Penulis: Paulus Pramudya F.A – Universitas Kristen Indonesia
Pernah nggak sih kalian punya temen yang bucin nya tuh bucin banget sama pasangan nya padahal dia sendiri tuh sadar kalo hubungannya tuh toxic banget sampe-sampe kita tuh capek banget buat bilangin nya? Bukannya lepas, tapi malah makin lengket. Alasannya tuh kadang udah bukan lagi “gw masih sayang banget sama dia”, tapi karena hubungannya udah bertahun-tahun dia ngerasa sia-sia aja kalo harus putus di tengah jalan.
Atau jangan-jangan, diantara kita ada yang pernah ngalamin juga gimana rasanya susah lepas dari pasangan yang sering banget nyakitin, tapi kita nggak berani untuk nyelesaiin hubungan itu? Kalo ada, sini sini kita kumpul. Ini ada penjelasan psikologisnya kok kenapa kita bisa begitu. Pasang sabuk pengaman kalian, keluarin buku catatan kalian, ayo kita bahas sunk cost fallacy dalam hubungan.
Dalam psikologi dan pengambilan keputusan, sunk cost fallacy adalah kecenderungan seseorang untuk terus mempertahankan sesuatu hanya karena sudah terlalu banyak waktu, tenaga, uang, atau sumber daya yang dikeluarkan sebelumnya, walaupun pilihan itu sebenarnya tidak menguntungkan.
Nah, kalo konsep ini dipakai dalam hubungan, hasilnya jauh lebih rumit. Yang “hangus” bukan cuma uang, tapi waktu, kenangan, cerita, dan perasaan yang sudah kita kasih ke pasangan. Ketika hubungan itu sudah terasa toxic dan kita ingin keluar, kita tidak mau merasa rugi dari apa yang sudah kita korbankan, jadi kita lanjut walaupun sudah jelas hubungan itu sendiri sangat menguras diri kita.
Hal ini yang membuat kita merasa bahwa hubungan yang dijalin selama bertahun-tahun itu hanya akan berakhir dengan kegagalan justru membuat kita selalu bertahan di balik segala kenangan indah dan perasaan sayang yang jika disudahi itu dianggap sebuah kerugian.
Kita memiliki ketakutan dan ketidakpastian terhadap diri sendiri, karena merasa bahawa setelah kita menyudahi hubungan, maka tidak akan ada seseorang yang bisa mengerti diri kita seperti pasangan yang sebelumnya.
Ketakutan inilah yang akhirnya membuat kita selalu bertahan. Bahkan yang lebih parah dan salah dari pemikiran ini adalah bahwa kita selalu menormalisasikan rasa sakit yang diberikan dengan anggapan bahwa semua hubungan itu pasti akan ada permasalahan di dalamnya.

Sunk cost fallacy nggak muncul begitu aja. Ada beberapa faktor yang dapat memengaruhi pikiran kita gampang terjebak di sini.
Adanya keterikatan emosional yang membuat keputusan yang tidak rasional
Ketika sudah terlanjur sayang, otak kita lebih sering dipimpin oleh perasaan dibandingkan logika. Kenangan indah, momen seru, dan inside jokes yang dulu dibangun bareng bikin kita ngerasa hubungan ini “berharga banget.” Sampe kita lupa nanya, “sekarang hubungan ini masih bikin gue bahagia nggak sih?”
Rasa takut akan kehilangan
Para psikolog menyebut kondisi ini loss aversion: secara alami, rasa sakit karena kehilangan itu terasa lebih berat daripada rasa senangnya ketika mendapat sesuatu yang setara. Jadi kita lebih memilih untuk bertahan di situasi yang menyakitkan daripada merasakan sakitnya “kehilangan” apa yang sudah kita bangun.
Adanya sense of belonging yang membuat kita sulit untuk melepaskan
Menjalani hubungan yang sudah bertahun-tahun membuat kita merasa mempunyai “tempat.” Pasangan kita menjadi bagian dari rutinitas, sirkel pertemanan, bahkan menjadi identitas kita sendiri tanpa disadari. Melepasnya akan terasa seperti kehilangan sebagian dari diri kita sendiri, bukan hanya kehilangan seseorang.
Takut sendirian dan tidak ada yang mengerti
Terkadang, kita merasa ketika putus, tidak akan ada orang lain yang mengerti kita sebaik pasangan kita yang sebelumnya. Ketakutan dan ketidak pastian soal diri sendiri ini membuat kita memilih sesuatu yang sudah dikenal, meskipun sakit, daripada mencoba sesuatu yang belum pasti.
Menormalisasi rasa sakit
Ini yang paling berbahaya. Kita seringkali membuat kalimat-kalimat penenang kepada diri kita sendiri ketika hubungan kita sedang tidak baik-baik saja, “dia kayak gitu karena lagi stress aja kali,” atau “di setiap hubungan pasti ada aja kok masalahnya.” Padahal ada bedanya antara berantem biasa dan pola menyakitkan yang berulang. Semakin kita sering mewajarkan, maka akan semakin susah kita sadar kalau ini sudah tidak sehat.

Bertahan dalam hubungan yang sudah tidak sehat bukan hanya membuat waktu kita terbuang dengan sia-sia. Dampak yang lebih parah bisa mempengaruhi kehidupan kita sehari-hari.
– Kesehatan mental terganggu.Stress yang terus menerus dapat meningkatkan risiko depresi dan gangguan kecemasan.
– Turunnya harga diri. Perlahan kita bisa mulai percaya bahwa diri kita memang pantas diperlakukan seperti itu.
– Tidak ada lagi energi. Pikiran dan tenaga kita terserap untuk mengurusi hubungan, sampai sekolah, hobi, dan pertemanan ikut tertinggal.
– Hubungan dengan orang sekitar menjadi renggang. Karena kita sering membela pasangan atau menutupi-nutupi, kita menjadi menjauh dari orang-orang yang sebenarnya peduli.
– Semakin dalam terjebak. Semakin lama kita bertahan, maka akan semakin besar juga “investasi” yang kita rasa, dan semakin sulit untuk pergi.

Kabar baiknya, pola pikir ini bisa dipatahkan. Supaya kita tidak terus menerus terjebak dalam kesalahan berpikir ini, kita bisa melakukan beberapa langkah ini yang bisa kita coba.
– Evaluasi diri sendiri
Daripada terus memikirkan apa saja yang sudah kita kasih, coba deh tanya sama diri kita sendiri sesekali, “kalo aku terus investasi dalam hubungan ini, apakah tujuan yang mau aku raih bisa tercapai ya?”
Kalau hubungan ini tidak memberikan dampak yang positif sekarang, kemungkinan besar hal itu tidak akan terjadi di masa depan. Sekarang, jika posisi nya diganti, yang berada diposisi itu adalah sahabat kita, apakah kita akan menyarankan dia untuk bertahan atau malah pergi? Ironisnya logika kita lebih jernih ketika memberikan saran untuk orang lain.
Dengan kita melakukan refleksi dan evaluasi secara rasional, hal ini dapat membantu kita untuk mengambil Keputusan yang lebih baik.
– Siap untuk menerima kehilangan
Dengan kita menerima kehilangan, itu menjadi satu langkah penting untuk kita keluar dari sunk cost fallacy. Selain itu, berhenti dari sesuatu yang sudah kita perjuangkan itu bukan berarti kita gagal. Waktu dan perasaan yang sudah kita beri tidak sia-sia karena kita belajar banyak dari situ apalagi kalau hal itu terus menerus merugikan kita.
Kadang berhenti untuk menghentikan suatu “investasi” yang tidak menguntungkan untuk kita merupakan suatu keputusan yang bijak daripada kita terus melanjutkannya.
Keberanian untuk melepas masa lalu dapat membuka pintu untuk peluang baru dan perkembangan diri yang lebih baik.
– Prioritaskan diri dan kesehatan mental kita
Berhubungan dengan orang-orang yang toxic memang menguras tenaga dan mental kita. Kalau masa depan dari hubungan yang kita Jalani terlihat tidak cerah, menutup diri sejenak sampai pulih merupakan pilihan yang terbaik untuk kita.
Karena hubungan yang tidak sehat sangat mungkin membuat kita terus berhadapan dengan stress yang dapat meningkatkan risiko depresi dan gangguan kecemasan.
– Ceritakan pada orang terpercaya
Terjebak dalam pemikiran sunk cost fallacy membuat kita cenderung mengambil keputusan yang kurang rasional. Itu sebabnya, penting banget untuk kita menceritakan dan meminta pendapat pada orang-orang yang kita percayai. Pandangan dari mereka dapat memberikan pendapat yang berbeda sehingga kita bisa mengambil keputusan dari sudut pandang yang lebih luas.

Rasa sayang memang tidak selalu hilang begitu saja ketika kita sadar kalau seseorang sudah menyakiti kita. Itu adalah hal yang wajar dan manusiawi. Tapi kita juga perlu belajar bahwa perasan sayang bukan satu-satunya hal yang menentukan apakah sebuah hubungan layak untuk dipertahankan.
Jadi, coba deh ajak obrol lagi diri kita sendiri apakah kita bertahan karena memang sayang, atau karena sudah terlalu terikat?
*****

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.