Penulis: Ingesia Aulia Kamila
Chapter 6: Find The Truth 3
Menyadari keberadaan Tameem yang dalam bahaya membuatku berusaha untuk bangkit, mengabaikan rasa nyilu di bagian pundak, membiarkan Ab dan Daisy menyelesaikan keadaan di sini harusnya tak mengapa, aku percaya mereka akan baik-baik saja, paling parah mereka hanya akan pakai tongkat atau gips ke sekolah.
Aku setengah berlari menuju bagian lain dari gudang baju ini, membuka pintu-pintu pembatas antar ruangan yang ada, berharap menemukan wajah khas timur tengah Tameem di dalamnya.
“Gotcha!!”
Oh, itu bukan suaraku, asalnya dari salah satu ruangan di lantai dua, sepertinya itu suara pria berotot lainnya, ia berhasil menemukan Tameem.
‘Oh, Tuhan, ku mohon selamatkan Tameem‘
Tanpa berpikir panjang, aku melompat ke lantai dua, mengandalkan rangkaian rak-rak besi yang kosong di pinggir ruangan besar ini.
Berlari sekuat tenaga ke ujung, menuju ruangan tempat Tameem berada.
“TAMEEM!!”
Ku lihat Tameem berkeringat dingin dengan kepala di bawah, kakinya dipegang oleh pria brewok berotot itu secara terbalik.
“Lepaskan temanku, pria berbulu monyet” aku menunjuk brewok di wajahnya.
Pria brewok itu terkekeh meremehkan “Berbulu monyet katamu? Kalau begitu kau pisang yang bisa ku remukkan dalam satu kali pukulan,” ia menurunkan Tameem perlahan “Kau tidak mengasikkan, aku akan melawan teman sok jago mu itu saja”
Tameem perlahan mundur, mencari tempat aman.
Pria itu memasang posisi ala petinju berkelas, tangannya dibalut kain putih, mengatur posisi tangannya di atas, di depan wajah.
‘Ah, ini akan jadi pertarungan yang seimbang, tapi sedikit sulit, karena jika ia tau savate ia bisa membaca gerakanku’
Boxing dan savate punya kemiripan, karena pada dasarnya savate sendiri lahir dari gabungan tinju ala barat dan beberapa teknik tendangan, savate lebih banyak menggunakan gerakan kaki dibanding tangan.
Pria brewok itu mulai mendekat, mencoba mempersempit jarak di antara kami.
“Syuttt” Sebuah tinju dengan teknik jab-cross dilayangkan, aku masih bisa menghindar, memiringkan badan dan kembali memperbaiki posisi.
“Bagus juga refleksmu kawan kecil” Pria brewok itu tersenyum “Tapi, setelah ini jangan harap bisa menghindar”.
Pria berotot itu terlihat jauh lebih serius, ia maju, kembali membuat jarak di antara kami tampak sempit di dalam ruangan yang cukup luas ini.
“Syutt” Satu hook melayang ke arah pipiku.
Aku memiringkan kepalaku dengan cepat, menghindar.
Tepat detik selanjutnya tinju pria brewok itu bergerak menuju pundak kananku, aku mundur tergesa-gesa sampai terjatuh.
‘Ah, dia tidak membiarkanku membalas sama sekali‘
Ia maju dengan cepat, mengejar gerakku, tidak membiarkanku bersiap, tepat ketika tubuhku setengah berdiri ia menarik kerah bajuku, meninju pipi kananku. Aku mundur, mempertahankan posisi berdiriku.
Darah segar mengalir dari ujung bibirku, tinjunya sedikit mengenai ujung bibirku, ku rasa pula pipi bagian bawahku berdenyut ‘Sudah pasti aku ketahuan ibu jika seperti ini‘.
“Sudah ku bilang, kau tidak akan bisa menghindar lagi”
Ku usap darah segar di ujung bibirku, tersenyum “Maaf, tapi tidak akan lagi setelah ini” Ku lepas kaca mata hitamku yang anehnya dari tadi tidak lepas saat berkali-kali aku terlempar.
‘Ah, kenapa sulit sekali melepasnya?‘
“Tunggu sebentar pria berbulu monyet”
Belum sempat aku melepas kaca mataku, pria brewok itu lagi-lagi menyerangku, satu jab-cross ia layangkan lagi ke arahku.
“Akhh” Kali ini pukulan itu mengenai dadaku, membuat tubuhku terlempar lagi, menabrak kardus-kardus yang di susun rapi di atas meja dalam ruangan.
Kepalaku rasanya juga terasa berat, seperti menghantam sesuatu yang keras.
Gelap, ah sepertinya pertarungan ini tidak akan berakhir cepat, semoga Ab dan Daisy berhasil di tempat lainnya.
Sunyi, aku tahu kali ini aku sudah tidak lagi berada di alam yang sama.
Sebuah cahaya terlihat di ujung, diikuti suara sorak sorai anak-anak kecil, aku berjalan mengikuti cahaya itu, sebuah taman bermain terlihat, sangat ramai, anak-anak kecil bermain balon, berlarian saling mengejar satu sama lain, orang tua mereka tersenyum, sesekali tertawa dan berteriak, menegur agar mereka berhati-hati agar tidak menabrak orang dewasa yang lewat. Aku familiar dengan keadaan ini, seperti deja vu.
Seorang pria dengan topi cowboy menghampiriku.
“Hai, kau pasti Heaven” Ia jongkok, membuat tingginya sejejer denganku.
Menyadari hal itu aku mencoba melihat tinggiku lewat pengukur tinggi badan di samping, tepat di sampingnya lagi pintu masuk menuju wahana perahu terbang.
‘Ah, apa ini mimpi kembali ke masa lalu?’
Diriku refleks mengangguk, sedikit terlambat merespon pertanyaan pria dengan topi cowboy di depanku.
Ia kemudian tersenyum, kembali berdiri kemudian menepuk pundakku dan beranjak meninggalkanku.
Aku pun begitu, tidak kembali bertanya siapa dia dan tak memanggilnya, hanya terdiam, melihatnya menghilang di antara kerumunan manusia dalam taman bermain ini.
“Heaven! Heaven!”
Samar-samar ku dengar suara ibu memanggilku.
‘Ah, apa aku sudah kembali?‘
To be continued ~
*****
Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, tips belajar dan cerita cinta hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.