Skip to main content

Majalah Sunday

Bukannya Langsung Diobrolin Tapi Malah Ngilang Dulu, Yuk Kenalan sama Si Avoidant

Penulis: Paulus Pramudya F. A – Universitas Kristen Indonesia

Kalian pernah nggak sih, pas lagi ada masalah sama pacar, niatnya pengen banget langsung ngobrolin baik-baik biar semua cepet selesai tapi dia malah ngilang? Udah nyoba untuk ngajak diskusi, nyusun kata-kata biar nggak menyinggung perasaannya, bahkan udah nelen ego biar masalah nggak makin gede. Tapi pas udah diajak ngobrol, dia malah ngilang. Chat cuma di read atau bahkan nggak di bales sama sekali, di telepon tapi nggak diangkat, bahkan cuma buat sekedar ngabarin aja susah banget rasanya.

Mungkin dia cuma lagi capek aja, butuh waktu untuk sendiri dulu,atau belum siap aja untuk nuangin semua. Udah nyoba untuk ngertiin. Tapi makin lama dia diam, kita jadi dibuat bingung dan nebak-nebak sendiri. Mulai mikir apa salah kita, apa dia udah nggak peduli, sampe bertanya-tanya sama hubungan yang dijalanin ini masih baik-baik aja atau nggak. Bukannya masalah cepet selesai, kita justru jadi makin overthinking sendiri karena nggak tau harus ngapain lagi. Padahal, sebenernya kita cuma pengen tau apa yang jadi permasalahannya dan cari jalan keluar bareng-bareng.

Lucunya, yang harusnya punya pasangan bikin kita jadi punya seseorang untuk bisa diajak ngadepin masalah bareng-bareng, tapi setiap hubungan lagi nggak baik-baik aja malah kita yang harus ngadepin semuanya sendirian. seakan-akan ngejalin hubungan tapi ngerasanya kayak sendirian.

Kalo situasi ini terasa familiar, selamat kamu mungkin lagi berhadapan sama orang yang punya kecenderungan avoidant dalam hubungan. Kalo ada yang pernah ngalamin situasi ini, tenang aja. Sini kita duduk bareng-bareng. Yuk kita kenalan sama si avoidant.

Jadi Avoidant Itu Apa Sih?

Menurut ALODOKTER, avoidant attachment style itu pola perilaku di mana seseorang merasa lebih nyaman menjaga jarak secara emosional maupun fisik daripada terlalu dekat dengan pasangannya.

Nah gampangnya gini, mereka yang cenderung avoidant bisa ngerasa nggak nyaman banget ketika harus ngadepin konflik atau ngobrolin emosi lebih dalem. Daripada ngadepin permasalahannya secara langsung bareng pasangan, mereka lebih milih untuk menarik diri dan jaga jarak.

Bukan karena nggak sayang, tapi itu adalah salah satu copping mechanism mereka. Mekanisme ini muncul sebagai bentuk perlindungan diri mereka dari rasa sakit, penolakan, atau kekecewaan yang pernah dialamin sebelumnya.

Bukannya Langsung Diobrolin Tapi Malah Ngilang Dulu, Yuk Kenalan sama Si Avoidant
Jadi ini yang namanya avoidant? sumber (Pinterest)

Kok Bisa Jadi Avoidant?

Avoidant nggak muncul begitu aja, dan biasanya kalo pun ditanya kenapa seseorang bisa jadi avoidant, jawabannya jarang cuma satu. Biasanya ada banyak hal yang pelan-pelan bikin seseorang yang avoidant enggan untuk terbuka sama orang lain. Ada beberapa faktor yang ikut ngebentuk, dan ini yang paling sering kejadian.

1. Pola Asuh yang Kurang Responsif Secara Emosional

Nah, biasanya orang-orang langsung nembak pola asuh dari orang tua yang kurang responsif secara emosional dan kurang sensitif terhadap afeksi kepada anaknya. Ya, nggak salah sih itu emang salah satu faktor terbesarnya. Dulu waktu kecil tiap nangis selalu dibilang “jangan nangis, jangan cengeng”, yang setiap kali cerita dicuekin karena orang tuanya sibuk, yang baru cerita sedikit tapi udah di hakimin sama orang tuanya, atau bisa juga karena dari kecil selalu dituntut “udah gede, harus bisa sendiri” nah pelan-pelan alam bawah sadar nunjukin perasaan itu percuma. Jadi daripada nggak dapet respon yang diharapin, ya lebih baik dipendem aja.

2. Lingkaran Pertemanan

Tapi ceritanya nggak cuma berhenti di rumah aja. Pengalaman dari luar juga ikut berpengaruh di sini. Kayak pernah curhat ke temen atau ke guru BK terus yang seharusnya itu cuma ada diantara kalian aja tapi ternyata ceritanya malah kesebar satu kelas atau bahkan yang lebih parah satu sekolah pun tau cerita itu. Terus diketawain atau diledek pas lagi nangis karena ditinggal sama orang yang disayang, entah itu karena putus, orang tua cerai, atau ada yang meninggal. Dari situ otak kita merespon kalo kita terbuka, kita bisa sakit, jadi mendingan jangan.

3. Faktor Lingkungan dan Budaya

Disamping itu lingkungan dan budaya juga ikut andil. Kita tumbuh sambil denger kalimat “cowok nggak boleh nangis”, “laki-laki tidak boleh bercerita”, dan sebagainya. Lama-lama kita mulai menormalisasikan kalo nyimpen semuanya sendirian itu adalah hal yang wajar.

bertengkar dengan kekasih yang avoidant
Ada berbagai faktor yang dialami oleh si avoidant. sumber (Pinterest).

Dampak Avoidant dalam Hubungan

Kebanyakan orang yang punya sikap avoidant tanpa sadar membawa luka dari pengalaman masa lalu mereka yang belum bener-bener sembuh ke dalam hubungan. Alhasil, ini yang sering terjadi.

1. Sulit Membuka Diri Secara Emosional

Di kutip dari JawaPos.com, orang yang punya kecenderungan avoidant adalah sikap mereka yang menolak untuk terbuka secara emosional. Pasangan kita akan sulit untuk menceritakan dirinya sendiri atau bahkan cenderung menghindar dari topik tentang dirinya.

Mereka cenderung sulit untuk menunjukkan perasaan mereka, apalagi bebagi hal-hal yang bersifat pribadi dan mendalam. Ini bukan karena mereka tidak peduli, tapi karena takut untuk dihakimi dan terluka.

Mereka cenderung berpikir jika mereka tidak terlalu dekat secara emosional, maka tidak akan terlalu sakit jika ditinggalkan. Itu sebabnya, mereka sengaja menciptakan jarak emosional.

Akibatnya, orang yang sedang menjalin hubungan dengan mereka akan seperti berbicara pada tembok, ada orangnya, tapi nggak ada kejelasan soal apa yang mereka rasain.

Ini yang buat pasangan bingung untuk memahami dan membangun kedalaman hubungan. Keterhubungan emosional yang harusnya bisa menjadi dasar hubungan justru terhalang oleh benteng pertahanan yang dibuat sendiri.

2. Menggunakan Bahasa Pasif-Agresif dan Tidak Langsung

Komunikasi yang sehat butuh keberanian untuk jujur, bahkan ketika apa yang harus di omongin terasa nggak nyaman.

Tapi, beda cerita dengan si avoidant. Biasanya mereka merasa sangat terancam ketika harus mengekspresikan perasaan mereka secara langsung. Mereka takut untuk keliatan lemah, takut ditolak, takut akan respon yang tidak sesuai dari apa yang dibayangkan, atau takut kalo kejujuran bisa menimbulkan konflik baru.

Itu sebabnya mereka lebih memilih menyampaikan perasaan mereka lewat kemarahan atau kekecewaan lewat kalimat-kalimat sarkasme, atau berkata “aku nggak apa-apa kok, aku baik-baik aja” padahal sangat jelas kalo mereka lagi nggak baik-baik aja.

Sikap yang seperti ini yang buat pasangan jadi bingung dan merasa frustrasi. Nggak akan ada yang bisa diperbaikin kalo nggak ada yang dibahas secara terbuka dan akhirnya hubungan yang dibangun jadi penuh teka-teki.

3. Menyepelekan Pasangan

Mereka yang memiliki kecenderungan avoidant sering kali merasa nggak nyaman berada di situasi yang terlalu dekat secara emosional. Alhasil, untuk menjaga jarak emosional itu, tanpa sadar kadang mereka pakai cara yang menyakitkan, seperti kadang menyalahkan pasangan secara sepihak, atau bahkan menganggap diri mereka lebih bener di setiap situasi

Ini bukan sekedar masalah ego, tapi lebih ke upaya mereka untuk menjaga kendali supaya nggak merasa “lemah” dalam hubungan. Tapi sikap ini malah yang membuat pasangan merasa nggak di hargai dan terpinggirkan.

4. Perlakuan Silent Treatment

Dalam banyak kasus, si avoidant lebih sering memilih diam seribu bahasa dibandingkan terlibat dalam pembicaraan emosional yang intens.

Ketika ada konflik atau perasaan yang susah dipahami oleh mereka, respon pertama dan utama yang mereka lakukan adalah menjauh, menghindar, dan berhenti bicara.

Mereka merasa tidak nyaman dengan kerentanan, alhasil mereka lebih memilih untuk ‘mematikan’ percakapan sepenuhnya. Bagi pasangan, perlakuan ini bisa sangat menyakitkan. Mereka tidak tahu harus ngapain, nggak tau apakah ada yang salah, merasa sendirian, dan dibuat bingung sama situasi yang sedang dihadapi.

pasangan yang kecenderungan avoidant, seringkali melakukan silnent treatment
Perlakuan yang sering dilakukan oleh seorang avoidant adalah silent treatment. sumber (Pinterest).

Terus, Gimana Cara Ngadapinnya?

Kalo kita tau pasangan kita punya sifat avoidant, ini cara yang bisa membantu untuk ngadapinnya.

1. Jangan Ditekan, Kasih Dia Ruang dan Waktu

Orang yang memiliki sikap avoidant butuh rasa aman dan bentuk ruang pribadi. Semakin kita desak dia untuk ngobrol maka akan semakin dia menarik diri dan menutup ruang hati mereka untuk membicarakan apa yang sedang dirasakan.

2. Bangun Rasa Aman dan Percaya

Si avoidant bukannya nggak mau mendekat, cuma mereka takut terluka dan kehilangan control aja. Jadi sebelum mereka bisa membuka diri, mereka perlu tahu kalo kita nggak akan nyakitin atau ngehakimin mereka disaat mereka lagi rentan.

3. Komunikasi dengan tenang tanpa menghakimi

Mereka itu tipe yang sensitif terhadap kritik atau tuntutan. Mereka bisa merasa gampang diserang, walaupun kita cuma pengen ngobrolin masalah kecil. Nah kalo gini, coba pake nada netral sama bahasa yang jangan sampe nyerang perasaannya dan fokus sama perasaan sendiri.

4. Validasi Perasaan dan Emosinya

Kalo kita mau dia mulai terbuka sama dirinya, hal yang perlu kita lakukan adalah coba validasi perasaannya. Coba bantu mereka merasa kalo emosi itu boleh ada dan boleh dirasakan. Karena mereka itu cenderung tidak bisa mengekspresikan perasaan mereka sendiri.

pasangan yang memvalidasi perasaan pasangannya
Dengan memvalidasi perasaannya dia akan merasa aman. sumber (Pinterest).

Produk Rekomendasi Sunday

Si avoidant itu bukan orang jahat dan bukan orang yang nggak bisa sayang. Dia cuma belajar dari pengalaman kalo menjauh itu lebih aman. Mereka cuma butuh waktu, dan rasa aman aja untuk belajar percaya kalo ternyata kedekatan secara emosional itu bukan ancaman. Tapi ini penting juga untuk diinget kalo kita itu bukan penyelemat untuk mereka. Kita bisa kok sayangin dia, mencintai, mendukung, dan nemenin, tapi kita juga berhak bahagia, didenger, dan dipeluk balik.

*****

Majalah Sunday, Teman Memahami Tips Belajar, Edukasi Seksual dan Kesehatan Mental

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.

Ikutan berkarya di
Majalah Sunday

Views: 3