WeCreativez WhatsApp Support
Hai, Sunners... Mimin di sini!
Mau ngobrolin apa nih?

Cinta Tidak Selalu Membutuhkan Sosok Konkrit

Hi Sunners! Menurut kalian, apa sih itu cinta?

Definisi cinta bisa jadi sangat beragam bagi setiap individu, mengingat bahwa cinta dapat diterapkan untuk beberapa hal.

Dalam kamus besar bahasa indonesia cinta memiliki arti suka sekali; sayang benar. Dari pengertian tersebut tidak diterangkan untuk siapa cinta itu diterapkan?. Maka, sah-sah saja bahwa cinta tidak perlu membutuhkan hal yang konkrit. Pada dasarnya cinta itu dirasakan maka, memang tidak masalah bukan bila cinta tidak memiliki hal yang konkrit, bukan? saya mengambil contoh cerita cinta yang dialami oleh tokoh Maharani dalam cerpen Pacar Seorang Seniman karya W.S Rendra. 

Mari kita lihat bagaimana kisah mereka dengan menggunakan teori Naratologi, analisis tatanan riwayat. Melalui analisis tataran riwayat kita dapat melihat siapa tokoh dalam cerita, bagaimana alur di dalamnya dan apa yang terjadi pada cerita tersebut.

Pacar Seorang Seniman by W.S. Rendra

Pertama, cerpen ini menggambarkan sosok perempuan yang bernama Maharani, ia ditinggal untuk selama-lamanya oleh kekasihnya, Mas Har. Selama kepergian itu pula, Maharani menolak semua lamaran yang ia terima. Keluarganya pun khawatir Maharani akan menjadi perawan tua. Pada suatu hari, Maharani menceritakan semuanya, mengenai dirinya dengan Mas Har kepada saudara laki-lakinya melalui balasan surat yang sebelumnya dikirimkan oleh kakaknya. Maharani menceritakan segalanya, bagaimana pertemuannya dengan Mas Har, bagaimana ia akhirnya mengetahui perasaan apa yang sebenarnya ia miliki untuk Mas Har, dan alasan mengapa ia tak membutuhkan sosok lelaki lain dalam hidup. Dalam surat itu Maharani menceritakan bagaimana untuk pertama kalinya, Mas Har dan dirinya mengetahui bahwa mereka mempunyai rasa cinta yang sama, saat itu pula Maharani mendapatkan ciuman dan pelukan yang pertama serta yang terakhir kalinya dari Mas Har. Momen tersebutlah yang terus berkesan untuk Maharani, momen tersebut terus terasa hangat oleh Maharani, momen tersebut pula yang membuatnya cukup untuk dapat terus mencintai Mas Har. Walau ia sadar, Mas Har takkan pernah kembali atau bahkan hidup kembali. 

Dalam cerpen ini, Momen dengan Mas Har memiliki konsep oposisi biner. Dimana sosok Mas Har sebanding dengan momen yang dirasakan Maharani. Walau tidak ada lagi wujud Mas Har yang sesungguhnya, Maharani tetap dapat merasakan cintanya. Cukuplah bagi Maharani mengingat momen tersebut dengan begitu ia selalu merasakan kehadiran Mas Har serta cintanya Mas Har.

hands formed together with red heart paint

Namun, hal ini menjadi masalah bila terjadi di ruang lingkup masyarakat yang dimana mereka terbiasa melihat cinta dengan sosok konkrit. Padahal, pengertian dari cinta itu berwujud rasa. Rasa tentu saja hanya dapat dirasakan oleh pelakunya untuk membuatnya menjadi hal konkrit bisa saja melalui dengan tindakan atau mengungkapkannya dengan hal yang konkrit pula.

Seperti cerita dalam cerpen ini. Rasa yang dimiliki Maharani terhadap Mas Har tentu hanya dia yang bisa merasakan itu. Kehidupan Maharani baik-baik saja walau tanpa ada sosok konkrit Mas Har. Ia mampu menolak cinta-cinta yang lain karena ia masih sangat merasakan cintanya Mas Har terhadap dirinya. Rasa itu juga terus menguat ketika dirinya mengingat kembali bagaimana kenangan yang pernah ia buat dengan Mas Har. Ketika ia mengingat itu, ia mengingat pula adanya sosok Mas Har.

pink flower

Cinta memang dirasakan, dibuktikan dengan tindakan dan disimpan melalui kenangan. Namun, cinta merupakan rasa yang tersimpan dalam jauh dari campur tangan makhluk lain. Maka dari itu, cinta merupakan hakikat setiap individu di muka bumi yang rasanya tak pernah ada yang mengetahui. Wujudnya berbeda-beda, terkadang memiliki wujud yang tak terduga atau bahkan  dia hanyalah sebuah kenangan. Maka, apakah Sunners setuju bahwa cinta tidak selalu membutuhkan sosok konkrit?

 

Luthfiah El Khairunnisa- Universitas Negeri Jakarta

 

Leave A Comment