Penulis: Shafa Nurul Azmi P – UPI
Aku selalu menikmati waktu pulangku di setiap perjalanan menuju pemberhentian terakhir. aku selalu mendapat tempat duduk di bagian yang paling ku suka, sesampainya di stasiun kereta, pemandangan selalu sejuk. Suasana terasa sepi namun membuat lagu yang diputar selalu membekas dalam benakku. Akhir-akhir ini suasana stasiun semakin sepi, menjelang pergantian tahun, lebih banyak orang yang memilih untuk pergi berwisata ke kota-kota besar. Untuk aku si tulang punggung keluarga, ku kira memilih bertahan untuk tidak mengambil cuti kerja adalah pilihan yang terbaik dibandingkan melihat keluhan ibu soal uang jajan adikku yang berkurang, aku tidak keberatan, aku kira ini menjadi cara aku membalas bagaimana mereka memberikan banyak tenaga sampai aku bisa mendapat gelar magister itu.
Tepatnya hari rabu, hari masih siang namun stasiun kereta api begitu sepi, hanya beberapa orang yang turun menggunakan commuter line di jam 13.00. Aku berjalan melintasi beberapa gerbong dan menuju arah luar stasiun. Aku paling menyukai suasana pulang di stasiun, seperti hari ini dimana aku merasa sangat lapar dan memutuskan membeli cemilan di minimarket dalam stasiun. Aku memilih 2 bungkus onigiri dan saat itu tanganku bertabrakan dengan seorang pria dengan postur tegap menggunakan jaket yang tak sengaja ingin mengambil pie susu. akh begitulah reaksiku saat itu, tulang lengannya yang jauh lebih besar dari ku membuat pergelangan tanganku sedikit nyeri saat berbenturan dengan lengannya.
aku sedikit meringis sambil mengangguk. Aku tidak berusaha meneruskan jawaban dengan berkata “tidak apa-apa”, aku terlalu lapar untuk bereaksi. Aku berjalan menuju kasir dan membayar, tak lama kulihat pria itu juga akan membayar makanannya dan berdiri persis di belakangku. Setelah membayar onigiri, aku duduk di sebuah bangku yang menghadap ke rel kereta, membuka bungkus onigiri dan mencoba menikmati makananku. Tak lama pria yang kulihat di minimarket itu berjalan seolah menghampiri dan ternyata ia benar-benar duduk di sampingku.
“ Boleh duduk disini ka?” tanya nya, aku mempersilahkannya dan mengetuk bangku kosong menandakan aku tidak keberatan. Tidak ada percakapan antara kami, hanya saja ia seperti memperhatikanku, aku mencoba acuh dan membuka ponselku untuk mengalihkan perhatian.
“ Kak, maaf saya mau tanya,” suara itu membuatku menoleh pada pria itu
“ iya? “ Jawabku,
“ Kakaknya suka pie susu nggak?” wajahku mengerut bingung,
“ Gimana ya kak maksudnya?”
“Iya, kakak nya suka Pie Susu nggak?” Aku semakin bingung dan hanya mengiyakan dan tak berharap ada jawaban selanjutnya.
“ Sama saya juga suka sama pie susu,” Jawabnya dengan tawa, aku hanya ikut tersenyum, selanjutnya ia bertanya lagi,

“ Kak, kata kakak saya besok beli pie susu lagi ga ya?” Aku semakin tidak paham dengan apa yang ia katakan. Aku buru-buru menghabiskan makananku dan pergi. Sesampainya di gerbang luar, aku segera memesan grab dna pulang.
Hari selanjutnya, aku bertemu dengan pria itu lagi saat aku pulang dan ke minimarket, dan lagi-lagi iya menabrakku, kali ini aku sedikit kesal karena benturan yang sedikit lebih keras. ia lalu meminta maaf , aku hanya mengiyakan dan pergi, kali ini kami keluar bersamaan setelah membayar, derap langkahnya mengikuti arah kemana aku pergi, aku terheran dan mencoba berhenti. “ Eh lu ngikutin gua ya?” teriakku padanya dengan penuh amarah,
Ia tak menjawab dan hanya sedikit tersenyum seperti anak kecil yang kedapatan mencuri buah dari rumah tetangga. Aku melipat bibirku dan menghembuskan napas kasar, ia lalu mendekat ke arahku, aku sedikit terkejut, apa yang dia lakukan?
“ Ya mana gue tau, gue yang harusnya nanya sama lo, ngapain lo ngikutin gue cuma buat nanya pie susu?” jawabku sedikit memanas,
“Saya nanya aja kak, tinggal jawab apa susahnya,” aku tak percaya dengan apa yang baru saja kudengar, apa maksudnya?
“ terserah deh, beli aja sampe lu kegilaan sendiri sama pie susu!” bentakku,
Aku meninggalkannya, selanjutnya aku berharap itu semua tidak terulang lagi. Hari setelahnya aku pulang seperti biasa dan tidak pergi ke minimarket, namun ia kembali datang sambil menyalakan pertanyaan yang sama. Karena kejadian ini akhirnya aku mencoba untuk berjalan ke arah lain dan tidak melewati jalan yang sama, aku merasa lega sampai sesuatu yang janggal membuat aku merinding, aku melihat seseorang dari seberang gerbong justru berjalan ke arah yang sama, aku menghentikan langkahku, ia pun berhenti.

Dalam hitungan ketiga aku berlari sedikit supaya tidak diikuti oleh lelaki tersebut. Dengan tersengal-sengal aku segera naik ke angkutan umum yang akan berangkat, setidaknya aku bisa segera menghindar. Meskipun terlihat dari kaca belakang angkutan umum, sosok itu masih ada menatap tepat ke arah angkutan umum yang kunaiki. Aku pulang menuju apartemen, memilih untuk tinggal sendiri sementara waktu supaya perasaanku sedikit lebih berbenah. Aku melihat ke arah ponsel, aku sangat merindukan rumah, jarak apartemen ke rumah sekitar 10 km, aku bisa saja pergi ke rumah, namun untuk saat ini aku merasa lebih baik tanpa ada komentar di sekitarku, terkadang komentar itu tidak datang dari keluarga inti, justru dari keluarga yang memang hanya bertemu kita saat hari-hari tertentu.
Sambil menikmati yoghurt kesukaanku, layar komputer menunjukan beberapa tread di media sosial, menariknya tread itu menceritakan pengalaman sekitar 2 tahun lalu dimana seseorang diikuti dengan modus penguntitan di stasiun kereta. Ceritanya membuatku semakin penasaran, aku terus membacanya sambil menyeruput yoghurt yang ku masukan kedalam mangkuk sambil merasakan sesuatu yang janggal, bagaimana penulis treads ini menggambarkan kondisinya saat ini. Aku terus membacanya dan, ku lihat postingan itu berhenti di beberapa minggu kemudian. Kok kejadiannya persis ya? tanyaku dalam hati.
Keesokan harinya aku kembali pulang, sedikit merasa was-was aku segera pergi sebelum Pria itu datang lagi, dan benar saja sosok itu kemudian menyambar penglihatanku, lututku bergetar, apakah aku harus menghampiri dan memakinya, atau justru kembali menghindar. Pria itu semakin dekat, sebelum ia bertanya aku langsung mendesaknya
langkah itu berhenti, lelaki itu tersenyum. aku membuang nafas kasar seakan menekan pertanyaan itu. Laki-laki itu seakan tak takut dengan ancamanku.
“ Kak, menurut kakak saya beli pie susu ngga ya?”

“ Saya suka sama Olga hihi, dia suka restock pie susu di minimarket ini. saya suka tanya sama dia saya mending beli pie atau engga supaya bisa bicara sama Olga. Tapi, satu hari saya liat Olga pergi sama laki-laki lain, hihihi jadi saya kesel terus waktu dia kesini bawa pie lagi, saya sengaja dorong dia deh biar nyium rel hihi, eh ternyata.. pie susunya masih ada, padahal olganya ga ada hihihi,” Suara tawa yang mencekam itu membuat lututku lemas, aku mundur perlahan, aku tidak mengerti mengapa aku ada dalam cerita ini,
*****

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.
