Penulis: Indira Salsabila – SMAN 1 Gebog
Genderuwo dan pohon sawo sering kali muncul bersamaan dalam cerita-cerita mistis yang beredar di masyarakat.
Pohon yang terlihat biasa ini justru kerap dianggap angker, terutama saat malam hari tiba.
Selan itu, batangnya yang besar, daunnya rimbun, dan suasananya terasa lebih gelap dibanding pohon lain.
Tak heran jika banyak orang mengaku merinding saat melewatinya sendirian dan mengaku pernah merasakan kehadiran makhluk tak kasatmata di sekitar pohon sawo.
Namun, benarkah pohon sawo memang sarang genderuwo, atau hanya mitos yang dibungkus rasa takut?
Pohon sawo sebenarnya termasuk pohon yang akrab dengan kehidupan sehari-hari. Biasanya, pohon ini banyak tumbuh di pekarangan rumah lama atau tanah yang jarang dijamah.
Usianya panjang dan jarang ditebang karena buahnya bernilai. Akibatnya, pohon ini sering tumbuh sangat besar.
Saat malam hari, tajuknya yang lebat membuat cahaya sulit menembus. Akibatnya, bayangan batang dan rantingnya tampak tidak beraturan.
Dalam kondisi sepi, suara dedaunan bisa terdengar seperti langkah kaki. Situasi inilah yang kerap memicu rasa tidak nyaman tanpa sebab jelas.
Genderuwo dikenal sebagai makhluk misterius yang sering digambarkan menyerupai manusia. Tubuhnya yang besar, berbulu lebat, dan konon memiliki suara berat.
Dalam banyak cerita, ia disebut suka menampakkan diri secara samar, bukan terang-terangan. Kadang hanya berupa bayangan atau perasaan diawasi.
Dalam banyak cerita, genderuwo tidak selalu menyerang. Ia lebih sering digambarkan mengganggu atau menakut-nakuti.
Keberadaannya terasa, tetapi sulit dipastikan.
Mitos pohon sawo sebagai sarang genderuwo dipercaya berawal karena kondisi fisik pohonnya.
Batang pohon sawo tua sering berlubang secara alami. Lubang ini terlihat seperti rongga besar yang gelap dan dalam. Bagi banyak orang, tempat seperti ini dianggap tidak wajar.
Selain itu, pohon sawo sering berada di lokasi yang jarang dilalui orang, misalnya saja di tanah kosong, kebun tua, atau pekarangan yang sudah lama ditinggalkan.
Ketika seseorang merasa takut di tempat tersebut, imajinasi mudah bekerja. Cerita demi cerita pun mulai terbentuk dan turun dari mulut ke mulut.

Genderuwo dan pohon sawo semakin lekat karena banyak cerita yang beredar.
Ada yang mengaku mendengar suara tawa pelan di bawah pohon sawo atau melihat bayangan besar bergerak cepat lalu menghilang.
Meskipun tidak bisa diverifikasi, kisah-kisah ini jarang dipertanyakan. Sebaliknya, ketakutanlah yang membuat orang lebih memilih percaya.
Apalagi jika cerita datang dari orang yang dianggap “pernah mengalami”. Di sinilah mitos semakin menguat tanpa disadari.
Pohon sawo dan genderuwo juga berkaitan dengan cara manusia merespons ketakutan. Dalam kondisi gelap dan sepi, otak cenderung memperbesar hal kecil.
Suara hewan malam bisa terdengar seperti langkah kaki. Bayangan daun bisa tampak seperti sosok hidup.
Pada akhirnya, ketika seseorang sudah membawa cerita sebelumnya, imajinasi bekerja lebih cepat.
Apa yang dilihat tidak lagi netral dan segalanya terasa memiliki makna menyeramkan. Di titik ini, rasa takut sering kali mengalahkan logika.
Mitos genderuwo di pohon sawo bertahan karena terus diceritakan ulang. Cerita ini sering muncul dalam obrolan malam atau kisah horor.
Media sosial juga ikut memperpanjang usia mitos tersebut, karena pengalaman pribadi sering dibagikan tanpa disaring.
Selain itu, mitos memberi sensasi tersendiri. Rasa takut bercampur penasaran membuat cerita lebih menarik.
Walau tidak terbukti, orang tetap ingin mendengarnya.
Inilah yang membuat mitos sulit benar-benar hilang.

Pohon sawo sebagai sarang genderuwo pada dasarnya tidak pernah benar-benar terbukti. Tidak ada catatan atau bukti nyata yang menunjukkan bahwa pohon sawo dihuni makhluk gaib tertentu.
Mitos ini lebih banyak lahir dari cerita turun-temurun dan pengalaman orang yang merasa pernah mengalaminya, jadi ini bersifat subjektif.
Rasa takut dan imajinasi manusia berperan besar di dalamnya. Namun, justru di situlah letak misterinya.
Cerita tentang genderuwo di pohon sawo terus hidup karena dipercaya, bukan karena dibuktikan. Lingkungan gelap, cerita lama, dan sugesti membuat mitos terasa nyata. Akhirnya, yang dianggap “ada” bisa terasa lebih nyata daripada fakta itu sendiri.
Lalu, benarkah pohon sawo sarang genderuwo?
Jawabannya tidak, tetapi cerita di baliknya tetap menarik untuk dipahami.
Menurut Sunners, bagaimana cara memandang mitos pohon sawo dan genderuwo ini?
*****

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.
