Belakangan ini, nama Timoti Anugerah Saputra ramai diperbincangkan. Polisi masih mengusut penyebab kematiannya, namun ada satu sisi kelam yang terungkap ke publik: perilaku teman-teman di sekitarnya.
Bayangkan, Timoti mengalami musibah, ia jatuh dari lantai empat. Tapi, alih-alih mendapatkan simpati atau bantuan doa, yang terjadi justru sebaliknya. Ada sekitar 11 mahasiswa yang diduga melontarkan komentar-komentar negatif terhadap foto Timoti saat ia jatuh. Inilah bentuk nyata dari verbal bullying.
Mungkin si pelaku mikirnya, “Ah, cuma bercanda kok,” atau “Cuma ngetik di kolom komentar doang.” Tapi bagi korban, kata-kata itu bisa jadi beban yang lebih berat daripada rasa sakit fisiknya.

Ada satu istilah psikologi yang menarik tapi ngeri yang dibahas dalam video Majalah Sunday, yaitu Schadenfreude. Pernah dengar?
Schadenfreude adalah kondisi di mana seseorang merasa senang atau puas melihat orang lain mengalami kesusahan atau kegagalan. Ini adalah akar dari banyak kasus verbal bullying. Di zaman sekarang, Schadenfreude ini makin subur karena adanya media sosial. Kita merasa “aman” menghina orang di balik layar smartphone, merasa hebat saat bisa menertawakan kemalangan orang lain yang viral.
Dalam kasus Timoti, para pelaku menunjukkan gejala ini. Mereka kehilangan rasa kemanusiaan hanya demi sebuah lelucon atau kepuasan sesaat melihat penderitaan orang lain.
Kenapa sih ada orang yang tega melakukan verbal bullying? Jawabannya simpel tapi dalam: mereka tidak memiliki atau tidak memahami apa itu empati.
Empati bukan cuma sekadar bilang “kasihan ya”. Empati adalah kemampuan kita untuk membayangkan kalau kita ada di posisi orang tersebut. Bagaimana rasanya kalau kita jatuh, lalu bukannya ditolong, malah ditertawakan?
Mirisnya, anak-anak zaman sekarang—termasuk di kalangan mahasiswa—sering kali kehilangan radar empati ini. Kita terlalu fokus pada “siapa yang paling lucu” atau “siapa yang paling berani komen pedas,” sampai lupa kalau yang kita bicarakan adalah manusia yang punya perasaan.

Sunners, kita pasti sering dengar istilah mental health atau kesehatan mental di mana-mana. Itu bagus banget, karena artinya kita makin peduli dengan kondisi psikis kita. Tapi, ada satu kritik tajam yang perlu kita renungkan: jangan cuma mengglorifikasi mental health, tapi pahamilah maknanya.
Glorifikasi itu maksudnya kita cuma jadikan isu mental sebagai tren atau gaya hidup. Misalnya, dikit-dikit bikin status “Aduh, gue depresi banget hari ini,” tapi di sisi lain, kita sendiri yang melakukan verbal bullying ke orang lain. Kita menuntut orang lain paham kesehatan mental kita, tapi kita nggak peduli dengan kesehatan mental orang di sekitar kita.
Kesehatan mental bukan untuk “dipamerkan” sebagai label, tapi untuk dipahami bahwa setiap orang punya batas lelah dan batas sakit yang berbeda. Menghargai kesehatan mental orang lain dimulai dengan satu hal sederhana: menjaga lisan dan ketikan kita.
Seringkali kalau ada kasus bullying, yang disalahkan adalah sekolah atau kampus. Padahal, pusat pendidikan karakter dan empati yang paling utama itu di rumah, di dalam keluarga.
Banyak orang tua sekarang mungkin terlalu sibuk memfasilitasi anak dengan gadget canggih, tapi lupa mengajarkan cara berinteraksi yang manusiawi. Orang tua perlu mengajarkan bahwa menyakiti orang lain lewat kata-kata itu salah besar. Jangan sampai kita tumbuh menjadi orang yang pintar secara akademik, tapi “cacat” secara empati karena tidak pernah diajarkan untuk menghargai perasaan sesama sejak kecil.
Jujur aja, Sobat Sunday, menghentikan orang lain buat nggak nge-bully itu susah banget. Kita nggak punya kendali atas apa yang orang lain ketik atau ucapkan. Tapi, kita punya kendali penuh atas diri kita sendiri.
Kalau kamu merasa sedang mengalami verbal bullying, berikut beberapa hal yang bisa kamu lakukan:
Cintai Diri Sendiri Lebih Dulu: Kalau kamu sudah menghargai dan mencintai dirimu sendiri, kata-kata sampah dari orang lain nggak akan mudah menjatuhkanmu. Ingat, worth atau nilai dirimu nggak ditentukan oleh komentar orang yang bahkan nggak kenal kamu secara dalam.
Kuatkan Mental: Memang sulit, tapi cobalah untuk melihat bullying sebagai refleksi dari buruknya karakter si pelaku, bukan cerminan dirimu. Orang yang bahagia dan bermental sehat nggak akan punya waktu buat nge-bully orang lain.
Jangan Berikan Reaksi yang Mereka Mau: Pelaku verbal bullying biasanya haus akan reaksi. Semakin kamu terpancing, mereka semakin senang.
Cari Support System: Jangan dipendam sendiri. Ngobrol sama teman yang suportif, guru yang kamu percaya, atau orang tua.
Kasus Timoti harus jadi pelajaran terakhir. Kita nggak mau ada Timoti-Timoti lain yang harus merasa sendirian dan tersiksa karena verbal bullying.
Sobat Sunday, yuk kita mulai dari diri kita sendiri. Sebelum ngetik komentar, pikirkan: “Kalau ini dikatakan ke gue, sakit nggak ya?”. Sebelum ketawa melihat orang jatuh, pikirkan: “Gimana kalau itu terjadi ke keluarga gue?”.
Dunia ini sudah cukup keras, jangan ditambah lagi dengan lisan kita yang tajam. Mari kita ciptakan lingkungan yang aman buat siapa saja. Karena pada akhirnya, prestasi setinggi apa pun nggak akan ada artinya kalau kita kehilangan rasa kemanusiaan.
Tetap semangat, tetap jadi versi terbaik dari dirimu, dan jangan lupa untuk selalu suportif ke sesama teman!
*****
Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.