Penulis: Paulus Pramudya F.A – Universitas Kristen Indonesia
Kalian sadar ga sih saking banyak nya tradisi di Indonesia ada dua tradisi yang selalu di gabungin jadi satu di setiap acara penting? Yap, betul!! Di mana ada tumpengan di situ selalu ada makan bareng atau cucurak.
Tapi kalian tau nggak, kalo ternyata di balik makan-makan dan nasi yang bentuknya kayak gunung itu beserta segala macem lauknya punya filosofi yang dalem banget? Kalo belum, yuk sini kita merapat. Kita simak bareng-bareng filosofi dibalik cucurak dan nasi tumpeng.
Istilah cucurak mungkin sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Sunda, terutama di beberapa daerah di Jawa Barat.
Kata cucurak berasal dari bahasa Sunda dialek Bogor yang berarti bersenang-senang atau bergembira. Tradisi ini telah berkembang sejak masa lampau, seiring dengan masuknya ajaran islam ke wilayah Tatar Pasundan.
Tradisi ini sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Bogor ketika ingin menyambut Ramadhan setiap tahunnya.
Cucurak biasanya dilakukan melalui kegiatan makan baersama sebelum memasuki bulan puasa. Tradisi cucurak juga dikenal sebagai botram atau munggahan khas masyarakat Bogor. Kegiatan ini biasanya melibatkan keluarga besar, kerabat, hingga rekan kerja yang berkumpul untuk menikmati hidangan bersama sebagai wujud syukur dan kebersamaan.
Akan tetapi, cucurak bukan sekedar acara makan bersama. Tradisi ini merupakan sarat makna dan spiritual. Cucurak menjadi simbol dari kebersamaan, kekeluargaan, serta kerukunan antaranggota masyarakat.
Moment ini biasa dimanfaatkan untuk mempererat tali silaturahmi yang mungkin renggang karena kesibukan sehari-hari.
Selain itu, cucurak dimaknai sebagai sarana saling bermaafan sebelum memasuki bulan Ramadhan. Melalui kegiatan berkumpul, bercengkarama, dan berbagi hidangan, suasana menjadi hangat dan penuh keakraban.
Hidangan yang biasa disajikan pada saat cucurak yaitu nasi liwet khas Sunda yang dimasak dengan santan, serai dan daun salam. Hingga lauk pendampingnya pun beragam, dimulai dari ayam goreng, urap sayur, sayur asem, sambal goreng ati, sampai sambal dan kerupuk.
Menu yang sederhana, namun jika disantap bersama maka rasanya akan sangat menggugah dan menambah kehangatan suasana kebersamaan menjelang bulan Ramadhan.
Cucurak sendiri biasanya diselenggarakan sesuai kesepakatan keluarga atau kelompok yang menyelenggarakan. Lokasinya juga beragam, bisa di rumah keluarga, lungkungan kantor, restoran, atau rumah makan.
Tapi banyak masyarakat yang lebih memilih lokasi terbuka seperti saung, kebun, atau tempat-tempat outdoor lainnya. Suasana tersebut membuat kebersamaan terasa lebih kuat dan santai.
Lewat tradisi ini, cucurak juga menunjukkan bagaimana makanan dapat menjadi media untuk mempertemukan orang-orang setelah lelah dengan kesibukan masing-masing. Dengan hal sederhana seperti duduk bersama dalam satu tempat, berbincang, bercanda, dan menikmati makanan yang sama, hal ini semakin mempererat hubungan antarmanusia dan bisa kembali terasa dekat satu sama lain.

Ada pula salah satu hidangan tradisional Indonesia yang kerap hadir dalam setiap acara perayaan, yaitu nasi tumpeng.
Secara etimologis, Istilah “tumpeng” berasal dari singkatan Bahasa jawa, yaitu “tumapaking-tumuju Pengeran” yang berarti “ternyata hidup-berjalan lurus-kepada Tuhan”. Ada pula versi lain bahwa kata tumpeng merupakan singkatan dari “yen metu kudu sing mempeng” yang artinya “bila keluar harus dengan sungguh-sungguh semangat.” Selain tumpeng juga ada singkatan lain seperti “buceng” yaitu “yen mlebu kudu sing kenceng” atau bila di terjemahkan berarti “bila masuk harus dengan sungguh-sungguh.”
Lalu secara terminologis, tumpeng merupakan makanan tradisional yang selalu disajikan pada saat ritual sesajen dalam tradisi masyarakat Jawa.
Nasi tumpeng sendiri berasal dari Jawa, khususnya dari tradisi agraris masyarakat yang memiliki keyakinan tentang hubungan antara manusia, alam, dan Tuhan.
Dan ternyata, nasi tumpeng sendiri sudah ada sejak masa Kerajaan Hindu-Buddha di Nusantara, di mana masyarakat kala itu sering kali membuat persembahan berupa makanan kepada para dewa dewi yang mereka yakini tinggal di gunung.

Visual yang biasa kita lihat pada nasi tumpeng ternyata bukan sekadar dekorasi untuk keindahan dan estetika dari makanannya saja, tetapi memiliki arti yang sangat dalam bagi kehidupan.
Bentuk kerucut dari nasi tumpeng melambangkan hubungan manusia dengan Tuhan, dan puncaknya yang menjulang tinggi menjadi simbol harapan untuk kehidupan yang lebih baik.
Nasi berbentuk kerucut yang menjulang keatas bak gunung ini biasa disajikan di atas wadah seperti tampah yang dialasi oleh daun pisang itu biasanya diletakkan 7 jenis lauk-pauk yang berbeda. Mungkin diantara kalian memiliki pertanyaan kenapa harus ada 7 lauk-pauk? masyarakat Jawa memaknai angka 7 (pitu) sebagai pitulungan atau pertolongan.
Nasi melambangkan makanan pokok yang berasal dari sesuatu yang bersish dan halal.
Ayam Jantan atau jago, artinya menghindari hal-hal buruk yang lekat pada ayam jago, seperti sok jago, kesombongan, selalu menyela pembicaraan, dan merasa benar sendiri.
Ikan lele berarti ketabahan, meski hidup di dalam air yang tidak mengalir dan tabah dalam mengatasi setiap masalah.
Telur rebus merupakan lambang dari manusia yang diciptakan dengan fitrah yang sama.
Sayur urap yang terdiri dari kangkung, bayam, kacang panjang, tauge, bawang merah, dan bumbu urap, memiliki makna yang berbeda di setiap bahannya. Seperti kangkung yang berarti jinangkung atau melindungi, bayam berarti ayem tentrem, tauge atau kecambah yang berarti bertumbuh, kacang panjang melambangkan pemikiran yang jauh kedepan, bawang merah yang memiliki arti hidup harus dengan pertimbbangan yang matang, dan bumbu urap berarti urip atau hidup atau menghidupi keluarga.
Cabai merah yang biasa kita kira hiasan juga memliki arti, yaitu agar hidup kita bisa menjadi penerang bagi orang-orang sekitar.

Cucurak dan tumpeng memang dua tradisi yang berbeda. Cucurak lekat dengan kebiasaan masyarakat Sunda menjelang Ramadhan, sedangkan tumpeng dikenal sebagai tradisi dalam masyarakat Jawa. Walaupun begitu, keduanya sama-sama memperlihatkan bahwa makanan mempunyai tempat tersendiri dalam kehidupan sosial dan budaya Indonesia.
Lewat cucurak, kita bisa melihat bagaimana makan bersama bisa mempererat hubungan. Lewat tumpeng, kita bisa mengenal simbol rasa syukur dan harapan yang diwariskan melalui tradisi.
Kalo dipikir-pikir, hal ini sebenarnya lekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Mulai dari makan bersama keluarga, membawa bekal untuk dibagikan ke temen-temen, sampe mengadakan makan-makan sederhana setelah kegiatan sekolah atau perayaan acara lainnya. Kelihatannya mungkin memang sepele, tapi dari momen yang seperti itu bisa menjadi cara kita untuk mempererat hubungan dan menciptakan kenangan indah bersama.

Di tengah kehidupan yang makin modern, tradisi seperti cucurak dan tumpeng tetap punya cerita yang layak dikenal. Kita tidak harus selalu mengadakan acara besar untuk menghargai budaya sendiri. Untuk menjaga warisan tradisi, kita bisa memulainya dengan cara yang sederhana, yaitu kita bisa mulai dengan mengenal asal-usulnya, memahami maknanya, dan mendengarkan dari orang tua atau bahkan orang-orang yang ada di sekitar kita.
*****

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.