Penulis: Agustian Elida Ali – Universitas Bina Sarana Informatika
Pernah membayangkan bagaimana kehidupan manusia puluhan ribu tahun yang lalu? Jauh sebelum adanya kamera, ponsel, atau alat tulis seperti sekarang, manusia ternyata sudah mengenal cara untuk meninggalkan jejak melalui gambar di dinding gua.
Menariknya, salah satu jejak seni tertua yang diketahui di dunia justru ditemukan di Indonesia, tepatnya di Pulau Muna, Sulawesi Tenggara. Lukisan tersebut berupa cap tangan pada dinding gua yang diperkirakan berusia setidaknya 67.800 tahun.
Temuan ini bukan sekadar gambar peninggalan masa lampau, tetapi juga menjadi bukti menarik tentang bagaimana manusia pada zaman prasejarah sudah mengenal seni dan mampu mengekspresikan sesuatu melalui gambar.
Lalu, seperti apa lukisan tersebut dan bagaimana para peneliti mengetahui usianya? Yuk, kenali lebih jauh!
Lukisan cap tangan berusia setidaknya 67.800 tahun ini ditemukan di Gua Liang Metanduno yang berada di Pulau Muna, Sulawesi Tenggara. Pulau Muna sendiri merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang menyimpan berbagai peninggalan seni cadas dari masa prasejarah.
Gua Liang Metanduno menjadi salah satu lokasi penting dalam penelitian tersebut karena menyimpan lukisan yang usianya sangat tua. Penemuan ini juga memperlihatkan bahwa jejak seni prasejarah di Sulawesi tidak hanya ditemukan di kawasan Maros-Pangkep, Sulawesi Selatan, tetapi juga terdapat di wilayah Sulawesi Tenggara.
Melalui penelitian yang dilakukan di sejumlah gua di kawasan tersebut, para peneliti berhasil mendokumentasikan berbagai gambar purba, termasuk cap tangan dan bentuk gambar lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa kawasan Sulawesi memiliki sejarah aktivitas seni manusia yang telah berlangsung sejak puluhan ribu tahun lalu.


Kalau mendengar kata lukisan, mungkin yang terbayang adalah gambar pemandangan, hewan, atau manusia dengan berbagai warna. Namun, lukisan yang ditemukan di Gua Liang Metanduno memiliki bentuk yang cukup sederhana, yaitu cap tangan pada dinding gua.
Cap tangan tersebut dibuat dengan teknik yang dikenal sebagai hand stencil atau cetakan tangan. Secara sederhana, teknik ini dilakukan dengan menempatkan tangan pada permukaan dinding, kemudian menyemprotkan atau mengaplikasikan pigmen di sekitarnya. Setelah tangan diangkat, akan terlihat bentuk atau siluet tangan pada permukaan tersebut.
Berdasarkan penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nature pada 21 Januari 2026, salah satu cap tangan di Gua Liang Metanduno diperkirakan berusia setidaknya 67.800 tahun. Lukisan yang diteliti ini kondisinya sudah cukup pudar dan hanya menyisakan sebagian bentuk jari serta telapak tangan.
Menariknya, salah satu bagian ujung jarinya terlihat memiliki bentuk yang lebih sempit. Para peneliti menduga hal tersebut berkaitan dengan teknik pembuatan yang melibatkan penambahan pigmen atau perubahan posisi tangan ketika proses penggambaran berlangsung.
Meskipun bentuknya sederhana, lukisan ini memiliki nilai sejarah yang luar biasa. Temuan tersebut menjadi salah satu bukti penting mengenai perkembangan seni manusia pada masa prasejarah.

Mungkin kamu bertanya-tanya, bagaimana para peneliti bisa mengetahui bahwa sebuah lukisan di dinding gua sudah berusia puluhan ribu tahun? Apakah mereka menghitungnya dari kondisi gambar atau warna yang mulai memudar?
Ternyata, penentuan usia lukisan tersebut dilakukan melalui metode penelitian ilmiah yang cukup menarik.
Dalam penelitian yang diterbitkan di jurnal Nature, para peneliti menggunakan metode penanggalan uranium-series atau U-series dengan bantuan teknologi laser. Metode ini digunakan untuk menganalisis lapisan mineral kalsium karbonat yang terbentuk secara alami dan menutupi sebagian lukisan.
Lapisan mineral tersebut dapat terbentuk secara perlahan di permukaan dinding gua. Dengan menganalisis kandungan unsur uranium dan hasil peluruhannya, peneliti bisa memperkirakan usia lapisan mineral yang menutupi lukisan.
Nah, karena lapisan mineral tersebut terbentuk setelah lukisan dibuat, usianya dapat menjadi petunjuk mengenai usia minimum lukisan yang berada di bawahnya.
Dari hasil penelitian tersebut, lapisan mineral yang menutupi salah satu cap tangan di Gua Liang Metanduno menunjukkan hasil penanggalan sekitar 71.600 tahun dengan rentang ketidakpastian 3.800 tahun. Hasil tersebut memberikan perkiraan bahwa lukisan di bawahnya sudah berusia setidaknya 67.800 tahun.
Jadi, angka 67.800 tahun bukanlah hasil perkiraan semata, melainkan berdasarkan analisis ilmiah terhadap lapisan mineral yang berkaitan langsung dengan lukisan tersebut.
Penemuan lukisan gua di Pulau Muna memberikan kontribusi penting bagi pemahaman manusia mengenai sejarah seni prasejarah. Sebab, gambar tersebut menunjukkan bahwa manusia pada masa lampau sudah memiliki kemampuan untuk membuat bentuk visual dan meninggalkan jejak melalui seni.
Selain itu, temuan ini juga memperluas pengetahuan tentang persebaran seni cadas di dunia. Sebelumnya, sejumlah penelitian telah menemukan lukisan gua berusia puluhan ribu tahun di berbagai wilayah. Namun, penelitian di Pulau Muna memberikan bukti baru mengenai usia seni cadas yang jauh lebih tua dari perkiraan sebelumnya.
Para peneliti juga menjelaskan bahwa temuan ini memiliki kaitan dengan pembahasan mengenai perjalanan manusia purba menuju wilayah Sahul, yaitu kawasan daratan purba yang mencakup Australia dan Papua. Hal tersebut memberikan petunjuk penting untuk memahami kemungkinan jalur perpindahan manusia pada masa lampau.
Bagi Indonesia, penemuan ini menjadi pengingat bahwa kekayaan sejarah bangsa tidak hanya berasal dari bangunan bersejarah, benda peninggalan kerajaan, atau tradisi yang masih dilakukan hingga sekarang. Jejak kehidupan manusia puluhan ribu tahun lalu juga tersimpan di dalam gua-gua yang tersebar di berbagai wilayah Nusantara.
Oleh karena itu, keberadaan lukisan purba seperti yang ditemukan di Pulau Muna perlu mendapat perhatian dan perlindungan. Peninggalan tersebut merupakan bagian dari warisan sejarah yang memiliki nilai penting bagi ilmu pengetahuan dan generasi mendatang.
Temuan lukisan cap tangan berusia setidaknya 67.800 tahun di Gua Liang Metanduno, Pulau Muna, menunjukkan bahwa Indonesia memiliki warisan seni prasejarah yang sangat berharga. Melalui penelitian ilmiah, jejak sederhana pada dinding gua ternyata mampu membuka cerita panjang tentang kehidupan dan perkembangan manusia pada masa lampau.
Sebagai generasi muda, kita juga perlu mengenal berbagai peninggalan sejarah yang ada di Indonesia. Bukan hanya untuk menambah pengetahuan, tetapi juga untuk menumbuhkan rasa bangga dan kepedulian terhadap kekayaan warisan budaya bangsa.
*****

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.