Skip to main content

Majalah Sunday

Hari Kesehatan Mental Sedunia 2026:
Dengarkan Cerita Nyata, Ciptakan Perubahan Nyata

Penulis: Ari Setiawan – Majalah Sunday

Pernah enggak kamu sedang merasa kewalahan, lalu mencoba bercerita kepada seseorang? Namun, bukannya didengarkan, kamu justru mendapat respons seperti, “Jangan terlalu dipikirkan,” atau “Kamu harus lebih kuat.” Mungkin maksudnya ingin menyemangati, tetapi respons seperti itu kadang membuat seseorang merasa pengalamannya tidak benar-benar dipahami.

Itulah mengapa mendengarkan menjadi hal penting ketika membicarakan kesehatan mental. Pada Sabtu, 10 Oktober 2026, dunia memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia dengan tema “Lived Experiences Heard: Real Voices, Real Change”, yang dapat dimaknai sebagai “Mendengarkan Kisah Nyata: Suara Nyata, Perubahan Nyata”. Tema ini ditetapkan oleh World Federation for Mental Health (WFMH) dan didukung kampanye Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO.

Bukan Cuma Mendengar, tetapi Juga Melibatkan

Apa maksud dari lived experiences atau pengalaman hidup dalam tema tahun ini? Istilah tersebut merujuk pada pengetahuan yang dimiliki seseorang dari pengalaman langsung menghadapi tantangan kesehatan mental atau menjalani proses mendapatkan dukungan dan perawatan. Pengalaman itu punya nilai penting karena orang yang menjalaninya dapat memahami hal-hal yang mungkin tidak terlihat dari luar.

Selama ini, seseorang yang memiliki pengalaman langsung dengan masalah kesehatan mental mungkin diminta menceritakan kisahnya. Namun, setelah bercerita, belum tentu ia dilibatkan dalam keputusan yang memengaruhi hidupnya. Padahal, mendengarkan saja belum cukup jika pendapatnya tidak ikut membentuk perubahan.

WHO mengajak pemerintah, penyedia layanan, dan masyarakat untuk melibatkan orang dengan pengalaman langsung dalam merancang kebijakan, layanan, serta praktik dukungan kesehatan mental. Mereka perlu mendapat kesempatan untuk ikut menentukan keputusan, membantu merancang layanan, mengembangkan dukungan antarsesama, dan mengevaluasi apakah layanan yang tersedia benar-benar menjawab kebutuhan mereka.

Dengan kata lain, orang yang mengalami masalah kesehatan mental bukan sekadar objek yang dibicarakan atau penerima bantuan. Mereka juga memiliki pengetahuan dan suara yang perlu dihargai.

Mengapa Suara Mereka Penting?

Setiap orang punya pengalaman dan kebutuhan yang berbeda. Saran yang terasa membantu bagi satu orang belum tentu cocok untuk orang lain. Karena itu, layanan kesehatan mental tidak bisa dibuat dengan menganggap semua orang membutuhkan hal yang sama.

Mendengarkan pengalaman langsung dapat membantu kita memahami hambatan yang mungkin dihadapi seseorang ketika mencari pertolongan, termasuk rasa takut dihakimi, stigma, atau kesulitan mendapatkan dukungan yang sesuai. Cerita mereka juga bisa membantu penyedia layanan memperbaiki pendekatan agar lebih manusiawi, menghormati hak, dan berpusat pada kebutuhan setiap individu.

Tema tahun ini juga menyoroti pentingnya perawatan berbasis komunitas. WHO mendorong peralihan dari ketergantungan pada perawatan jangka panjang di institusi menuju dukungan yang memungkinkan orang menjalani pemulihan dengan bermartabat di lingkungan masyarakat. Perubahan ini bukan sekadar memindahkan tempat perawatan atau menutup fasilitas. Prosesnya perlu direncanakan dengan baik, termasuk memastikan akses terhadap layanan kesehatan, tempat tinggal, pendidikan, pekerjaan, serta dukungan sosial.

Artinya, dukungan kesehatan mental seharusnya tidak berhenti di ruang konsultasi. Keluarga, sekolah, tempat kerja, dan lingkungan sekitar juga punya peran dalam menciptakan suasana yang aman bagi seseorang untuk pulih dan tetap terlibat dalam kehidupan sehari-hari.

Anak Muda Juga Perlu Didengarkan

Bagi pelajar dan remaja, kesehatan mental dekat dengan berbagai pengalaman sehari-hari. Tugas sekolah, ujian, kekhawatiran tentang masa depan, hubungan pertemanan, tekanan dari media sosial, hingga tuntutan untuk selalu terlihat baik-baik saja dapat terasa melelahkan. Dalam pesan Hari Kesehatan Mental Sedunia 2026, Sekretaris Jenderal PBB António Guterres juga menyoroti tantangan yang dihadapi generasi muda, mulai dari ketidakpastian ekonomi dan kecemasan terhadap krisis iklim hingga berbagai ancaman di ruang digital.

Setiap orang memang memiliki cara berbeda dalam menghadapi tekanan. Karena itu, jangan buru-buru menganggap seseorang berlebihan hanya karena masalahnya tampak sederhana dari sudut pandang kita. Bisa jadi, kita belum memahami keseluruhan cerita yang sedang ia hadapi.

Mendengarkan bukan berarti harus selalu punya jawaban atau langsung menyelesaikan masalah. Kamu bisa mulai dengan memberi perhatian, tidak memotong cerita, dan bertanya, “Kamu ingin aku mendengarkan dulu, atau kita mencari jalan keluarnya bersama?” Hindari membandingkan kesulitan, meremehkan perasaan, atau memaksa seseorang bercerita sebelum ia siap. Jika ia membutuhkan bantuan lebih lanjut, dukung ia untuk mencari pertolongan dari orang dewasa tepercaya atau tenaga profesional.

Dari Mendengarkan ke Perubahan Nyata

Peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia juga diisi dengan berbagai kegiatan yang mengajak masyarakat memberi perhatian lebih pada kesehatan jiwa. Di Indonesia, Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) mengadakan 1st Indonesia World Mental Health Day Run 2026 pada 4 Oktober di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta. Kegiatan ini menggabungkan olahraga dengan edukasi, skrining kesehatan mental, dan interaksi bersama psikiater.

Kegiatan seperti ini dapat membantu membuka percakapan tentang kesehatan mental di ruang publik. Namun, perubahan tidak cukup berhenti pada acara atau unggahan media sosial. Kita juga perlu membangun kebiasaan sehari-hari yang membuat orang merasa aman untuk berbicara dan mencari bantuan tanpa takut mendapat cap negatif.

Produk Rekomendasi Sunday

Jadi, tema “Lived Experiences Heard: Real Voices, Real Change” mengajak kita bergerak lebih jauh dari sekadar mengatakan bahwa kesehatan mental itu penting. Dengarkan orang yang mengalami langsung, libatkan mereka dalam keputusan, dan gunakan pengalaman mereka untuk memperbaiki dukungan yang tersedia.

Kamu tidak harus menjadi ahli untuk mulai mendengarkan dengan lebih baik. Mulailah dari percakapan sederhana bersama teman, menghargai batasan orang lain, dan tidak menganggap remeh perasaan siapa pun. Sebab, ketika suara yang selama ini diabaikan benar-benar didengar dan dipertimbangkan, perubahan yang berarti bisa dimulai.

*****

Majalah Sunday, Teman Memahami Tips Belajar, Edukasi Seksual dan Kesehatan Mental

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.

Ikutan berkarya di
Majalah Sunday

Post Views: 12