Penulis: Jeyano Zaidan Enggelete – Universitas Kristen Indonesia
Masalah kulit seperti bintil-bintil kecil, kemerahan, dan jerawat sering dialami oleh remaja. Namun, tidak semua benjolan pada kulit merupakan jerawat biasa. Salah satu kondisi yang sering disalahartikan adalah fungal acne, atau dalam istilah medis disebut Malassezia folliculitis. Meskipun terlihat mirip, fungal acne dan jerawat biasa memiliki penyebab, karakteristik, serta pendekatan perawatan yang berbeda. Memahami perbedaan keduanya penting agar kita tidak salah memilih produk perawatan kulit dan dapat menentukan langkah yang tepat untuk menjaga kesehatan kulit.

Jerawat biasa atau acne vulgaris merupakan kondisi kulit yang terjadi ketika folikel rambut tersumbat oleh minyak (sebum) dan sel kulit mati, disertai proses peradangan serta keterlibatan bakteri Cutibacterium acnes. Perubahan hormon juga dapat meningkatkan produksi sebum sehingga jerawat lebih mudah muncul.
Jerawat biasa memiliki bentuk yang beragam, mulai dari komedo putih dan komedo hitam hingga papula, pustula, nodul, dan kista. Komedo terbentuk ketika pori-pori tersumbat, sedangkan papula dan pustula merupakan bentuk jerawat yang mengalami peradangan. Nodul dan kista dapat muncul dalam bentuk lesi yang lebih dalam dan berpotensi menimbulkan bekas.
Jerawat biasa sering muncul di wajah, terutama dahi, hidung, dan dagu, tetapi juga dapat ditemukan di dada dan punggung. Tingkat keparahannya bervariasi, mulai dari komedo ringan hingga jerawat meradang yang dapat menyebabkan bekas luka. Tidak seperti fungal acne yang sering disertai rasa gatal, jerawat biasa lebih sering menimbulkan rasa nyeri atau sensitif, terutama pada lesi yang meradang.

Fungal acne merupakan istilah populer untuk Malassezia folliculitis, yaitu peradangan pada folikel rambut yang berkaitan dengan pertumbuhan berlebih jamur Malassezia. Jamur ini sebenarnya merupakan bagian normal dari mikroorganisme yang hidup di permukaan kulit. Namun, dalam kondisi tertentu, pertumbuhannya dapat berkontribusi terhadap munculnya peradangan pada folikel rambut.
Berbeda dari jerawat biasa, fungal acne bukanlah bentuk acne vulgaris. Kondisi ini biasanya ditandai dengan bintil-bintil kecil yang memiliki ukuran relatif seragam dan muncul secara berkelompok. Bintil tersebut dapat berwarna kemerahan atau menyerupai jerawat kecil berisi nanah. Fungal acne juga sering menimbulkan rasa gatal, terutama ketika kulit berkeringat atau berada dalam kondisi panas dan lembap.
Fungal acne dapat muncul di wajah, terutama dahi, tetapi juga sering ditemukan pada dada, punggung, bahu, dan bagian tubuh lain yang mudah berkeringat. Karena tampilannya dapat menyerupai jerawat biasa, kondisi ini terkadang sulit dikenali tanpa pemeriksaan lebih lanjut.
Bentuk dan ukuran: Fungal acne cenderung berupa bintil-bintil kecil dengan ukuran seragam, sedangkan jerawat biasa memiliki bentuk dan ukuran yang lebih beragam.
Rasa gatal atau nyeri: Fungal acne lebih sering terasa gatal, sedangkan jerawat biasa dapat terasa nyeri, terutama ketika meradang.
Pola kemunculan: Fungal acne biasanya muncul berkelompok, sementara jerawat biasa dapat terdiri dari komedo, papula, pustula, dan nodul secara bersamaan.
Area kulit: Keduanya dapat muncul di wajah, dada, dan punggung. Fungal acne juga sering ditemukan di area yang mudah berkeringat.
Penyebab: Fungal acne berkaitan dengan pertumbuhan berlebih jamur Malassezia, sedangkan jerawat biasa berkaitan dengan penyumbatan folikel, produksi sebum, dan peradangan.
Perawatan: Fungal acne umumnya memerlukan terapi antijamur, sedangkan jerawat biasa ditangani dengan perawatan khusus jerawat sesuai kondisi kulit.
Diagnosis: Karena keduanya dapat terlihat mirip, pemeriksaan dokter kulit dapat membantu memastikan kondisi dan menentukan perawatan yang tepat.
Lingkungan yang panas dan lembap dapat mendukung pertumbuhan Malassezia. Kondisi ini relevan bagi orang yang sering berkeringat, beraktivitas di luar ruangan, atau tinggal di daerah beriklim tropis seperti Indonesia. Keringat dan kelembapan yang terperangkap pada kulit dapat menciptakan kondisi yang mendukung munculnya Malassezia folliculitis pada orang yang rentan.
Selain itu, pakaian ketat yang menahan panas dan kelembapan serta penggunaan produk kulit tertentu dapat menjadi faktor yang perlu diperhatikan. Penggunaan antibiotik, terutama dalam kondisi tertentu, juga dapat berhubungan dengan peningkatan risiko Malassezia folliculitis karena perubahan keseimbangan mikroorganisme pada kulit.
Meski demikian, fungal acne tidak semata-mata disebabkan oleh kebersihan kulit yang buruk. Malassezia merupakan bagian normal dari mikroorganisme kulit, dan kondisi ini dapat terjadi ketika berbagai faktor mendukung pertumbuhannya secara berlebihan. Karena itu, menjaga kebersihan kulit tetap penting, tetapi tidak selalu cukup untuk mencegah atau mengatasi kondisi tersebut.
Fungal acne dapat menyebabkan bintil-bintil kecil, kemerahan, dan rasa gatal yang mengganggu kenyamanan. Rasa gatal tersebut dapat mendorong seseorang untuk menggaruk kulit, tetapi kebiasaan ini justru berisiko memperburuk iritasi dan peradangan. Jika kondisi berlangsung terus-menerus, keluhan dapat mengganggu aktivitas sehari-hari dan menurunkan rasa percaya diri.
Sementara itu, jerawat biasa dapat menyebabkan peradangan yang lebih beragam, mulai dari kemerahan ringan hingga lesi yang terasa nyeri dan lebih dalam. Setelah jerawat mereda, sebagian orang mengalami hiperpigmentasi pascaperadangan, yaitu munculnya bercak gelap pada kulit. Jerawat yang dalam atau parah juga dapat meninggalkan jaringan parut permanen.
Pada kedua kondisi tersebut, memencet, menggaruk, atau mengorek lesi sebaiknya dihindari. Tindakan tersebut dapat memperburuk peradangan, meningkatkan risiko perubahan warna kulit, dan menyebabkan bekas yang lebih sulit dihilangkan. Penanganan yang tepat dapat membantu mengurangi keluhan sekaligus menjaga kesehatan kulit.
Fungal acne dan jerawat biasa memerlukan pendekatan perawatan yang berbeda karena penyebab keduanya tidak sama. Malassezia folliculitis umumnya ditangani dengan terapi antijamur sesuai penilaian tenaga medis, sedangkan acne vulgaris dapat memerlukan bahan aktif seperti benzoil peroksida, retinoid topikal, atau terapi lain berdasarkan jenis dan tingkat keparahannya.
Penggunaan produk jerawat biasa belum tentu membantu mengatasi fungal acne. Sebaliknya, produk antijamur bukanlah pengganti terapi jerawat biasa. Karena kedua kondisi dapat terlihat serupa, mencoba berbagai produk secara sembarangan tanpa mengetahui penyebabnya berisiko menyebabkan iritasi, menunda penanganan yang tepat, atau membuat kondisi kulit semakin sulit dievaluasi.
Perhatikan juga respons kulit terhadap produk yang digunakan. Jika muncul rasa terbakar, kemerahan berlebihan, atau iritasi yang semakin parah, hentikan penggunaan produk yang dicurigai menyebabkan reaksi dan mintalah saran tenaga medis. Hindari pula langsung menyimpulkan bahwa semua bintil pada wajah adalah fungal acne hanya berdasarkan informasi di media sosial. Informasi tersebut dapat menjadi titik awal untuk belajar, tetapi tidak dapat menggantikan diagnosis profesional.

Konsultasi dengan dokter kulit sebaiknya dipertimbangkan ketika bintil atau jerawat tidak kunjung membaik, terus berulang, semakin menyebar, terasa sangat gatal, atau mengalami peradangan yang berat. Pemeriksaan juga penting jika kondisi kulit mulai meninggalkan bekas atau tidak merespons perawatan yang selama ini digunakan.
Dokter dapat mengevaluasi bentuk dan pola lesi, riwayat penggunaan produk, serta faktor lain yang mungkin berkontribusi terhadap masalah kulit. Jika diperlukan, pemeriksaan tambahan dapat dilakukan untuk membantu membedakan Malassezia folliculitis dari acne vulgaris atau kondisi kulit lainnya.
Diagnosis yang tepat membantu menentukan pilihan perawatan yang lebih sesuai dan mengurangi risiko penggunaan produk yang tidak diperlukan. Daripada terus mencoba berbagai produk tanpa kepastian, mencari bantuan profesional dapat menjadi langkah yang lebih efektif untuk menangani masalah kulit.
Yuk, kenali kondisi kulitmu sebelum memilih perawatan! Jika bintil atau jerawat tidak kunjung membaik, semakin parah, atau terasa sangat gatal, konsultasikan dengan dokter kulit untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat. Kulit yang sehat dimulai dari informasi yang benar dan perawatan yang sesuai.
*****

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.