Penulis: Tasya Rahma Putri – Universitas Indonesia
Masih ingat siapa orang pertama yang pernah membuatmu salah tingkah saat berpapasan di koridor sekolah? Atau seseorang yang namanya dulu selalu kamu tunggu muncul di notifikasi ponsel? Mungkin kamu pernah mengalami cinta diam-diam, menjalani hubungan singkat, atau menyimpan perasaan kepada teman sendiri tanpa pernah mengungkapkannya. Bisa jadi, dialah sosok yang menjadi bagian dari cerita cinta pertama kamu.
Pengalaman seperti ini kerap meninggalkan kesan tersendiri. Cinta pertama yang dialami pada usia sekolah begitu membekas karena menjadi pengalaman awal dalam mengenal ketertarikan hingga patah hati. Bahkan, setelah bertahun-tahun berlalu, kenangan tentang seseorang muncul kembali hanya karena mendengar lagu atau melewati tempat yang pernah dikunjungi bersama.
Namun, seiring bertambahnya usia, prioritas hidup turut berubah. Hubungan yang dahulu terasa cukup dengan perhatian dan kebersamaan, misalnya, mungkin membutuhkan pertimbangan yang lebih matang ketika mulai memasuki usia dewasa.
Lantas, benarkah cinta pertama memang sulit dilupakan?
Ketika mendengar istilah first love atau cinta pertama, sebagian orang mungkin langsung membayangkan pacar pertama. Padahal, keduanya tidak selalu merujuk pada pengalaman yang serupa.
Pacar pertama merupakan orang yang pertama kali menjalin hubungan romantis dengan kita. Pengalaman ini dapat berawal dari rasa penasaran, ketertarikan, pengaruh lingkungan pertemanan, atau keinginan untuk merasakan bagaimana rasanya memiliki pasangan. Tidak semua hubungan pertama langsung melibatkan kedekatan emosional yang mendalam.
Sementara itu, cinta pertama lebih berkaitan dengan pengalaman ketika seseorang untuk pertama kalinya merasakan ketertarikan dan kedekatan yang begitu berarti. Perasaan tersebut dapat muncul kepada pacar pertama, seseorang yang disukai diam-diam, teman dekat, bahkan orang yang tidak pernah mengetahui keberadaan perasaan kita.
Dengan demikian, cinta pertama tidak selalu harus berakhir dalam sebuah hubungan. Ada kalanya, seseorang justru mengingat orang yang tidak pernah benar-benar menjadi miliknya karena pengalaman tersebut terasa begitu berarti.

Pernahkah kamu tanpa sadar mengharapkan pasangan bersikap seperti cinta pertamamu? Setiap orang tentu memiliki pengalaman yang berbeda saat jatuh cinta untuk pertama kalinya. Ada yang mengingatnya karena perhatian sederhana, ada yang terkesan dengan keberanian mengungkapkan perasaan, dan ada pula yang menjadikannya pembelajaran.
Terkadang, kenangan cinta pertama muncul kembali bukan karena kita masih ingin bersama orang tersebut, tetapi lebih kepada kesan yang masih kita ingat. Beberapa hal berikut ini mungkin juga pernah kamu rasakan.
Saat pertama kali jatuh cinta, hal-hal sederhana, misalnya pesan selamat pagi, perhatian kecil, atau percakapan sebelum tidur terasa sangat istimewa. Karena belum memiliki banyak pengalaman pembanding itulah yang menjadikan momen-momen tersebut sebagai gambaran awal tentang romantisme.
Pernah merasa pasangan saat ini kurang romantis karena caranya menunjukkan kasih sayang berbeda dari cinta pertama? Hal ini bisa terjadi ketika kita mulai membandingkan hubungan yang sedang dijalani dengan pengalaman sebelumnya.
Seiring waktu, kita mungkin lebih mudah mengingat momen menyenangkan daripada konflik atau alasan hubungan tersebut berakhir. Akibatnya, sosok cinta pertama bisa terasa lebih sempurna daripada kenyataannya.
Pengalaman dalam hubungan sebelumnya juga dapat memengaruhi cara seseorang membangun kedekatan dengan pasangan baru. Hubungan yang dipenuhi rasa aman dan komunikasi terbuka, misalnya, membantu seseorang merasa lebih nyaman untuk mempercayai orang lain.
Sebaliknya, pengalaman penolakan, konflik, atau hubungan yang menyakitkan mungkin membuat seseorang lebih berhati-hati ketika mulai membuka diri. Meski begitu, pengalaman cinta pertama bukan satu-satunya faktor yang membentuk pola hubungan seseorang. Lingkungan keluarga, pertemanan, dan pengalaman hidup lainnya juga dapat berperan.
Hubungan yang dijalani saat cinta pertama di masa sekolah dan ketika sudah dewasa memiliki kebutuhan yang berbeda. Salah satu faktornya adalah ketika kehidupan masing-masing mulai berganti ke arah yang berbeda.
Pada masa sekolah, hubungan romantis kerap kali banyak diwarnai keinginan untuk selalu menghabiskan waktu bersama. Bertemu saat istirahat, pulang sekolah bersama, atau bertukar pesan sepanjang hari mungkin sudah terasa cukup.
Ketika memasuki usia dewasa, hubungan dapat melibatkan pertimbangan yang lebih luas. Kecocokan nilai hidup, cara menyelesaikan masalah, kemampuan berkompromi, hingga pandangan mengenai masa depan mulai menjadi hal yang perlu dibicarakan, seiring bertambahnya kedewasaan dan tanggung jawab.
Peralihan dari sekolah menuju kuliah atau dunia kerja membawa pengalaman baru. Seseorang mulai mengenal lingkungan pertemanan yang lebih luas, menentukan pilihan pendidikan atau karier, dan belajar mengatur kehidupannya sendiri.
Perubahan tersebut memengaruhi waktu dan perhatian yang diberikan kepada pasangan. Hal yang dahulu mudah dilakukan bersama mungkin menjadi lebih sulit karena kesibukan dan tanggung jawab masing-masing.
Jika kedua orang tidak lagi memiliki prioritas atau harapan yang sejalan, hubungan pun bisa menghadapi tantangan yang semakin besar.

Tidak semua hubungan berakhir karena hilangnya rasa sayang atau adanya kesalahan salah satu pihak. Ada pula hubungan yang selesai karena kedua orang mulai memiliki tujuan hidup berbeda.
Misalnya, satu orang ingin melanjutkan pendidikan di kota lain, sedangkan pasangannya memilih langsung bekerja. Perbedaan pilihan tersebut kemudian memengaruhi rencana hubungan mereka, terutama jika belum menemukan cara untuk menyelaraskan kebutuhan masing-masing.
Pada akhirnya, dua orang yang dahulu merasa cocok belum tentu memiliki kesiapan atau tujuan yang sama untuk melanjutkan hubungan.
Mengingat tentang kisah cinta pertama bukanlah sesuatu yang harus dihindari. Namun, ada beberapa hal yang bisa dilakukan agar masa lalu tidak terus-menerus menjadi tolok ukur dalam menjalani hubungan saat ini.
Ketika tiba-tiba mengingat cinta pertama, cobalah tanyakan kepada diri sendiri apakah benar masih merindukan orang tersebut, atau justru merindukan perasaan saat pertama kali jatuh cinta. Bisa jadi, yang dirindukan adalah antusiasme rasa berdebar saat bertemu atau masa ketika tanggung jawab hidup belum terasa sebanyak sekarang sehingga memahami perbedaan ini dapat membantu kita melihat kenangan dengan lebih jernih.
Selain itu, penting untukmu berhenti menjadikan masa lalu sebagai tolok ukur. Jadikan pengalaman tersebut sebagai pelajaran dan bukan penjara. Setiap pengalaman, termasuk hubungan yang tidak berakhir sesuai harapan, dapat memberikan pelajaran berharga tentang cara memahami dan menentukan hal-hal yang penting dalam sebuah hubungan asmara.
Cinta pertama boleh saja tetap menjadi kenangan, tetapi bukan berarti kita harus terus hidup di dalamnya. Pengalaman tersebut sebaiknya cukup menjadi bagian dari proses mengenal diri sendiri sebelum membangun hubungan yang lebih matang.
Lantas, benarkah cinta pertama sulit dilupakan? Jawabannya berbeda bagi setiap orang. Ada yang masih mengingatnya karena pengalaman tersebut begitu berkesan, ada pula yang hanya mengingat pengalaman tersebut tanpa lagi menyimpan perasaan yang sama.
Cinta pertama memang dapat meninggalkan kesan yang kuat karena menjadi salah satu pengalaman awal dalam mengenal kedekatan romantis. Namun, tidak semua orang akan mengalami kesulitan melupakannya.
Perubahan prioritas atau pilihan hidup yang tidak lagi sejalan dapat menjadi alasan dua orang memutuskan untuk berpisah. Pada akhirnya, memiliki kenangan indah bersama seseorang tidak menjamin bahwa keduanya harus terus berjalan berdampingan.
Jadi, bagaimana denganmu, Sunners? Apakah cinta pertama masih menjadi sosok yang sesekali kamu rindukan, atau kini hanya menjadi bagian dari cerita masa sekolah yang kamu kenang sambil tersenyum?
*****

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.