Skip to main content

Majalah Sunday

Baca Banyak, Ingat Sedikit? Begini Teknologi Mengubah Cara Kita Membaca

Penulis: Lois Costantine Daneswara – Universitas Kristen Indonesia 

Pernah nggak kamu membaca sebuah artikel di internet, tetapi beberapa menit kemudian malah lupa isinya? Atau merasa sudah belajar berjam-jam, tetapi ketika ditanya tentang materi yang dipelajari, kamu justru bingung mau menjawab apa?

Di era digital, mencari informasi memang gampang banget. Kita bisa membaca berita lewat Instagram, mencari materi pelajaran di Google, atau meminta AI merangkum bacaan panjang dalam hitungan detik.

Namun, ada satu hal yang sering kita lupakan: mendapatkan informasi itu mudah, tetapi memahami dan mengingatnya belum tentu mudah.

Apalagi, kita sering membaca sambil membalas chat, membuka TikTok, atau berpindah dari satu aplikasi ke aplikasi lainnya. Tanpa sadar, kebiasaan ini bisa memengaruhi cara kita memahami informasi.

Lalu, bagaimana teknologi mengubah kebiasaan membaca kita? Dan bagaimana cara memanfaatkannya agar kita nggak cuma membaca, tetapi juga benar-benar memahami isinya?

Bagaimana Teknologi Mengubah Kebiasaan Membaca?

Coba ingat-ingat kebiasaanmu saat membuka smartphone. Awalnya, mungkin kamu hanya ingin membaca satu artikel. Namun, setelah melihat notifikasi WhatsApp, kamu beralih ke Instagram, menonton beberapa video pendek, lalu lupa dengan artikel yang tadi ingin dibaca.

Pernah mengalaminya?

Sekarang, kita bisa mendapatkan informasi dari mana saja, mulai dari caption Instagram, carousel edukatif, berita singkat, sampai video pendek. Semuanya praktis dan bisa diakses dalam waktu singkat.

Tanpa sadar, kita jadi terbiasa menerima informasi sedikit demi sedikit. Kebiasaan membaca informasi dalam potongan-potongan pendek ini dikenal sebagai fragmented reading.

Sebenarnya, membaca singkat bukan sesuatu yang buruk. Kita bisa melakukannya ketika ingin mengetahui berita terbaru atau mencari informasi sederhana. Namun, kalau terus-menerus membaca sekilas, kita bisa terbiasa menangkap inti informasi tanpa benar-benar memahami keseluruhan isinya.

Belum lagi notifikasi yang terus bermunculan. Saat sedang membaca materi pelajaran, kita mungkin berhenti untuk membalas pesan, membuka media sosial, lalu kembali membaca. Akibatnya, perhatian kita mudah teralihkan dan kita perlu berusaha kembali memahami bacaan yang tadi ditinggalkan.

Lantas, apakah membaca melalui layar selalu lebih buruk daripada membaca buku fisik?

Ternyata, jawabannya nggak sesederhana itu. Penelitian Clinton (2019) menemukan bahwa membaca di kertas memberikan sedikit keuntungan dalam pemahaman bacaan dibandingkan membaca di layar, terutama untuk teks informasional. Namun, hasilnya bisa berbeda tergantung pada jenis bacaan dan kondisi membaca.

Artinya, kita nggak harus meninggalkan smartphone atau selalu membaca buku fisik. Yang penting adalah mengetahui kapan kita bisa membaca sekilas dan kapan perlu meluangkan waktu untuk memahami bacaan lebih dalam.

Lalu, bagaimana teknologi mengubah kebiasaan membaca kita? Dan bagaimana cara memanfaatkannya agar kita nggak cuma membaca, tetapi juga benar-benar memahami isinya?
Source: Pinterest

Membaca Banyak Belum Tentu Membuat Kita Ingat

Pernah nggak kamu membaca materi untuk ujian, merasa sudah paham, tetapi keesokan harinya malah lupa sebagian besar isinya?

Hal seperti ini bisa terjadi karena membaca dan mengingat merupakan dua hal yang berbeda.

Dalam proses belajar, ada istilah reading retention, yaitu kemampuan mempertahankan informasi dari bacaan agar bisa diingat kembali ketika dibutuhkan.

Misalnya, kamu membaca artikel tentang perubahan iklim. Kamu mungkin ingat bahwa suhu bumi semakin meningkat. Namun, apakah kamu juga memahami penyebabnya, dampaknya terhadap lingkungan, dan hubungannya dengan aktivitas manusia?

Kalau belum bisa menjelaskannya, bukan berarti kamu nggak mampu. Bisa jadi, kamu perlu mengelola informasi tersebut secara lebih mendalam.

Salah satu caranya adalah dengan menghubungkan informasi baru dengan pengetahuan yang sudah kamu miliki. Misalnya, ketika mempelajari fotosintesis, jangan hanya menghafal pengertiannya. Coba pahami juga mengapa tumbuhan membutuhkan cahaya matahari dan apa yang terjadi jika tumbuhan kekurangan cahaya.

Dengan memahami hubungan antarkonsep, kamu punya lebih banyak cara untuk mengingat informasi yang sudah dipelajari.

Kamu juga bisa mencoba menutup bacaan setelah selesai membaca, lalu menjelaskan isinya menggunakan kata-katamu sendiri. Cara ini membantu kamu mengecek apakah kamu benar-benar memahami materi atau hanya merasa familiar dengan informasi yang disampaikan.

Jadi, bukan soal berapa banyak halaman yang sudah kamu baca, melainkan seberapa baik kamu memahami dan mengingat isinya.

Source: Pinterest

Memanfaatkan Teknologi untuk Membaca Lebih Efektif

Teknologi bukan hanya membuat informasi lebih mudah diakses, tetapi juga bisa membantu kita memahami bacaan dengan lebih baik. Kita bisa menggunakan kamus digital untuk mencari arti kata yang sulit, membaca artikel dari berbagai sumber untuk memperluas wawasan, atau memanfaatkan fitur penanda dan catatan digital untuk menyimpan informasi penting.

AI juga bisa menjadi alat bantu belajar. Misalnya, setelah membaca sebuah artikel, kamu bisa meminta AI menjelaskan konsep yang belum dipahami atau membuat pertanyaan untuk menguji pemahamanmu.

Dengan begitu, teknologi bukan sekadar alat untuk mendapatkan informasi, tetapi juga bisa membantu kita mempelajarinya lebih dalam. Meski begitu, kita tetap perlu memeriksa kebenaran informasi dan tidak langsung mempercayai semua jawaban yang diberikan AI.

Selain memanfaatkan teknologi dengan tepat, ada beberapa kebiasaan sederhana yang bisa kamu terapkan agar kegiatan membaca lebih efektif.

1. Matikan notifikasi sementara

Aktifkan mode Do Not Disturb agar perhatianmu nggak terus-menerus teralihkan saat membaca.

2. Fokus pada satu kegiatan

Hindari membaca sambil membuka banyak aplikasi. Selesaikan satu bagian bacaan terlebih dahulu sebelum beralih ke kegiatan lain.

3. Uji ingatanmu setelah membaca

Coba jawab pertanyaan, “Apa tiga hal penting yang baru saja aku pelajari?” Cara ini membantu kamu mengetahui bagian mana yang sudah dipahami dan mana yang masih perlu dipelajari kembali.

4. Hubungkan informasi baru dengan pengetahuan sebelumnya

Saat menemukan informasi baru, coba kaitkan dengan hal yang sudah kamu ketahui atau contoh yang kamu temui sehari-hari. Dengan begitu, kamu bisa memahami materi dengan lebih menyeluruh.

5. Gunakan fitur digital sesuai kebutuhan

Manfaatkan kamus, catatan digital, atau AI untuk membantu memahami bagian yang sulit. Pilih fitur yang benar-benar mendukung proses belajarmu, bukan yang justru membuatmu kehilangan fokus.

Kamu nggak harus menerapkan semuanya sekaligus. Mulailah dari kebiasaan kecil, seperti membaca selama 15–20 menit tanpa membuka aplikasi lain.

Ingat, teknologi bisa membantu kita menemukan informasi dengan cepat, tetapi memahami dan mengingat informasi tersebut tetap membutuhkan perhatian dan usaha dari diri kita sendiri.

Source: Pinterest

Di era digital, kita memang semakin mudah mendapatkan informasi. Namun, banyak membaca belum tentu membuat kita memahami dan mengingat semuanya. Kebiasaan membaca sekilas dan berpindah-pindah aplikasi bisa membuat kita kehilangan kesempatan untuk memahami suatu topik secara mendalam.

Bukan berarti kita harus berhenti menggunakan smartphone atau selalu membaca buku fisik. Kita hanya perlu menggunakan teknologi dengan bijak, fokus saat membaca, dan memeriksa kebenaran informasi sebelum mempercayainya.

Pada akhirnya, membaca bukan hanya tentang seberapa banyak informasi yang kita dapatkan, tetapi juga seberapa dalam kita memahaminya dan seberapa kritis kita menilainya. Jadi, dari semua informasi yang kamu baca hari ini, berapa banyak yang benar-benar kamu pahami dan masih bisa kamu jelaskan kembali besok?

*****

Produk Rekomendasi Sunday

Majalah Sunday, Teman Memahami Tips Belajar, Edukasi Seksual dan Kesehatan Mental, Mengapa Menunda Belajar Sering Terjadi, Padahal Kita Sudah Paham Materinya

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.

Ikutan berkarya di
Majalah Sunday

Views: 5