Penulis: Nasywa Almira Febrianti – Universitas Islam Negeri Jakarta
Di usia sekolah, banyak remaja merasa seolah-olah mereka harus sudah tahu apa passion mereka. Pertanyaan seperti “kamu sukanya apa?”, “nanti mau jadi apa?”, atau melihat teman yang terlihat sudah punya tujuan hidup sering kali membuat kita merasa tertinggal. Tanpa sadar, belum punya passion dianggap sebagai tanda kegagalan, padahal kenyataannya tidak sesederhana itu. Faktanya, tidak semua orang langsung menemukan passion sejak dini, dan itu sangat wajar.
Tekanan untuk segera menemukan passion justru sering membuat remaja merasa cemas, minder, bahkan ragu pada diri sendiri. Media sosial juga ikut memperkuat perasaan tersebut, ketika kita melihat orang lain tampak begitu yakin dengan jalan hidupnya. Padahal, masa remaja sejatinya adalah fase eksplorasi, fase mencoba, belajar, dan mengenal diri sendiri. Karena itu, belum punya passion bukan berarti kamu gagal, melainkan kamu sedang berada di proses yang normal dan penting dalam perjalanan hidupmu.

Banyak remaja membayangkan passion sebagai satu hal besar yang langsung bikin yakin sejak pertama kali mencobanya. Seolah-olah passion itu datang dengan tanda khusus, langsung klik, langsung yakin, dan ngga pernah ragu lagi. Padahal, dalam kenyataannya, passion jarang muncul sejelas itu. Passion lebih sering tumbuh pelan-pelan, dimulai dari rasa penasaran, ketertarikan kecil, lalu berkembang karena sering dilakukan dan dipelajari.
Sekarang coba tanya ke diri sendiri: apa iya semua hal yang berarti dalam hidup harus langsung terasa “wah” dari awal? Banyak hal justru terasa biasa dulu sebelum akhirnya jadi penting. Sama seperti pertemanan atau kebiasaan, passion juga butuh waktu buat tumbuh.
Di usia remaja, wajar kalau kamu masih bingung membedakan mana hobi, mana minat, dan mana yang benar-benar bisa berkembang jadi passion. Menyukai banyak hal bukan berarti kamu ngga fokus, justru itu tanda kamu sedang mengenal diri sendiri. Passion bukan soal “aku jago dari awal”, tapi tentang “aku mau terus belajar walaupun capek”.
Coba refleksi:
Aktivitas apa yang pernah kamu lakukan meski capek, tapi tetap pengin nyoba lagi?
Tekanan ini sering datang tanpa kita sadari. Dari pertanyaan orang dewasa seperti “kamu nanti mau jadi apa?”, sistem pendidikan yang menuntut pilihan cepat, sampai media sosial yang penuh cerita sukses di usia muda. Semua itu pelan-pelan membentuk pikiran bahwa kalau belum punya passion, berarti ada yang salah dengan diri kita.
Sekarang pikirkan lagi: apa tekanan itu benar-benar datang dari dirimu, atau dari luar? Banyak remaja sebenarnya belum siap memilih, tapi terpaksa merasa harus siap karena tuntutan sekitar. Akhirnya, kebingungan dianggap kegagalan.
Padahal, yang sering terlihat di luar hanyalah versi paling rapi dari hidup seseorang. Kita jarang melihat kebingungan, kegagalan, atau perubahan arah yang mereka alami sebelumnya. Akibatnya, banyak remaja jadi takut mencoba hal baru karena khawatir “salah pilih”. Padahal, salah coba justru bagian penting dari proses menemukan apa yang benar-benar cocok.
Tanya ke diri sendiri dengan jujur:
Kalau ngga ada tekanan dari siapa pun, hal apa yang mau kamu coba ?
Belum tahu passion bukan tanda kamu malas, ngga ambisius, atau ngga punya masa depan. Itu cuma berarti kamu sedang ada di fase mencari. Sayangnya, fase ini sering disalahpahami sebagai kegagalan. Banyak remaja jadi terlalu keras pada dirinya sendiri, merasa tertinggal, padahal yang mereka butuhkan sebenarnya adalah waktu dan ruang.
Coba pikirkan: apa adil menilai diri sendiri gagal, hanya karena kamu belum sampai di titik akhir? Padahal hidupmu masih panjang dan penuh kemungkinan. Kamu belum terlambat, kamu baru mulai.
Kegagalan bukan saat kamu belum menemukan passion, tapi saat kamu berhenti bergerak karena takut salah. Selama kamu masih mau belajar, mencoba, dan terbuka pada pengalaman baru, kamu sedang membangun fondasi penting untuk masa depanmu, meski sekarang belum kelihatan hasilnya.
Eksplorasi ngga harus selalu besar dan berat. Kamu ngga perlu langsung punya rencana lima tahun ke depan. Kamu bisa memulainya dari hal-hal kecil yang bisa dilakukan sekarang. Ikut kegiatan sekolah, coba hobi baru, belajar skill lewat internet, atau terlibat di komunitas. Yang penting, kamu hadir dan benar-benar merasakannya.
Saat mencoba, perhatikan bukan cuma hasilnya, tapi juga perasaanmu saat menjalaninya. Apakah kamu merasa tertantang? Apakah kamu penasaran buat belajar lebih jauh? Atau justru merasa tertekan dan ingin cepat selesai?
Kalau kamu merasa tertarik tapi belum jago, itu normal. Passion ngga selalu datang bersama kemampuan. Kadang, justru rasa tertarik itulah yang bikin kita mau terus belajar sampai akhirnya berkembang. Dan kalau ternyata ngga cocok, kamu boleh berhenti tanpa merasa gagal. Berhenti juga bagian dari belajar.
Latihan kecil:
Coba satu hal baru selama seminggu, lalu tanyakan: “Aku mau lanjut karena suka, atau karena takut berhenti?”
Jadi kesimpulannya belum punya passion di usia remaja bukan berarti kamu tertinggal atau gagal. Faktanya, fase “belum tahu” itu wajar banget. Justru di momen inilah kamu lagi belajar mengenal diri sendiri tanpa harus buru-buru menentukan arah hidup. Setiap orang punya waktunya masing-masing, jadi ngga adil kalau kamu terus membandingkan prosesmu dengan orang lain.
Daripada sibuk merasa tertekan, coba kasih ruang buat diri sendiri untuk eksplorasi. Kamu ngga harus nemuin passion sekarang juga. Cukup mulai dari hal kecil, coba hal baru, dan perhatiin apa yang bikin kamu enjoy saat menjalaninya. Pelan-pelan aja, karena passion itu bukan sesuatu yang harus dicari dengan panik, tapi sesuatu yang tumbuh seiring kamu berani mencoba dan terus jalan.
*****

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.
