Penulis: Daneen Kalea Alesha Waas – President University
Sunners, sebagai remaja, pasti pernah muncul rasa penasaran tentang seksualitas dan bagaimana organ reproduksi kita bekerja.
Tapi nggak jarang kan, kalau kita tanya, rasa penasaran kita dianggap kotor dan tabu. Padahal kita benar-benar ingin tahu tanpa maksud tertentu. Dampaknya, kita jadi malu atau segan untuk bertanya mengenai sex education atau edukasi seksual.
Sex education atau edukasi seksual adalah proses pembelajaran mengenai kesehatan reproduksi, hubungan seksual, serta aspek sosial dan emosional mengenai seksualitas.
Lebih lengkapnya, kita nggak cuma belajar tentang berhubungan seksual yang aman dan sehat, tapi juga belajar tentang perubahan fisik, emosional, dan psikologis, menghargai batasan pribadi dan orang lain, serta kesehatan mental.

Di Indonesia, edukasi seksual masih sering dianggap tabu, nggak cocok dengan budaya Timur dan aturan agama. Secara garis besar, semua agama yang diakui di Indonesia (Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, Konghucu) setuju bahwa manusia nggak boleh melakukan hubungan seksual sebelum menikah. Terutama di Indonesia di mana mayoritas penduduknya beragama Islam, hubungan seksual sebelum menikah dianggap sebagai zina dan merupakan dosa besar.
Karena stigma tabu yang masih melekat, para orang tua jadi enggan membahas lebih dalam mengenai pubertas dan edukasi seksual. Sebuah studi dari Universitas Indonesia di tahun 2019 menemukan bahwa stigma tabu ini membuat komunikasi antara ibu dan anak mengenai kesehatan seksual dan reproduksi jarang dilakukan. Kenapa begitu? Karena para ibu yang menganggap bahwa membahas perubahan tubuh saat pubertas atau konsekuensi melakukan hubungan seksual nggak sesuai dengan budaya Indonesia. Sementara sang anak bisa jadi masih kebingungan tentang apa yang bisa terjadi di tubuhnya.
Bahkan hingga sekarang, banyak yang beranggapan bahwa edukasi seksual sama dengan membahas pornografi dan dapat mendorong remaja untuk melakukan hubungan seksual sebelum waktunya. Meski di Indonesia ada Kementerian Kesehatan (Kemenkes) yang merancang beberapa modul edukasi seksual dan kesehatan reproduksi, aksesnya belum merata ke seluruh pelosok sehingga masih banyak yang belum terpapar edukasi seksual yang tepat dan terarah. Guru-guru yang mau mengedukasi tentang topik ini juga kerap dicap negatif dan dianggap akan membawa pengaruh buruk.
Sementara di budaya Barat, topik seksualitas dan edukasi seksual lebih terbuka untuk didiskusikan sehari-hari. Dilansir dari Study International, Belanda memegang posisi nomor satu sebagai negara dengan edukasi seksual terbaik, di mana secara hukum setiap siswa wajib menerima edukasi seksual dengan topik anatomi tubuh, pubertas, penyakit menular seksual, dan orientasi seksual. Karena tersedianya edukasi yang menyeluruh, Belanda menjadi salah satu negara dengan tingkat kehamilan pra-nikah dan penyakit menular seksual terendah di dunia.
Meski sekarang informasi tentang edukasi seksual dapat dicari melalui internet, kita tetap harus mendapatkan ilmunya secara terarah dari orang yang lebih paham. Misalnya, melalui bimbingan guru, orang tua, dokter, atau psikolog.
Justru jika kita nggak menerima edukasi seksual yang tepat, banyak risiko yang akan kita dapatkan bahkan hingga ke generasi selanjutnya. Mulai dari nggak tahu cara menjaga kesehatan organ reproduksi, terlibat dengan pergaulan bebas, hingga terpapar penyakit atau kehamilan yang nggak diinginkan.

Edukasi seksual yang tepat nggak harus jadi hal yang tabu dan kotor, kok! Dengan menerima edukasi seksual, kita bisa mendapatkan informasi yang berguna dan terarah mengenai seksualitas sebagai bagian dari cara kerja tubuh. Serta membentuk karakter yang percaya diri, bertanggung jawab, dan menghormati orang lain.
*****

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.