Larissa Fiapermata Feby – Universitas Islam Negeri Fatmawati Sukarno Bengkulu
Ada orang-orang tertentu yang kehadirannya membuat kita percaya bahwa belajar bukan sekadar rutinitas, melainkan sebuah panggilan. B.J. Habibie adalah salah satunya. Dalam perjalanan hidupnya, belajar tidak pernah diposisikan sebagai kewajiban yang membebani, tetapi sebagai bentuk tanggung jawab pada ilmu dan pada diri sendiri. Dari sanalah lahir prestasi yang tidak hanya besar, tetapi juga bermakna.
Habibie tidak dikenal karena kecepatan, melainkan karena ketekunan. Ia menempuh jalan panjang bersama ilmu pengetahuan, dengan kesadaran bahwa proses yang dijalani dengan sungguh-sungguh akan menemukan hasilnya sendiri. Nilai inilah yang membuat cara belajarnya tetap relevan hingga hari ini.
Disiplin dalam belajar ala B.J. Habibie bukan tentang memaksa diri, melainkan tentang kesetiaan pada proses yang telah dipilih. Ia dikenal sangat menghargai waktu dan menjalani hari-harinya dengan keteraturan yang penuh kesadaran. Bukan karena tuntutan, tetapi karena keyakinan bahwa ilmu membutuhkan ruang, fokus, dan komitmen untuk tumbuh (Habibie, 2006).
Dalam disiplin, ada ketenangan. Kita tidak tergesa-gesa, tidak pula melompat-lompat arah. Belajar dijalani dengan tujuan yang jelas, langkah yang terukur, dan kesadaran penuh terhadap apa yang sedang dipelajari. Disiplin menjadikan belajar bukan sekadar aktivitas, tetapi bagian dari perjalanan hidup yang dijaga dengan rasa hormat.

Jika disiplin adalah fondasi, maka konsistensi adalah napas panjangnya. B.J. Habibie menunjukkan bahwa kemajuan besar tidak selalu hadir dengan sorak sorai, melainkan tumbuh perlahan melalui kebiasaan yang dijalani tanpa henti. Ia percaya bahwa usaha yang dilakukan terus-menerus, meski tampak kecil, akan membentuk kekuatan yang besar dalam jangka panjang (Habibie, 2014).
Konsistensi mengajarkan kita untuk tidak mudah menyerah pada hari-hari yang terasa biasa. Justru di sanalah proses bekerja. Belajar sedikit demi sedikit, tetapi dilakukan dengan setia, membentuk ketangguhan intelektual dan kedewasaan berpikir. Dari konsistensi itulah prestasi hadir—bukan sebagai tujuan semata, melainkan sebagai hasil alami dari proses yang dijalani dengan penuh kesungguhan.

Pada akhirnya, belajar ala B.J. Habibie mengingatkan kita bahwa prestasi bukan sesuatu yang dikejar dengan tergesa, melainkan dirawat dengan kesabaran. Ada kesadaran untuk terus hadir dalam proses, meski langkah terasa pelan dan jalan tidak selalu mudah. Di situlah nilai belajar menemukan maknanya—bukan pada seberapa cepat kita sampai, tetapi pada kesungguhan kita untuk terus berjalan bersama ilmu, hari demi hari, dengan keyakinan bahwa setiap usaha yang dijaga dengan disiplin dan konsistensi akan menemukan waktunya sendiri untuk tumbuh.
*****

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.
