Majalah Sunday

Sebuah Cerpen - Bintang yang Berusaha Terang di Tengah Hujan

Penulis: Lubna Apdria Kuwaysa – SMKN 48 Jakarta

Hari pengambilan raport tiba dan semua siswa terlihat tak sabar untuk melihat nilai hasil pembelajaran mereka. Reaksi mereka bermacam-macam, ada yang senang karena nilai tinggi, ada yang murung karena nilai mata pembelajaran yang dirasa kurang, dan ada juga mereka yang merasa biasa saja karena mereka menganggap mereka sudah berusaha semaksimal mungkin.

Nadya adalah salah satu dari mereka yang merasa biasa saja dengan hal itu. Dirinya memang terlihat santai namun meski begitu dia juga berusaha semampunya saja. Mottonya? “Selama aku tidak berbuat kriminal, maka aku akan baik-baik saja.”

Menurutnya, nilainya cukup memuaskan dan tidak lebih rendah dari kriteria minimum. Dia tidak datang sendiri melainkan bersama ibunya. Nadya hanya diam melihat ibunya yang mengecek setiap angka yang tercetak di selembar kertas raport itu. 

“Gimana,Bu?” Nadya bertanya pada ibunya yang fokus pada raport nya, “Nila Nadya masih aman, kan?’ Nadya sendiri bahkan belum melihat nilai raportnya karena kertas itu sudah langsung digenggam oleh sang ibu.

Ibunya awalnya diam, sebelum menghela nafas dan menjawab pertanyaannya, “Aman, sih…” Ada keraguan di balik nada bicara ibunya sebelum melanjutkan, “Nad, kamu yakin nilai kamu mau segini-gini aja?”

“Maksudnya, Bu?” Nada bicara Nadya kali ini terdengar waspada. Tubuhnya dia dekatkan pada ibunya untuk melihat raportnya. Nadya tidak merasa ada yang salah dengan nilainya, justru ada beberapa peningkatan di mata pelajaran kesukaannya seperti Bahasa Inggris dan Seni Budaya. 

“Kayaknya nilai Nadya ada peningkatan di sini, deh.” Nadya menunjuk kearah mata pelajaran kesukaannya. Dia tidak mengerti, kenapa ibunya menanyakan hal seperti itu padanya, “Ada yang salah dengan nilai Nadya?”

“Menurut ibu sih engga, ya,” sang Ibu menjawab sebelum meneruskan, “Tapi peningkatan nilainya ini yang menurut ibu kurang srek aja, gitu,” wanita itu sekarang melihat ke arah Nadya, “Kamu ini udah mau kelas tiga, Nad. Kamu harus lebih tingkatkan lagi nilai kamu, apalagi di mata pelajaran utama.”

Ibunya menunjuk ke beberapa mata pelajaran,”Ibu akui nilai kamu bagus tapi nanggung banget. Kalau bisa semua mata pelajaran  kamu itu ditingkatkan lagi nilainya. Kalau bisa, Ibu mau kamu dapat ranking satu biar ibu tahu kalau kamu itu benar-benar berusaha karena selama ini usaha kamu itu ga membuktikan apa-apa untuk ibu.”

Nadya terdiam mendengar ucapan ibunya, hatinya sedikit sakit karena ucapan ibunya yang dianggap merendahkan Nadya. Namun Nadya tak bisa membalas ucapan ibunya karena dia tidak mau mengundang pertengkaran dengan ibunya. Dia hanya bisa mengangguk dan menganggap jika ucapan ibunya hanya angin yang lewat. 

Nadya hanya bisa melihat tanpa bisa berkata apapun
Nadya hanya menunduk setelah mendengarkan perkataan Ibunya.

Beberapa bulan sudah terlewat namun ucapan ibunya selalu terbayang-bayang di benak Nadya. Dia merasa jika ucapan ibunya benar, dia memang tidak terlalu ahli dalam hal-hal akademik. Bakat melukis Nadya pun juga sebatas untuk mengisi waktu luang, bukan keahlian semata. 

“Aku rasa ibu benar,” Nadya menatap tangannya dengan tatapan sendu, “Kayaknya aku harus lebih berusaha agar nilai-nilaiku naik semua. Kalau nilaiku naik semua, aku bisa mencapai ranking satu.”

Sekarang Nadya sedang ada di kamarnya, berpaut dengan buku-buku pembelajaran yang berserakan di mejanya. Minggu depan akan dilaksanakan Ujian Akhir Semester (UAS) semester dua dan disitulah kesempatan Nadya untuk bisa meningkatkan nilainya dan membuktikan kepada ibunya jika dia bisa meningkatkan nilainya dan membuat sang ibu bangga padanya.

Nadya menghela nafas, mempersiapkan dirinya untuk belajar. Di genggamnya pensil itu dengan cukup erat dan satu buku catatan 

Nadya mulai dengan pelajaran Matematika, pelajaran yang lumayan sulit untuk dikuasai. Dia menghafal setiap rumus, mencatat model Matematika, dan melatih dirinya dengan latihan soal yang rumit. Nadya yakin kali ini usahanya akan berhasil.

Tidak hanya Matematika, dia juga mempelajari pelajaran Bahasa Indonesia yang menurutnya cukup rumit di struktur kata dan imbuhan. Sesekali dia juga mengerjakan soal-soal yang terdapat paragraf agar dia bisa meningkatkan kemampuan literasinya. 

‘Aku yakin dengan ini ibu pasti akan bangga padaku!’

Nadya belajar dengan giat, banyak buku yang sudah dibaca, banyak rumus yang sudah dihafalkan, dan catatan di bukunya pun penuh dengan tulisan dan coretan hasil belajarnya. 

Nadya tahu kalau dia melampaui batas kekuatannya namun ambisi benar-benar memenuhi kepalanya. Dia ingin ibunya merasa bangga, 

Hari yang dimaksud telah tiba dan kali ini Nadya benar-benar mengerjakan ujiannya dengan penuh semangat. Lagi dan lagi pikirannya terbayang dengan wajah senang ibunya dan dirinya yang puas dengan hal tersebut.

Teman satu kelasnya hanya menatap Nadya dengan ekspresi terkejut dan heran. Tidak biasanya Nadya benar-benar semangat saat ujian. Tapi mereka tidak mau menanyakan hal itu dan lanjut untuk mengerjakan ujian masing-masing

Namun semuanya tidak berjalan lancar sesuai harapannya, Nadya tidak mencapai rangking yang dia inginkan. Nadya merasa kecewa dan hanya bisa menghela nafas sambil merenung di bangkunya. Dia memikirkan hari pengambilan raport dan ucapan ibunya yang tidak puas dengan nilainya. Rasanya Nadya tidak mau hadir di hari itu.

Dia memutuskan untuk mengambil ponselnya untuk melihat media sosial, berharap bisa mendapatkan hiburan di tengah-tengah pikirannya yang kacau. Betapa malangnya diriku ini, Nadya membatin.

Nadya duduk di bangku dengan sedih, memikirkan nasibnya
Nadya hanya bisa pasrah dengan keadaannya.

Hari pengambilan Raport tiba kembali dan sekarang semua orang tua dari setiap kelas berkumpul di Aula untuk mendengarkan sambutan dan juga penyampaian pidato dari Kepala Sekolah untuk para siswa. Suasana begitu tenang, semua orang di ruangan itu mendengarkan perkataannya dengan khidmat.

Sementara Nadya hanya duduk diam di samping ibunya, dia tidak berani mengatakan apapun karena merasa dirinya telah mengecewakan ibunya karena dia tidak berada di peringkat pertama. Dia hanya bisa menunduk dan mengepalkan tangannya yang berada di atas lututnya.

Kepala Sekolah menyampaikan sambutan dengan senyuman ramah dan suara yang ramah. Awalnya Nadya merasa tidak tertarik, namun pandangannya teralihkan saat dia mendengarkan  pidato dari Kepala Sekolah. Nada Orator itu penuh dengan keyakinan dan ketegasan di setiap katanya.

“Hidup sering kali terasa seperti perlombaan tanpa garis finis, di mana kita merasa dipaksa untuk terus berlari mengejar standar kesuksesan orang lain.” 

“Memilih hidup yang  sederhana bukan berarti menyerah pada keadaan, melainkan sebuah bentuk kecerdasan untuk memilah mana yang  memberi makna dan mana yang hanya sekadar ego.”

“Menerima diri sendiri adalah fondasi dari kebahagiaan yang stabil. Kita perlu menyadari bahwa nilai diri kita tidak ditentukan oleh seberapa banyak pencapaian yang kita pamerkan atau seberapa tinggi jabatan yang kita raih.”

“Hidup bersahaja dengan menghargai apa yang sudah kamu lalui seperti waktu luang untuk hobi, pertemanan yang tulus, dan kesehatan mental juga jauh lebih berharga daripada memaksakan diri mencapai puncak yang membuat kita kelelahan demi pengakuan sesaat.”

“Pada akhirnya, tidak ada kata terlambat untuk belajar mengenal siapa dirimu, bukan hanya tentang seberapa banyak pencapaian yang bisa kamu raih. Izinkan dirimu untuk berproses dengan cara yang nyaman tanpa harus merasa tertinggal dari orang lain.”

“Mari kita lakukan hidup yang sederhana, hargai proses sekecil apa pun, dan yang terpenting, berdamailah dengan diri sendiri.”  Kepala sekolah mengakhiri pidato tersebut dengan senyuman tulus.

Semua orang yang ada di ruangan itu bertepuk tangan dan beberapa dari mereka ada yang mengelap air mata karena pidato yang diberikan Kepala Sekolah sungguh menyentuh pada kehidupan sekarang.

Nadya juga ikut bertepuk tangan, pidato Kepala Sekolah benar-benar menusuk namun begitu hangat di saat yang bersamaan. Dia mengelap air matanya dengan lengan seragamnya sebelum keluar dari aula bersama ibunya.

Kali ini, Nadya memberanikan diri untuk berbicara dengan ibunya saat mereka sedang duduk di bangku lorong sekolah. “Bu, emangnya gak apa-apa kalau Nadya gak ranking satu?”

Ibu  yang mendengar perkataannya langsung mengalihkan pandangannya dari raport Nadya dan menatap anak semata wayangnya itu dengan wajah heran. “Enggak, emangnya kenapa?”

Nadya menunduk, suaranya sedikit bergetar karena menahan kekecewaan yang mendalam, “Ibu waktu itu pernah bilang kalau Nadya harus capai rangking satu dan sekarang Nadya ada di ranking lima. Ibu kecewa,ya?” Nadya menunduk semakin dalam.

Ibu terdiam, hatinya mencelos melihat putrinya sedih karena ucapannya. Wanita itu menghela nafas dan tersenyum lembut, “Nad, Ibu sadar kalau selama ini Ibu selalu memaksa kamu buat terus-terusan ranking satu,” 

Sang Ibu melanjutkan, “Pas Ibu dengar Kepala Sekolah kamu pidato entah kenapa ibu merasa bersalah. ibu ingat kamu sudah mau menjelang dewasa dan punya pilihan sendiri tapi Ibu justru menghambat kamu dengan ambisi Ibu,”

“Ibu yakin kamu pasti takut, kan? Kamu takut mengecewakan ibu, kamu takut untuk curhat pada ibu, atau yang lebih buruk lagi, kamu jadi takut buat melihat ibu,” Ibu tertawa pahit, “Ibu gak mau kalau sampai hal itu terjadi, Nak.”

Nafas Nadya tercekat namun itu tidak membuat Ibunya berhenti, “Ibu cuman takut kalau kamu diremehkan karena nilai kamu. Tapi Ibu juga sadar kalau itu salah,” Ibu menghela nafas, “Selama ini ibu masih kurang percaya sama kamu. Ibu janji bakal mengubah sifat ibu jadi maafkan ibu ya, Nak?”

Nadya tak bisa membendung kesedihannya dan memeluk Ibunya dengan erat yang dibalas pelukan yang jauh lebih eratnya darinya. Air matanya tumpah, rasa takut dan sedihnya akhirnya dilampiaskan dengan tangisannya. “Iya, aku memaafkan Ibu.”

Sang ibu juga memeluknya dengan erat, air mata juga keluar dan rasa bersalah yang menyelimutinya perlahan menghilang.

Pelukan itu hangat, penuh dengan kasih sayang dan ketulusan. Nadya bersyukur karena beban yang dia bawa sejak lama akhirnya melebur bagaikan debu yang tertiup oleh angin.

Nadya akhirnya bisa lepas dari ambisi sementara Ibunya dan memilih untuk hidup secara sederhana dan sewajarnya.
Nadya memeluk ibunya dengan perasaan sedih dan lega.

Dan pada akhirnya Nadya memahami bahwa hidup itu cukup dijalani sebisanya, tidak harus menjadi yang teratas. Hidup dengan caramu sendiri karena sekecil apapun usahamu tentu berarti.

*****

Majalah Sunday, Teman Memahami Tips Belajar, Edukasi Seksual dan Kesehatan Mental

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.

Ikutan berkarya di
Majalah Sunday

Post Views: 3