Majalah Sunday

Benarkah Perempuan Hanya Bisa Tenang Beberapa Hari dalam Sebulan?
Kenali Perubahan Emosi Perempuan

Penulis: Syagita Dwi Prasetya – Politeknik Negeri Media Kreatif

Di kalangan remaja, masih banyak yang percaya bahwa perempuan hanya bisa merasa “tenang” beberapa hari dalam sebulan. Saat suasana hati berubah, perempuan sering langsung dicap berlebihan atau drama, tanpa benar-benar memahami apa yang sedang terjadi.

Minimnya edukasi tentang perubahan tubuh dan emosi membuat banyak remaja perempuan merasa bingung menghadapi dirinya sendiri. Tak sedikit yang akhirnya menyalahkan diri saat emosinya naik turun. Padahal, perubahan emosi adalah bagian wajar dari masa remaja dan dipengaruhi oleh banyak faktor. Karena itu, penting bagi remaja memahami hal ini agar tidak terjebak dalam stigma yang keliru.

Anggapan Perempuan Lebih Emosional di Masyarakat

Dalam kehidupan sehari-hari, perempuan sering dianggap lebih emosional dibandingkan laki-laki. Ketika perempuan terlihat sensitif, mudah marah, atau sedih, hal tersebut kerap dikaitkan dengan perubahan hormon semata. Padahal, label “terlalu emosional” sering kali muncul karena kurangnya pemahaman tentang bagaimana emosi bekerja, terutama pada masa remaja.

Stigma ini tidak hanya datang dari lingkungan sekitar, tetapi juga bisa tertanam dalam pikiran remaja perempuan sendiri. Akibatnya, banyak yang merasa emosinya adalah sesuatu yang salah dan harus ditekan, bukan dipahami.

Benarkah perempuan hanya bisa tenang beberapa hari dalam sebulan? Artikel ini membahas emosi remaja perempuan dan edukasi emosional.
Anggapan Perempuan Lebih Emosional, picture by canva.com

Perubahan Emosi sebagai Proses Alami

Masa remaja adalah fase penuh perubahan, baik secara fisik maupun psikologis. Perubahan emosi pada remaja perempuan merupakan respons alami tubuh terhadap berbagai proses biologis dan perkembangan mental. Emosi yang naik turun bukanlah tanda kelemahan, melainkan sinyal bahwa tubuh dan pikiran sedang beradaptasi.

Selain faktor biologis, emosi remaja juga dipengaruhi oleh lingkungan, tekanan akademik, hubungan pertemanan, serta ekspektasi sosial. Ketika semua faktor ini bertemu, wajar jika remaja perempuan mengalami perubahan emosi yang lebih terasa.

Dampak Kurangnya Edukasi tentang Emosi

Minimnya edukasi tentang emosi dapat berdampak cukup serius. Remaja perempuan yang tidak memahami kondisi dirinya sendiri berisiko mengalami stres berlebihan, rendahnya rasa percaya diri, hingga kesulitan mengekspresikan perasaan secara sehat.

Tidak hanya itu, lingkungan yang masih memandang emosi perempuan sebagai sesuatu yang negatif juga dapat membuat remaja enggan bercerita atau mencari bantuan. Padahal, memahami dan mengelola emosi merupakan keterampilan penting untuk kesehatan mental jangka panjang.

Pentingnya Edukasi Seksual dan Emosional yang Sehat

Edukasi seksual tidak hanya membahas soal tubuh, tetapi juga mencakup pemahaman emosi dan kesehatan mental. Dengan edukasi yang tepat, remaja dapat mengenali perubahan yang terjadi dalam dirinya tanpa rasa takut atau malu.

Edukasi emosional membantu remaja memahami bahwa semua emosi valid dan perlu dikelola, bukan ditekan. Lingkungan yang terbuka dan suportif juga berperan besar dalam membantu remaja perempuan merasa aman untuk mengekspresikan diri.

Benarkah perempuan hanya bisa tenang beberapa hari dalam sebulan? Artikel ini membahas emosi remaja perempuan dan edukasi emosional.
Pentingnya Edukasi Seksual Emosional yang Sehat, picture by canva.com

Perubahan emosi yang dialami remaja perempuan adalah hal yang wajar dan merupakan bagian dari proses alami tubuh. Anggapan bahwa perempuan hanya bisa tenang beberapa hari dalam sebulan perlu diluruskan agar tidak menimbulkan stigma dan kesalahpahaman. Dengan pemahaman yang tepat, remaja dapat lebih menerima dirinya sendiri dan tidak merasa bersalah atas emosi yang dirasakan.

*****

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.

Ikutan berkarya di
Majalah Sunday

Post Views: 6