Penulis: Disti Cahya Agustine – UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Hai, Sunners! Bayangin masak berame-rame, tapi bukan di dapur tapi di tanah terbuka dengan batu panas dan api, itulah Bakar Batu, tradisi memasak bersama khas Papua. Di sini, makanan jadi alasan orang-orang berkumpul, ngobrol, dan ketawa bareng. Bukan cuma soal kenyang, Bakar Batu adalah cara orang Papua merayakan kebersamaan, rasa syukur, dan hidup berdampingan dengan alam. Tradisi ini masih terus dijaga, bahkan di tengah kehidupan modern yang serba cepat.
Tradisi Bakar Batu adalah salah satu budaya khas masyarakat Papua, khususnya suku Dani, Lani, dan Mee. Bagi suku Lani, tradisi ini dikenal dengan sebutan “lago lakwi”, sedangkan suku Dani menyebutnya “kit oba isogoa”. Konon, Bakar Batu berawal dari cerita nenek moyang Papua yang ingin mengolah hasil kebun dan pertanian mereka, tetapi belum memiliki alat memasak.
Suatu hari, sepasang suami istri mendapat ide sederhana namun kreatif. Mereka mengambil batu dari sungai lalu memanaskannya di atas api hingga membara. Batu-batu panas tersebut kemudian disusun di sebuah lubang kecil berbentuk lingkaran di dalam rumah. Sebelum batu ditata, bagian dasar lubang dilapisi daun-daunan agar makanan tidak langsung terkena tanah.
Setelah batu tersusun rapi, sayuran dan umbi-umbian hasil kebun ikut dimasukkan ke dalam lubang. Semua bahan lalu ditutup kembali dengan daun dan dibiarkan selama beberapa jam. Ketika dibuka, makanan pun matang dan siap disantap bersama keluarga.
Sejak itulah, cara memasak ini berkembang menjadi tradisi Bakar Batu yang terus diwariskan dari generasi ke generasi. Hingga kini, tradisi ini masih lestari di wilayah pegunungan tengah Papua. Selain sebagai cara memasak, Bakar Batu juga menjadi simbol kebersamaan. Menariknya, makanan yang dihasilkan tergolong alami karena tidak menggunakan bahan kimia dan kaya akan kandungan protein.

Tradisi Bakar Batu di Papua bukan sekadar memasak, tetapi juga rangkaian ritual yang melibatkan seluruh warga kampung. Acara ini diawali dengan musyawarah adat yang dipimpin oleh kepala suku untuk menentukan waktu pelaksanaan, misalnya saat pernikahan, syukuran panen, atau upacara perdamaian. Semua warga ikut terlibat, termasuk anak-anak yang belajar mengenal adat dan kebersamaan sejak dini.
Para pria dewasa bertugas mengumpulkan puluhan batu dari sungai pegunungan yang kuat terhadap panas, menyiapkan kayu bakar, serta menggali lubang besar di tanah sebagai “oven alami” yang dilapisi daun dan rumput kering. Sementara itu, para perempuan menyiapkan bahan makanan seperti daging, umbi-umbian, dan berbagai jenis sayuran, lalu membungkusnya dengan daun agar tidak gosong saat dimasak. Pada masyarakat Papua Muslim, daging babi tidak digunakan dan diganti dengan ayam sebagai bentuk penyesuaian nilai agama.
Proses pembakaran batu berlangsung selama beberapa jam hingga batu benar-benar panas. Setelah itu, batu panas disusun berlapis bersama daun, daging, umbi-umbian, dan sayuran, lalu ditutup kembali dengan daun dan tanah agar panas uap terperangkap sempurna. Makanan dimasak tanpa api langsung dan dibiarkan hingga matang merata.
Setelah matang, lubang Bakar Batu dibuka secara simbolis oleh kepala suku. Makanan kemudian dibagikan secara adil kepada semua yang hadir dan dinikmati bersama di atas daun sambil bernyanyi dan menari. Tradisi ini menjadi penutup yang hangat, penuh kebersamaan, sekaligus memperkuat ikatan sosial antarwarga.
Tradisi Bakar Batu dari Papua bukan sekadar acara makan bersama, tetapi memiliki makna yang sangat dalam. Bagi suku-suku pegunungan seperti Dani, Lani, dan Mee, batu panas melambangkan kekuatan leluhur serta keteguhan hidup. Uap panas yang muncul dari lubang masak menjadi simbol kehangatan kebersamaan karena seluruh warga kampung, mulai dari yang tua hingga anak-anak, ikut terlibat. Semua proses dilakukan secara gotong royong dengan pembagian peran yang rapi, di mana laki-laki menyiapkan batu sementara perempuan mengolah makanan.
Lewat proses ini, Bakar Batu mengajarkan pentingnya kerja sama, keseimbangan antara manusia dan alam, serta rasa syukur kepada Tuhan atas hasil bumi seperti ubi, singkong, dan daging yang dibagikan secara adil. Tidak ada perbedaan status sosial saat makan bersama. Tradisi ini juga sering menjadi cara untuk berdamai setelah konflik antarsuku, karena makan bersama dianggap sebagai simbol persatuan dan persamaan. Sebelum pembakaran, biasanya ada doa dan nyanyian adat sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.
Seiring waktu, tradisi Bakar Batu tidak hanya dijaga sebagai ritual adat, tetapi juga berkembang menjadi daya tarik budaya. Tradisi ini sering ditampilkan dalam festival budaya, baik di Papua maupun di luar daerah, bahkan hingga tingkat internasional. Melalui acara-acara ini, bakar batu memperkenalkan budaya Papua kepada dunia sekaligus membantu meningkatkan ekonomi masyarakat lewat penjualan makanan tradisional dan kerajinan tangan.
Meski begitu, pelestarian Bakar Batu tetap menghadapi tantangan, seperti keterbatasan dana dan kurangnya pendidikan budaya di generasi muda. Karena itu, dibutuhkan kerja sama antara pemerintah, tokoh adat, dan masyarakat agar tradisi ini tetap hidup dan ramah lingkungan. Menariknya, meski masyarakat Papua kini juga hidup di perkotaan dan mengenal teknologi modern, Bakar Batu tetap dilakukan untuk momen-momen penting sebagai simbol identitas, kebersamaan, dan kebanggaan budaya yang terus menyesuaikan diri dengan zaman.

Tradisi ini mengingatkan kita bahwa makan bersama bukan cuma soal makanan, tapi juga kebersamaan dan saling menghargai hal yang makin langka di dunia serba cepat. Yuk, Sunners! Mulai kenal dan hargai budaya Indonesia, termasuk Bakar Batu dari Papua. Karena semakin kita mengenal budaya sendiri, semakin kuat rasa bangga kita sebagai bagian dari Indonesia.
*****

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.
