Majalah Sunday

Jadi Pilih Siapa?

Hidup ini penuh dengan pilihan. Namun, kamu harus hati-hati saat memilih. Karena kamu tidak akan tahu jebakan apa yang siap menghantammu.. saat itu.

***

Gadis itu terus berlari. Napasnya mulai tidak terkontrol. Ia bingung, jalan mana yang harus ia pilih. Bingung, kenapa malam ini jalanan tampak sepi. Sesekali ia berhenti dan menengoki jam tangannya. Pukul 9 malam. Ia membungkuk, kedua tangannya bersandar pada kedua lututnya. Napasnya terengah-engah. Ekspresi wajahnya menampakkan kepanikan, ketakutan, dan kesedihan. Di sisi lain, menunjukkan semangat untuk tetap hidup.

Aku harus selamat, gumamnya.

“Ren!Reni!” begitu teriakan itu terdengar, gadis itu terkejut dan segera berlari lagi. Air matanya yang sudah tidak bisa ditahan, ditumpahkannya dengan deras menyusuri pipi, dagu, hingga menetes ke tanah-tanah beraspal.

Reni berhenti di bawah pohon besar yang rindang. Masih sambil terengah-engah, ia menyenderkan punggungnya pada batang pohon besar itu. Perlahan ia merubah posisi berdirinya menjadi terduduk dengan kedua kaki ditekuk mendekat ke dada. Tampaknya ia sudah sangat lelah karena selama satu jam ia berlari menjauh dari iblis psikopat yang matanya penuh dengan kebencian.

“Salah aku apa?!” Teriaknya dengan emosi yang menggebu, “Mau kamu apa?!” lanjutnya. Air matanya mengalir semakin deras, air mata keputus asaan.

“Ren!” teriak seorang lelaki yang menemukan Reni bersandar pada sebuah batang pohon besar. Reni menatap ke arahnya dan merasa lega karena ternyata yang meneriaki namanya adalah pacarnya sendiri, Reno.

“Renoo.. Reno. Aku takut!” ucap Reni sambil memeluk Reno dengan erat.

“Huss, huss. Aku di sini, Ren. Tenang, ya.”

“Salah aku apa, No?”

“Kamu ngomong apa, sih? Aku nggak ngerti.”

“Dia ngejar aku. Dia mau bunuh aku. Aku takut, No, aku takut,” Reni menjelaskan.

“Dia siapa?” Reni hanya menggeleng dengan ketakutan, air matanya masih mengalir dengan deras membasahi kaus hitam Reno.

Sebagai kekasih, Reno sangat menjaga Reni selama ini. Sepuluh tahun mereka menjalani hubungan hingga akhirnya Reno melamar Reni tepat tanggal hari jadi mereka yang ke sepuluh, 24 Maret 2020. Hari yang istimewa untuk Reni. Siapa sangka setelah Reno melamar kekasihnya itu, Reni mulai merasakan hal-hal ganjil serta teror yang terus menghantuinya. Beberapa kali ia mendapat surat ancaman baik ditulis dalam kertas maupun dikirim via pesan di social media. Reni tidak tahu siapa yang berbuat itu kepadanya. Gila! Ini semua hampir membuatnya gila.

Saat Reno sedang sibuk menenangkan kekasihnya yang tidak henti-hentinya menangis, seorang lelaki dengan jaket hitam serta mengenakan topeng di wajahnya mendekat ke arah mereka. Reni tampak shock melihat laki-laki itu.

“Diaaa.. Diaa..” ucap Reni sambil telunjuknya mengarah ke lelaki itu. Wajah Reni tampak pucat dan ketakutan. Reno menoleh, mengikuti arah telunjuk Reni. Ia tampak terkejut melihat laki-laki yang berdiri hanya berjarak 10 meter dari mereka. Reno melepaskan pelukan Reni dan berdiri, siap menghadapi lelaki yang sudah berani mengganggu kekasihnya.

Lelaki itu tampak percaya diri melepaskan topengnya, tidak takut kalau dua orang di hadapannya itu mengenali dirinya. Reni dan Reno tampak shock setelah mengenali laki-laki bertopeng itu.

“Hai. Lama tidak bertemu,” ucap laki-laki itu sembari tersenyum.

“Alex?”

“Ren, kenapa kamu lari dariku? Bukan aku yang jahat, Ren, tapi dia,” Alex menunjuk ke arah Reno. Reni menoleh ke kekasihnya yang sekarang juga sedang menoleh ke arahnya sambil menggeleng dengan cepat.

“Nggak, Ren. Jangan dengerin dia. Kamu percaya, kan, sama aku?” Reni terdiam bingung. Tidak mengerti maksudnya apa, “Kamu masih dendam karena Reni menolak cintamu, Lex? Kamu kekanak-kanakan sekali.”

“Dendam? Justru aku ingin menyelamatkan Reni dari laki-laki seperti kamu!” Alex menatap Reni dan mencoba mendekatinya, tetapi langkah Reni justru menghindar.

“Mau apa kamu?” halang Reno segera.

“Kamu psikopat gila! Kamu pikir aku tidak tau rencanamu untuk membunuh Reni?” katanya dengan membentak, Alex mengalihkan pandangannya ke arah Reni yang semakin kebingungan, “Bukan aku yang nerror kamu, Ren. Aku justru di sini ingin menyelamatkan kamu karena aku tau siapa psikopat itu!” lanjutnya yang pada kalimat terakhirnya, ia melirik Reno.

“Nggak mungkin! Reno kekasihku. Nggak mungkin!” Ucap Reni sembari memeluk lengan Reno. Alex menatap Reni tidak percaya.

“Coba kamu pikir baik-baik, Ren. Bagaimanapun aku sahabat kamu, aku nggak mungkin melakukan hal jahat ke kamu.”

Perlahan Reni merenggangkan pelukannya pada lengan Reno. Kekasihnya itu tampak terkejut ketika Reni mulai menatapnya ragu.

“Ren, kamu percaya aku, kan, Ren?” tanya Reno sedikit memaksa. Reni memegangi kepala dengan kedua tangannya dan menangis. Kepalanya terasa sakit, ia benar-benar tidak tahu harus percaya kepada siapa. Kekasihnya atau sahabatnya. Ah, maksudnya mantan sahabat. Karena sejak Reni menolak cintanya, mereka tidak lagi bersahabat seperti dulu. Reni mengangkat kepalanya sedikit dan matanya menemukan pistol pada saku celana Alex.

“Kenapa bawa pistol?” tanya Reni. Alex tampak gugup dan segera menyembunyikan pistol itu dengan jaket hitamnya yang cukup panjang. Reno segera mendekat pada kekasihnya, mencoba memberi perlindungan.

“Sudah ku duga kamu ingin membunuh Reni. Aku sudah telpon polisi, mereka akan segera datang dan menangkapmu, biadab!”

“Lex, tolong berhenti,” mohon Reni. Air matanya mengalir dengan deras.

“Bukan, Ren. Bukan aku. Aku membawa pistol ini untuk melin..”

“Ah, banyak omong! Pergi kamu dari sini atau kamu akan mati di dalam penjara!”

Alex tampak ketakutan, bingung. Ia menatap Reni sambil menggelengkan kepalanya mengisyaratkan bahwa bukan dia yang jahat di sini. Alex memberi kode kepada Reni kalau kekasihnyalah yang jahat. Tapi Reni tidak menghiraukannya. Ia tetap bersembunyi di balik tubuh Reno. Ia lebih mempercayai kekasihnya dibandingkan Alex.

Laki-laki dengan jaket hitam itu mulai menyerah untuk membujuk gadis yang nampaknya justru ketakutan melihat dirinya. Ia pun membalikkan badannya dan segera pergi dari tempat itu. Melihat laki-laki itu menjauh, Reni segera memeluk kekasihnya dengan erat. Memeluk pahlawan dalam hidupnya yang sedari tadi tampak cemas dengan keadaannya.

“Kamu baik-baik aja, kan, Ren?” tanya Reno cemas. Reni hanya mengangguk sedangkan pelukannya semakin dibuat erat.

Sangat erattt.. sampai-sampai…

Gadis itu tidak sadar sebuah pisau ditancapkan ke punggungnya. Tidak sadar kalau keringat pada tubuhnya kini bercampur dengan darah segarnya.

“I love you, Ren. Istirahatlah, aku tau kamu lelah,” bisik Reno lembut. Tetapi tangannya terus saja menggoyangkan pisau itu ke punggung Reni. Gadis malang itu terlepas dari pelukan kekasihnya. Ia tersungkur ke tanah sedangkan darah dari punggungnya tidak mau berhenti mengalir. Air mata yang sempat berhenti kembali mengalir tetapi kini lebih sedikit. Bukan karena ia tidak ingin menangis, tetapi karena ia sudah tidak bisa menangis. Penglihatannya semakin pudar, semakin gelap, dan sesaat sebelum ia benar-benar kehilangan kesadarannya, ia melihat dua lelaki berdiri menatapnya tertidur di tanah sedang membincangkan sesuatu.

“Aktingmu bagus juga, Lex.”

“Yahh, meskipun ternyata pisaumu lebih beruntung daripada pistolku. Sial, kenapa aku tidak menaruhnya lebih dalam lagi di sakuku?”

“Hahahaha.”

“Mau kita buang kemana?”

“Terserah yang penting aku menang taruhan, mana duitku?”

 

Cerpen oleh Lina Rufaidah

Universitas Negeri Jakarta

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chat Now
Selamat Datang di Majalah Sunday, ada yang bisa kami bantu?