Penulis: Maharani Intan Phitaloka – Universitas Pendidikan Indonesia
“Kamu suka seseorang. Kalian sering ngobrol, chat hampir setiap hari, bahkan teman-teman sudah mengira kalian pacaran.”
Tapi kamu sendiri masih ragu.
Kalau tidak segera jadian, kamu takut dianggap tidak serius.
Kalau terlalu lama, kamu takut dia didekati orang lain.
Akhirnya muncul pertanyaan yang sering dialami banyak remaja:
“Kalau aku suka dia… berarti aku harus pacaran nggak sih?”

Masa remaja adalah periode ketika seseorang mulai mengalami ketertarikan romantis dan belajar tentang hubungan emosional. Perubahan biologis dan sosial pada fase ini membuat remaja lebih peka terhadap kedekatan dengan orang lain.
Namun penelitian dalam psikologi perkembangan menunjukkan bahwa tidak semua remaja menjalin hubungan pacaran, dan hal tersebut tetap dianggap normal dalam perkembangan sosial mereka.
Bahkan sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Journal of School Health menemukan bahwa remaja yang tidak berpacaran selama masa sekolah memiliki tingkat depresi yang lebih rendah serta keterampilan sosial yang baik dibandingkan sebagian teman sebayanya yang pacaran.
Hal ini menunjukkan bahwa pacaran bukanlah satu-satunya cara untuk merasakan atau mengekspresikan perasaan suka.
Yang lebih penting adalah kesiapan emosional dan kualitas hubungan yang dibangun.

Perasaan “harus pacaran” sering kali bukan berasal dari diri sendiri, tetapi dari tekanan sekitar.
Teman-teman yang sudah punya pasangan, candaan seperti “kapan jadian?”, atau konten di media sosial bisa membuat seseorang merasa tertinggal. Tanpa sadar, muncul standar bahwa kedekatan harus segera diberi kepastian.
Selain itu, ada juga rasa takut kehilangan. Banyak remaja berpikir bahwa jika tidak segera menjalin hubungan, orang yang disukai akan pergi atau memilih orang lain.
Padahal, hubungan yang sehat tidak dibangun dari rasa takut kehilangan, melainkan dari kesiapan dan kenyamanan dua orang yang menjalaninya.

Menyukai seseorang adalah hal yang sangat wajar. Namun, perasaan itu tidak selalu berarti seseorang sudah siap menjalin hubungan.
Dalam sebuah hubungan, ada proses yang sering kali terlewat:
mulai dari tertarik, lalu mengenal, kemudian merasa dekat, dan akhirnya berkomitmen.
Banyak remaja langsung melompat ke tahap terakhir tanpa benar-benar melalui proses mengenal satu sama lain. Akibatnya, hubungan terasa cepat tapi tidak kuat.
Kadang, yang sebenarnya dibutuhkan bukanlah pacaran, tetapi rasa dekat, dipahami, dan memiliki seseorang untuk berbagi cerita.

Hubungan romantis memang bisa memberikan kebahagiaan. Namun jika dijalani tanpa kesiapan, justru bisa menjadi sumber tekanan.
Beberapa hal yang sering terjadi dalam hubungan remaja:
Banyak yang mengira punya pacar akan membuat hidup lebih bahagia. Padahal, tanpa kesiapan emosional, hubungan justru bisa menambah beban.
Karena itu, yang penting bukan sekadar memiliki hubungan, tetapi bagaimana hubungan itu dijalani.

Jawabannya sederhana: tidak harus.
Menyukai seseorang tidak otomatis berarti harus menjalin hubungan pacaran. Setiap orang memiliki waktu dan kesiapan yang berbeda.
Tidak ada yang salah dengan tetap dekat tanpa label. Tidak ada yang salah dengan memilih mengenal lebih lama. Bahkan, tidak ada yang salah dengan tidak menjalin hubungan sama sekali untuk sementara waktu.
Keputusan untuk pacaran seharusnya datang dari kesiapan diri, bukan dari tekanan lingkungan.
Kalau kamu masih bingung harus melangkah ke arah hubungan atau tidak, beberapa hal ini bisa kamu pertimbangkan terlebih dahulu.

Coba jujur pada diri sendiri. Apakah kamu ingin pacaran karena benar-benar siap, atau hanya karena takut tertinggal dari orang lain?
Hubungan yang sehat seharusnya membuatmu merasa nyaman dan dihargai, bukan cemas atau tertekan.
Tidak semua kedekatan harus langsung diberi label. Proses mengenal adalah bagian penting sebelum masuk ke hubungan yang lebih serius.
Hubungan yang baik tidak membuatmu kehilangan identitasmu. Kamu tetap bisa menjadi dirimu sendiri tanpa harus berubah demi diterima.
Menyukai seseorang adalah bagian alami dari masa remaja. Tapi tidak semua perasaan harus langsung berubah menjadi hubungan pacaran.
Pacaran bukan tentang seberapa cepat kamu memiliki seseorang, tetapi tentang seberapa siap kamu menjalaninya.
Kadang, hubungan yang paling sehat justru dimulai dari proses yang tidak terburu-buru, dari saling mengenal, memahami, dan memberi ruang satu sama lain untuk bertumbuh.
Jadi daripada terus bertanya, “Harus pacaran atau nggak?”, coba tanyakan pada dirimu sendiri:
Apakah aku benar-benar siap?
Apakah hubungan ini akan membuatku berkembang, atau justru sebaliknya?
Karena pada akhirnya, hubungan yang sehat bukan tentang status, tetapi tentang bagaimana kamu dan orang tersebut saling menghargai dan memperlakukan satu sama lain.
*****

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.