terpenuhi atau dia akan melawan dengan berharap kamu luluh dan peka kalau pasangan kamu ini ingin semuanya dituruti. Wah kelihatan manipulatif ya.

  • Tekanan (Pressure)

Jika dari sekadar marah seharian saja tidak mempan siap-siap saja pasangan kamu akan mulai menekan kamu untuk berbuat sesuai yang dia mau. Biasanya di sini mulai muncul ancaman-ancaman kecil atau gaslighting seperti “kalau kamu cinta aku harusnya kamu nurutin aku” atau semacam “katanya kamu sayang sama aku? kok begini?” 

  • Ancaman (Threats)

Siapa yang jika sedang fase berantem dengan pasangan, salah satu di antara kalian melayangkan ancaman putus demi memenuhi ego mereka sendiri? Padahal masalah yang ditimbulkan masih bisa diselesaikan dengan baik. Kalau sudah begini sudah saatnya kamu mulai memikirkan kembali ya Sunners, apakah kesalahannya ada di hubungan kalian atau sifat dia yang tidak dapat ditoleransi?

  • Kepatuhan (Compliance)

sudah pasti orang yang melakukan emotional blackmail akan terus mengontrol dan menuntut pasangannya agar tetap patuh di bawah kuasanya. Ia ingin hubungan ini didominasi olehnya seakan-akan dia lah yang paling berkuasa padahal hubungan itu tentang bukan siapa yang saling mendominasi kan?

  • Pengulangan (Repetition)

Pola ancaman dan tuntutan yang dilayangkan secara berulang ke kamu menandakan bahwa hubunganmu sudah tidak sehat. Dia seakan-akan memegang kartu As kamu jika diancam begini maka kamu akan nurut dan luluh padanya. Kamu juga harus bisa untuk menolak dan membicarakan apa yang setidaknya membuat kamu tidak nyaman atas tingkah laku yang dia lakukan.

Cara Mengatasi Emotional Blackmail

Dilansir dari Magdalene, berada di kondisi mematikan bersama Emotional Blackmailer akan membuat kita dihantui rasa bersalah dan frustasi. 

Berikut 3 cara mengatasi Emotional Blackmail:

  • Terapkan SOS sebelum merespons permintaan.

Seseorang yang mencoba memanipulasi akan mendorong kita untuk langsung menjawab permintaannya. Keadaan seperti itu membuat kita merespons permintaan tanpa mempertimbangkannya terlebih dahulu.

Oleh karena itu, Dr. Susan Forward dalam bukunya memberikan tips untuk menerapkan SOS, yaitu:

STOP – Kamu perlu memberikan waktu untuk dirimu sendiri untuk berfikir. Cobalah mengatakan “Saya tidak bisa memutuskannya sekarang, saya akan memikirkannya dan menjawabnya nanti”

OBSERVE – Amati dan kenali reaksi, pikiran, emosi, ketakutan dan pemicu diri sendiri. Dengan lebih memahami diri sendiri, kita akan bisa membalikkan keadaan dan mengambil alih kembali agensi kita yang berusaha direbut oleh pasanganmu.

STRATEGY Menganalisis tuntutan dan dampak potensial dari kepatuhan kita terhadap pelaku dan diri kita sendiri. Tuntutan pelaku bisa berdampak pada kehidupan kita oleh karena itu kita harus mempertimbangkan kondisi kita saat permintaan dilayangkan oleh pelaku, risiko serta dampak yang akan muncul jika kita memenuhi permintaan yang ada.

  • Kembangkan komunikasi non-defensif yang kuat.

Sharon Ellison dalam bukunya Taking the War Out of Our Words With Powerful Non-Defensive (2002) mengungkapkan pelaku emotional blackmail sangat defensif dan komentar mereka sering menimbulkan konflik. Oleh karenanya, kita bisa menanggapi tekanan mereka dengan pernyataan seperti di bawah ini

  • Saya minta maaf jika kamu merasa kesal.
  • Berteriak dan membentak tidak akan menyelesaikan masalah. Yuk bicara saat kamu sudah lebih tenang.
  • Oh iya benar juga ya kata kamu.

Dalam sebuah siklus Emotional Blackmail, jangan membela atau menjelaskan keputusan kita sendiri dalam menghadapi tekanan. Kamu boleh coba meresponnya dengan kata kata non-defensif seperti contoh di atas ya Sunners!

  • Tetapkan Batasan

Menciptakan batasan akan membantumu menciptakan jarak dari ketegangan fisik serta emosional dan membantu kamu mengenal diri sendiri lebih baik untuk memahami pikiran, perasaan, dan emosi apa yang kamu miliki. Hal ini pula yang akan menegaskan posisi kamu di depan mata pelaku.

Jadi emotional blackmail ini emang termasuk ke salah satu toxic relationship, jika berkepanjangan tanpa ada keputusan yang final, bisa saja mental kamu jadi korbannya. Yuk mulai sekarang aware terhadap gejala-gejala yang bisa menimbulkan hubungan yang tidak sehat ya! Cari pasangan yang mau berjuang dan saling support satu sama lain demi masa depan yang baik.

Penulis: Beninda Dhiyaa-PoliMedia Jakarta

  Gita Rodiatus Sa’adah-SMKN 67 Jakarta

Editor: Syahfira – POLIMEDIA

 

Leave A Comment