Penulis: Rizma Ardhana Kamaria – UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Di Indonesia, menyapa orang asing bukan perkara sepele. Ketika nama belum diketahui, masyarakat tetap membutuhkan cara untuk membuka percakapan tanpa terdengar kasar atau terlalu akrab. Di luar Pulau Jawa, kebiasaan ini dijalankan melalui berbagai sapaan lokal yang berfungsi menjaga sopan santun dan jarak.
Sapaan-sapaan tersebut lahir dari budaya setempat dan digunakan secara luas dalam kehidupan sehari-hari. Meski berbeda-beda, tujuannya sama yaitu menciptakan komunikasi yang aman, hormat, dan diterima secara sosial.
Dalam kehidupan sehar-hari, orang sering berinteraksi dengan pihak yang namanya belum diktehaui. Situasi ini terjadi di pasar, di jalan, di kendaraan umum, atau saat bertanya arah. Memanggil sesorang tanpa nama bisa terasa tidak sopan, sementara menyebut nama secara sembarangan juga tidak mungkin dilakukan.
Di sinilah sapaan berperan penting. Sapaan menjadi pengganti nama yang netral sekaligus aman. Ia memberi sinyal bahwa penutur menghormati lawan bicara, meskipun hubungan personal belum terjalin. Dalam banyak budaya di Indonesia, cara menyapa bahkan dianggap lebih penting daripada isi pembicara itu sendiri.

Di banyak wilayah Sumatra, sapaan “bang”dan “kak” digunakan secara luas untuk memanggil orang asing. Sapaan ini sering terdengar di pasar, terminal, atau tempat makan. Kata “bang” memberi kesan akrab namun tetap sopan, sementara “kak” digunakan sebagai bentuk netral yang tidak menyinggung usia atau status.
Di Sumatra Barat, masyarakat Minangkabau juga mengenal sapaan “uda” dan “uni”. Meskipun berakar dari sistem kekerabatan, sapaan ini kerap digunakan kepada orang asing sebagai bentuk penghormatan. Penggunaan sapaan tersebut mencerminkan kuatnya nilai kekeluargaan dalam budaya setempat, di mana orang luar pun diperlakukan dengan sikap ramah.
Di Sulawesi Selatan, khususnya dalam budaya Bugis-Makassar, sapaan “daeng” menunjukkan kesadaran akan tata krama dan struktur sosial. Dengan menyebut sapaan ini, penutur menempatkan dirinya secara sopan dan menghindari kesan merendahkan. Dalam konteks masyarakat Sulawesi, cara menyapa menjadi bagian dari upaya menjaga kehormatan bersama.
Di wilayah Maluku dan Papua, sapaan “kaka” atau “kakak” digunakan hampir di semua situasi, termasuk kepada orang asing. Sapaan ini menciptakan suasana yang hangat dan egaliter. Jarak sosial terasa lebih cair, meskipun hubungan belum terbangun.
Budaya komunal yang kuat membuat masyarakat di wilayah ini menempatkan kebersamaan sebagai nilai utama. Sapaan tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai simbol bahwa setiap orang dianggap bagian dari komunitas sosial yang sama.
Di berbagai daerah di Kalimantan, sapaan seperti “bang”, “kak”, atau “pak” digunakan secara kontekstual. Pilihan sapaan bergantung pada situasi, usia lawan bicara, dan tingkat formalitas.
Masyarakat Kalimantan cenderung memilih sapaan yang aman dan tidak menyinggung. Hal ini mencerminkan budaya kehati-hatian dalam berkomunikasi, terutama saat berhadapan dengan orang yang belum dikenal.
Sapaan “ko” dan “ci” digunakan untuk menyapa orang asing keturunan Tionghoa di berbagai daerah Indonesia. Menariknya, sapaan ini tidak hanya digunakan oleh komunitas Tionghoa, tetapi juga oleh masyarakat dari latar belakang etnis lain.
Penggunaan sapaan ini menunjukkan bagaimana budaya Tionghoa berakulturasi dengan budaya lokal. Bahasa menjadi ruang pertemuan berbagai identitas, sekaligus mencerminkan keragaman sosial Indonesia.
Perkembangan kota dan meningkatnya mobilitas penduduk membuat sapaan-sapaan lokal bertemu dengan sapaan nasional. Kata kak kini banyak digunakan karena dianggap paling netral dan fleksibel, terutama di ruang digital dan wilayah perkotaan.
Meski demikian, sapaan lokal tidak sepenuhnya tergantikan. Dalam konteks tertentu, masyarakat tetap memilih sapaan daerah sebagai penanda identitas dan kedekatan budaya. Pergeseran ini menunjukkan bahwa budaya tidak hilang, melainkan beradaptasi.

Perbedaan cara memanggil orang asing di luar Pulau Jawa menunjukkan bahwa kesopanan di Indonesia tidak bersifat tunggal. Setiap daerah memiliki mekanisme sendiri untuk menjaga interaksi tetap santun.
Mengenal ragam sapaan ini membantu pembaca memahami bahwa budaya Indonesia bekerja melalui praktik-praktik kecil dalam kehidupan sehari-hari. Sapaan yang terdengar sederhana ternyata menyimpan fungsi sosial yang besar.
Cara menyapa orang asing mencerminkan cara suatu masyarakat memandang hubungan antarindividu. Di luar Pulau Jawa, sapaan menjadi alat untuk menjaga keseimbangan antara keakraban dan rasa hormat.
Dengan memahami kebiasaan ini, pembaca diajak untuk lebih peka saat berada di luar daerah asalnya. Menyapa dengan tepat bukan hanya soal etika, tetapi juga bentuk penghargaan terhadap keberagaman budaya Indonesia.
*****

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.
