Majalah Sunday

Cinta yang Salah

Menghibur senja mungkin bukanlah keahlianku, karena seringkali senja yang menghibur dan menenangkanku. Hari ini senja begitu kusut, gelap dan tak bergairah, ogah-ogahan menampakkan dirinya. Meski tahu begitu, apa dayaku? Aku hanya bisa merasakan sendunya tapi tak mampu menghiburnya. Aku berjalan menyusuri pasir putih yang menyentuh lembut kakiku, aku berjalan menemani sendunya senda. Seraya berjalan sudut bibirku terangkat, membentuk sebuah senyuman kecil di wajahku. Aku tersenyum pada pernyataan yang diutarakan oleh benakku beberapa detik lalu “Aku berjalan menemani sendunya senja”. Entah apa yang aku pikirkan, bisa-bisanya aku berpikir bahwa aku yang sedang menemani senja. Aku tersenyum karena aku merasa sangat naif. Bahkan pada senja yang tak mampu menghakimi atau mengeluarkan suara pun aku malu mengakui bahwa diriku yang sedang ditemani oleh senja dan butuh ditemani. 

Di dunia yang tidak selalu baik ini, seringkali hatiku tergores dan membuatku takut melakukan suatu hal. Bahkan goresan dan luka itu kadang membuatku takut menjadi diriku sendiri. Itu sebabnya aku berada di sini, memandangi senja, mendengar senandung deburan laut diwarnai suara burung laut, dan membiarkan kakiku menikmati butiran pasir. Aku pergi meninggalkan mereka yang berada di ruang remang yang dipenuhi orang dan suara musik yang hampir memecahkan gendang telingaku. Bukan tak ingin bercengkrama dengan mereka, bukan juga tidak ingin bergaul atau berbaur dengan mereka. Tapi jika aku memaksakan diri untuk berada disana, pada akhirnya mereka semua akan mempertanyakanku yang hanya duduk di sudut ruangan. Bahkan kadang mereka menjadikanku bahan lelucon atau melihatku dengan tatapan yang tak bisa ku artikan. Bibir mereka membentuk senyum tapi bukan senyuman yang ramah, melainkan senyum merendahkan.

Aku duduk sejenak menikmati hembusan angin dan deburan ombak yang memberi ketenangan bagi jiwaku. Kupeluk kedua kakiku dan mataku memandang lurus kelautan yang manari sedikit lebih ganas dari sebelumnya. Pikiranku kembali diserang oleh pertanyaan-pertanyaan yang memenuhi benakku. Sampai kapan aku harus begini? Apakah aku masih layak berada di antara mereka? Sebenarnya apa tujuanku hingga aku bisa sejauh ini? Apakah ini memang menggambarkan diriku sendiri? Apakah ini aku yang sebenarnya? Di sinikah tempatku yang sebenarnya? 

Pertanyaan itu memburuku yang membuatku menghela nafas panjang di tengah hamparan pasir yang luas, bahkan untuk beberapa saat aku menghiraukan suara deburan ombak dan suara burung laut yang sedang bersahutan. Kusembunyikan wajahku diantara kaki yang sedang kupeluk, seolah ingin mencoba memberi fokus untuk menjawab pertanyaan yang menyerbu diriku sendiri. Perlahan air mataku mengalir membasahi pipiku. Air mata yang keluar karena sesak yang memenuhi benakku tapi enggan untuk kujawab sendiri meski sudah tau jawabannya. 

Sekilas wajah sang pujaan hati terlintas memenuhi bayanganku dan membuat air mataku semakin mengalir deras. Perlahan bayangan wajahnya membawaku pada awal aku mengenalnya yang membuatku sangat ingin dekat dengannya. Tuturnya yang sangat baik, tindakan yang selalu membuatku senang dan cara dia melihatku tak seperti tatapan orang lain kepadaku. Saat orang lain hanya melihatku sebagai orang aneh, tapi saat itu tatapannya begitu hangat. Semuanya berubah sejak saat itu. Tak kusangka  kehidupanku akan berubah sedrastis ini  demi menaklukkan hatinya. 

Kembali kutegakkan tubuhku dan kutepis sisa-sisa air mata dipipiku dengan perlahan. Sudah begitu lama ternyata aku lari dari diriku sendiri. Mengejar sesuatu yang tak pernah melihatku hingga aku pergi jauh meninggalkan diriku sendiri. Tak kusangka tatapannya itu dia berikan ke semua orang, tutur katanya pun demikian, dia memang baik kesemua orang. Tak kupedulikan batinku yang kian hari kian terluka dan jati diriku yang kian hari kian terkikis demi memenangkan hatinya. Sudah lama ternyata aku merasa tidak nyaman dengan diriku sendiri demi membuat nyaman sang pujaan hati. 

Dari awal aku sudah tau ini bukan duniaku, tapi aku mencari pembenaran dan berkata aku hanya sedang menutup diri. Aku mencari alasan untuk membenarkan setiap perubahan dalam diriku hanya untuk terlihat di matanya. Aku berdiri dari duduk dan berjalan kembali menuju penginapan bersamaan dengan surya yang juga terlihat akan hilang. Kepalaku tertunduk lemah dengan langkah kaki yang penuh keputusasaan tanpa melihat arah jalan yang sedang aku tapaki. Perlahan cahaya senja tergantikan oleh cahaya lampu-lampu penginapan juga hiasan-hiasan yang memenuhi pinggiran pantai. Sesekali kutendang pepasiran yang tak berdosa untuk meluapkan isi hatiku yang sedang kacau. Saat berjalan pun pikirku tak tenang, masih diserbu pertanyaan yang sama yang membuatku kian terpuruk.

Seolah angin laut turut menyadarkanku, kuangkat kepalaku dan kutatap lurus kearah laut yang tanpa ujung. Batinku bergumam mengapa aku begitu jahat pada diriku sendiri untuk mendapatkan cinta dari orang yang bahkan tak pernah melirikku sebagai sosok yang pantas dijadikan kekasih. Bahkan setelah berjuang hingga aku kini  menjadi sosok orang lain, bahkan setelah aku menipu diriku sendiri dan orang lain aku tetap tak bisa mendapatkan hatinya. Seolah aku merasa seluruh dunia sedang menolakku saat ini. Bahkan aku sendiri tak bisa menerima diriku sendiri saat ini. Ini jelas bukan diriku sendiri, aku tidak nyaman dengan keadaan ku yang sekarang tapi aku bertahan kalau-kalau perasaannya akan berubah kepadaku. Namun benakku berulang kali mengatakan bahwa dengan menjadi orang yang bukan diriku sendiri, kalaupun suatu saat pujaan hatiku akan melihatku sebagai wanita, itu semua hanya akan menjadi kisah sesaat karena semuanya sudah diawali oleh kebohongan dan kepalsuan. Aku kembali menundukkan kepalaku setiap kali benakku menjawab dan logikaku mendapatinya benar tapi perasaanku seolah tak ingin mendukung logikaku.

Setelah beberapa lama bergelut dengan diriku sendiri, aku tiba pada keputusan setidaknya jika orang yang kusayang tak bisa menyayangi diriku yang sebenarnya, aku harus menemukan seseorang yang bisa menerimaku sebagaimana aku adanya dan memberi ketenangan bagi jiwaku. Aku mendapati dia adalah diriku sendiri. Aku tau aku nyaman harus bagaimana, aku tau siapa diriku yang sebenarnya, dimana tempat yang membuatku tenang. Aku bahkan menyimpulkan bagaimana bisa orang lain mencintaiku sementara aku sendiri belum tahu cara mencintai diriku sendiri. Bagaimana bisa aku mengubah segala penampilanku untuk membuat orang lain nyaman melihatku, sementara hatiku dan tubuhku tidak nyaman dengan diriku sendiri. Betapa egoisnya perasaanku pada dia hingga  aku lupa menjaga perasaanku sendiri.

Setelah terdiam beberapa saat memandangi laut dengan benak yang mencoba mencari jawaban, seolah mendapat titik terang aku kembali ke penginapanku, membersihkan diri aku membenahi semua barangku kedalam koper. Aku memutuskan untuk meninggalkan kehidupan yang bukan kehidupanku ini. Aku akan pulang keesokan pagi dan aku ingin kembali menjadi diriku sendiri. Menjadi perempuan biasa yang lebih menyukai kehidupan rumah, perjalanan ke alam melakukan hal yang membuatku senang daripada sibuk menyiksa diri dan melakukan hal yang tidak kusukai demi terlihat sama dengan lelaki yang bahkan tak pernah melihatku.    

 

Penulis: Doras Sinambela, Universitas Kristen Indonesia

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chat Now
Selamat Datang di Majalah Sunday, ada yang bisa kami bantu?