Penulis: Junandar Yudistira – Bina Sarana Informatika
Gotong royong merupakan budaya Indonesia yang mengajarkan pentingnya kebersamaan dan kepedulian. Namun, apakah gotong royong masih relevan bagi generasi muda di era modern? Di tengah perubahan zaman, nilai kebersamaan perlu tetap dijaga agar tidak hanya menjadi tradisi, tetapi juga diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Gotong royong merupakan budaya Indonesia yang mengajarkan kerja sama dan kepedulian. Contohnya adalah kerja bakti, membantu tetangga yang kesulitan, atau bekerja sama mempersiapkan acara kampus.
Penelitian Miyatun (2022) membahas pentingnya peran tokoh masyarakat dan kesadaran generasi muda dalam menjaga nilai gotong royong melalui tradisi sinoman di Bantul. Hal ini menunjukkan bahwa budaya gotong royong perlu dipelihara melalui keterlibatan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Keduanya sama-sama melibatkan banyak orang, tetapi memiliki tujuan berbeda. Gotong royong bertujuan membantu dan memberikan manfaat, sedangkan keroyokan biasanya merujuk pada tindakan menyerang seseorang secara beramai-ramai.
Misalnya, membantu teman yang kesulitan merupakan bentuk kepedulian. Namun, jika pembelaan berubah menjadi tindakan menghina atau menyerang orang lain, kebersamaan tersebut justru menimbulkan masalah.
Karena itu, solidaritas harus disertai tanggung jawab dan tidak sekadar mengikuti tindakan kelompok..
Gotong royong membutuhkan komunikasi yang baik agar setiap orang bisa berbagi tugas, menyampaikan pendapat, dan menyelesaikan masalah bersama.
Dalam kegiatan kampus, misalnya, perbedaan pendapat bisa memicu konflik jika setiap anggota hanya ingin menang sendiri. Dengan saling mendengarkan dan menghargai pendapat, pekerjaan akan lebih mudah diselesaikan.
Di era digital, gotong royong tidak harus dilakukan secara langsung. Penggalangan dana daring dan penyebaran informasi bantuan melalui media sosial juga dapat menjadi bentuk kepedulian.
Penelitian Iqbal (2025) membahas perubahan gotong royong menjadi gerakan digital yang melibatkan anak muda Indonesia. Salah satu contoh yang dibahas adalah platform Bagirata untuk membantu pekerja terdampak pandemi.
Meski begitu, kita tetap perlu memeriksa kebenaran informasi sebelum menyebarkannya agar bantuan yang diberikan tepat sasaran.
Gotong royong bisa dimulai dari hal sederhana, seperti membantu teman, menjaga kebersihan lingkungan, dan mengikuti kegiatan sosial. Kita juga perlu berani mengingatkan kelompok ketika tindakannya mulai merugikan orang lain.
Jadi, Sunners, gotong royong bukan sekadar bekerja bersama, tetapi menggunakan kebersamaan untuk menciptakan manfaat. Yuk, mulai dari lingkungan terdekat dan jadikan kepedulian sebagai kebiasaan sehari-hari!
Gotong royong bukan sekadar tradisi, melainkan nilai kebersamaan dan kepedulian yang perlu dijaga. Di tengah kehidupan modern, generasi muda dapat menerapkannya secara langsung maupun melalui media digital. Yang terpenting, kebersamaan harus membawa manfaat, bukan merugikan orang lain.
Jadi, Sunners, yuk mulai menerapkan gotong royong dari hal-hal kecil di sekitar kita. Sebab, perubahan positif bisa dimulai ketika kita mau peduli dan bergerak bersama.
*****

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.