Penulis: Meiccy Putri Jonarti – UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Bayangin kamu lagi nonton dua lelaki berdiri berhadapan terus mereka adu betis sekuat tenaga! Kedengerannya ekstrem? Iya. Tapi ini bukan sembarang adu kuat.
Di Bone, Sulawesi Selatan, tradisi ini dikenal dengan nama Mallanca, dan sudah jadi bagian dari kehidupan masyarakat Bugis sejak dulu. Bukan cuma seru, Mallanca juga penuh makna tentang keberanian dan kehormatan hal penting yang dijunjung tinggi oleh orang Bugis.
Tradisi Mallanca, atau yang sering disebut adu betis, adalah salah satu budaya khas masyarakat Bone di Sulawesi Selatan yang sampai sekarang masih dijaga keberadaannya. Buat masyarakat Bugis, Mallanca bukan hanya soal siapa yang punya betis paling kuat, tapi lebih pada simbol keberanian, ketahanan mental, dan harga diri. Dua pemuda akan berdiri saling berhadapan, lalu mengadu betis dengan penuh percaya diri. Meski terlihat ekstrem, tradisi ini mengandung nilai siri’na pacce, yaitu rasa malu yang harus dijaga (siri’) dan empati atau solidaritas terhadap sesama (pacce).

Pelaksanaan Mallanca dimulai dengan mempertemukan dua peserta yang berdiri saling berhadapan, seolah siap untuk duel ala tradisi lokal. Secara bergiliran, mereka menghantamkan betis ke betis lawan dengan keras, cepat, dan penuh keberanian. Nah Sunners, pemenangnya bukan yang paling tinggi atau paling besar, tapi siapa yang bisa bertahan paling lama tanpa meringis saat benturan terus menghampiri. Di sanalah letak serunya!
Tradisi ini biasanya digelar saat momen-momen penting seperti upacara adat, pesta panen, hingga pesta rakyat yang melibatkan seluruh warga. Suasananya meriah banget. Teriakan dukungan, tepuk tangan, sampai sorakan penonton bikin Mallanca terasa hidup dan penuh energi. Bahkan orang-orang dari luar Bone sering datang khusus hanya untuk melihat langsung keunikan tradisi ini.
Mallanca jadi makin menarik karena kehadiran musik dan tari-tarian tradisional Bugis yang mengiringi acara. Perpaduan dari pertandingan dan nuansa budaya yang kental membuat suasananya terasa sakral sekaligus semangat. Mallanca tak hanya ajang pertunjukkan kekuatan, keberanian, melainkan mempererat hubungan sosial di dalam komunitas mereka.

Masuk ke era modern, Mallanca mulai menghadapi berbagai tantangan. Banyak yang menilai benturan keras saat bertanding bisa membahayakan kesehatan, sehingga perlu ada penyesuaian. Masyarakat dan pemerintah Bone akhirnya membuat aturan baru yang lebih aman, seperti penggunaan pelindung kaki atau batasan usia peserta. Tujuannya bukan untuk mengubah esensi tradisi, tapi agar Mallanca tetap bisa bertahan tanpa mengabaikan keselamatan. Di tengah banyaknya tren baru yang masuk, Mallanca mengingatkan kita bahwa menjaga budaya bukan berarti menolak perubahan, tapi membuat keduanya bisa berjalan berdampingan.
Mallanca bukan cuma soal dua betis yang saling beradu. Di balik aksi tersebut, tersimpan pesan keberanian, kejantanan, dan kekompakan yang jadi kebanggaan masyarakat Bone. Tradisi Mallanca tidak hanya menjadi cerminan budaya masyarakat Bone, tetapi juga menjadi bukti keberagaman budaya Indonesia yang kaya dan unik.
Yuk, jadi bagian dari generasi yang ikut menjaga Mallanca tetap hidup! Kenali tradisinya, ceritakan ke teman-temanmu, dan banggakan budaya kita sendiri. Semakin banyak yang tahu, semakin kuat warisan ini bertahan.
*****

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.