Penulis: Raisha Putri Ramdhani – Universitas Negeri Jakarta
Tumbuh-tumbuhan yang tumbuh dan hidup di sekitar kita menyimpan potensi besar sebagai sumber daya alam yang dapat dimanfaatkan dalam membuat kerajinan, salah satunya anyaman. Seni menganyam merupakan kerajinan yang terbuat dari serat tumbuhan kuat dengan menyilangkan dan mengikat serat tersebut hingga membentuk suatu pola. Membuat kerajinan ini membutuhkan tangan-tangan telaten dan kesabaran. Maka, tak heran jika kerajinan tradisional ini memiliki nilai seni dan ekonomi yang tinggi.

Anyaman merupakan kerajinan yang terbuat dari bambu, rotan, daun pandan, atau serat lainnya dengan menindih dan menyilangkan satu sama lain yang kemudian akan membentuk pola suatu barang, seperti tas, kursi, meja, keranjang, caping, dan lainnya. Sejak dulu, kerajinan anyaman sudah menjadi keahlian orang Melayu, termasuk Indonesia. Kerajinan ini biasanya dilakukan para wanita untuk mengisi waktu luang yang hasilnya akan digunakan untuk keperluan pribadi, hadiah, atau wadah. Bahkan, juga digunakan untuk menyimpan senjata pada masa penjajahan.
Kerajinan anyaman ternyata turut digunakan dalam penyebaran agama Islam oleh para pengikut Sunan Gunung Jati, salah satunya di Desa Tegalmantra dan Tegalwangi. Melalui cara ini, banyak orang yang tertarik memeluk Islam hingga tersebar ke Jawa Barat dan Jawa Tengah. Bahkan, Desa Tegalmantra dan Tegalwangi menjadi sentra industri kerajinan anyaman terbesar di Jawa.
Saat ini, kerajinan anyaman terus diproduksi oleh banyak daerah, seperti Banten, Tasikmalaya, Sukabumi, Majalengka, Yogyakarta, dan Jepara. Setiap daerah memiliki ciri khasnya masing-masing dalam memproduksinya. Salah satu desa yang sudah terkenal dengan produksi anyaman sejak 1977 adalah Desa Teluk Wetan, Jepara. Di sana, menggunakan rotan dengan banyak memproduksi alat rumah tangga, seperti kursi, meja, vas bunga, tempat sampah, dan lainnya. Bahkan, produksi mereka sudah sampai ke negara-negara Asia dan Eropa. Omzet yang didapat pun mencapai 80 juta per bulan.

Selain itu, anyaman daun pandan banyak diproduksi di Desa Bandung, Banten. Kerajinan itu banyak dilakukan oleh ibu-ibu dan remaja wanita. Banyak produk telah dihasilkan dari daun pandan ini, mulai dari peci, tas, topi, gantungan, dompet, tas, hingga tikar. Kreativitas ini mendapat dukungan dari Badan Usaha Milik Desa yang berhasil menggaet ratusan kelompok pengrajin. Bahkan, kerajinan anyaman daun pandan ini juga menjadi wisata edukasi dan budaya di Desa Bandung.
Ketelitian, kesabaran, dan kemampuan yang tak mudah dalam membuat kerajinan anyaman menjadikan kerajinan ini memiliki nilai seni dan nilai jual yang tinggi. Setiap motif memiliki filosofis yang mendalam dan setiap kerajinan memiliki potensi untuk melakukan ekspor. Hal ini karena anyaman terbuat dari bahan yang berkelanjutan, ramah lingkungan, berkualitas, dan memiliki produk beragam. Maka, tak heran jika tingginya permintaan pasar terhadap kerajinan tradisional yang satu ini.
Salah satu UMKM di Jawa Tengah, yaitu “Kampoeng Anyaman” telah menembus pasar ekspor ke 4 negara, yaitu Malaysia, Belgia, Prancis, dan Selandia Baru. Mereka berhasil memproduksi 2.000-5.000 produk per bulan dengan melibatkan 200 pengrajin. Hal tersebut menjadi bukti bahwa kerajinan anyaman memiliki peluang besar untuk lebih dikenal dunia.
*****
Sebagai kerajinan tradisional, anyaman tidak hanya mencerminkan ketelitian dan kesabaran para pengrajinnya, tetapi juga menyimpan nilai seni dan ekonomi tinggi di setiap serat yang dianyamnya. Dari jejak sejarah sampai produksi saat ini, kerajinan anyaman berperan dalam mendukung kelestarian budaya dan pengembangan ekonomi kreatif.

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.
