Majalah Sunday

Apa Itu Transvestitisme? Yuk, Pahami Penjelasannya!

Meutia Amalia Putri – UIN Jakarta

Pernah dengar istilah transvestitisme tapi bingung artinya? Banyak orang salah paham, menganggapnya sekadar “berganti pakaian lawan jenis”, padahal dalam psikologi, transvestitisme bisa termasuk perilaku seksual atau fetisisme di mana seseorang mendapatkan kepuasan dari mengenakan pakaian lawan jenis. Memahami hal ini penting supaya remaja bisa membedakan antara identitas gender, gaya berpakaian, dan perilaku seksual yang menyimpang.

Apa Itu Transvestitisme?

Transvestitisme adalah kondisi ketika seseorang mendapatkan rangsangan atau kepuasan seksual dengan mengenakan pakaian lawan jenis. Dalam psikologi, transvestitisme sering disebut transvestic fetishism dan termasuk ke dalam parafilia atau ketertarikan seksual yang tidak biasa.

Seseorang yang mengalami transvestitisme tidak selalu ingin menjadi lawan jenis, tidak selalu transgender, dan tidak selalu memiliki orientasi seksual tertentu. Fokus utamanya adalah kepuasan seksual dari aktivitas mengenakan pakaian lawan jenis, bukan soal jati diri.

Mengapa Terjadi?

Transvestitisme tidak muncul begitu saja. Ada beberapa faktor yang bisa memengaruhinya, dan biasanya tidak hanya satu penyebab tunggal. Berikut penjelasanya:

1. Faktor Psikologis

Pada sebagian orang, pengalaman masa kecil, rasa penasaran, atau asosiasi tertentu antara pakaian lawan jenis dan rasa nyaman bisa berkembang menjadi rangsangan seksual.

2. Proses Belajar dan Kebiasaan

Jika perilaku ini pernah memberi rasa senang, aman, atau lega, otak bisa “merekam” pengalaman tersebut dan mengulanginya sebagai sumber kepuasan.

3. Pelarian Emosional

Ada juga yang menjadikannya sebagai cara mengatasi stres, kecemasan, atau tekanan batin, meski tidak menyadari dampaknya dalam jangka panjang.

4. Pengaruh Fantasi Seksual

Fantasi yang terus dipelihara tanpa pemahaman batasan sehat bisa berkembang menjadi pola perilaku tertentu.

Yang perlu ditekankan, tidak semua orang yang pernah mencoba mengenakan pakaian lawan jenis mengalami transvestitisme. Disebut sebagai gangguan atau masalah psikologis jika perilaku tersebut menimbulkan penderitaan, ketergantungan, atau mengganggu fungsi hidup sehari-hari.

Transvestitisme vs Identitas Gender

Banyak orang masih keliru menyamakan transvestitisme dengan identitas gender. Padahal, keduanya adalah hal yang berbeda.

Transvestitisme berkaitan dengan perilaku atau dorongan seksual, yaitu ketertarikan mengenakan pakaian lawan jenis untuk mendapatkan rangsangan atau kepuasan tertentu. Seseorang dengan transvestitisme umumnya tetap mengidentifikasi dirinya sesuai jenis kelamin biologisnya dan tidak merasa dirinya “terjebak” dalam tubuh yang salah.

Sementara itu, identitas gender adalah cara seseorang memandang dan merasakan dirinya sendiri sebagai laki-laki, perempuan, atau identitas lain. Ini menyangkut jati diri, bukan perilaku seksual atau fantasi.

Risiko dan Dampak

Transvestitisme dapat menimbulkan risiko dan dampak jika perilakunya mengganggu kehidupan sehari-hari atau menimbulkan tekanan bagi diri sendiri maupun orang lain. Secara psikologis, seseorang bisa merasa bingung, cemas, atau tertekan terutama bila menyembunyikan perilaku ini atau mendapat respons negatif dari lingkungan. Secara sosial, risiko stigma, konflik relasi, dan isolasi juga bisa muncul.

Dampak lain terjadi bila perilaku ini menjadi ketergantungan atau dilakukan tanpa persetujuan pihak lain, yang berpotensi melanggar batas dan menimbulkan masalah hukum. Pada remaja, kurangnya pemahaman dapat membuat batasan pribadi menjadi kabur dan menghambat pembentukan relasi yang sehat. Karena itu, penting mengenali tanda-tanda risiko sejak dini dan mencari dukungan yang tepat bila diperlukan.

Cara Remaja Melindungi Diri

Remaja dapat melindungi diri dengan mengenali batasan pribadi dan memahami bahwa setiap orang berhak merasa aman serta nyaman dengan tubuh dan identitasnya. Mencari informasi dari sumber tepercaya membantu remaja memahami perbedaan perilaku, identitas, dan orientasi tanpa stigma.

Selain itu, penting untuk berani mengatakan tidak pada situasi yang membuat tidak nyaman, menjaga komunikasi terbuka dengan orang tua atau guru, serta membangun pergaulan yang sehat dan saling menghormati. Jika muncul kebingungan atau tekanan, mencari bantuan profesional sejak dini adalah langkah bijak untuk menjaga kesehatan mental dan perkembangan diri.

Transvestitisme bukan sekadar gaya berpakaian, dan bukan sesuatu yang harus dijadikan bahan ejekan. Dengan memahami konsep ini secara tepat, remaja bisa lebih bijak menilai perilaku, menghargai orang lain, dan menjaga diri dari perilaku seksual yang berisiko.

*****

Majalah Sunday, Teman Memahami Tips Belajar, Edukasi Seksual dan Kesehatan Mental

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.

Ikutan berkarya di
Majalah Sunday

Post Views: 2