Penulis: Paulus Pramudya F.A – Universitas Kristen Indonesia
Di umur berapa kalian baru tau kalo ternyata Lingsir Wengi ini dulunya dipake sebagai media penyebaran agama Islam dan lagu pengantar tidur lho? Selain itu, katanya dulu tembang ini dipake untuk tolak bala juga. Jadi, sebelum keburu takut duluan, yuk kita bongkar dulu fakta dibalik tembang Lingsir Wengi yang sering muncul di film-film horor.
Siapa nih yang langsung parno duluan kalo tiba-tiba denger lagu Lingsir Wengi?
Nuansa nya yang mistis dari tembang Lingsir Wengi emang nggak pernah lepas dari mitos. Menurut cerita yang beredar, tembang ini sangat disukai hantu-hantu khususnya hantu perempuan. Jadi nggak heran kalo tembang Lingsir Wengi ini dipercaya bisa memanggil “Mbak K”, alias Kuntilanak.
Yang jadi pertanyaan nya adalah, emang betul kalo tembang Lingsir Wengi dipake untuk manggil mereka yang nggak terlihat?
Biar nggak salah paham, kita mulai dari awal.

Lingsir Wengi awalnya diciptakan oleh salah satu figur dari Wali Songo yaitu Sunan Kalijaga, sekitar tahun 1450 M. Sunan Kalijaga sangat menyukai kesenian sehingga dikenal tidak hanya sebagai seorang wali, tetapi juga sebagai budayawan.
Sunan Kalijaga sering kali menggunakan budaya dan tradisi jawa untuk memperkenalkan ajaran Islam kepada masyarakat Jawa yang masih buta tentang agama saat itu.
Sunan Kalijaga menciptakan tembang Lingsir Wengi dengan menggunakan pakem gending yaitu Macapat. Pakem Macapat ini terdiri dari 11 macam pakem yang salah satunya yaitu Pakem Durma yang dipakai dalam Lingsir Wengi.
Tembang-tembang yang memakai Pakem Durma biasanya mencerminkan suasana yang keras, sangar, suram, kesedihan. Oleh sebab itu, Lingsir Wengi dilantunkan dengan perasaan yang lembut, tempi pelan, dan nuansa yang menyayat hati.

Ada berbagai macam budaya dan tradisi Jawa yang digunakan oleh Sunan Kalijaga sebagai media dalam mengenalkan ajaran Islam kepada masyarakat Jawa. Mulai dari wayang kulit, seni ukir, gamelan, sampai tembang-tembang berbahasa Jawa.
Lewat wayang, misalnya, kisah dan filosofi Islam diselipkan ke dalam cerita yang sudah dikenal banyak orang. Cara yang sama juga dipakai lewat tembang.
Salah satunya yaitu tembang Lingsir Wengi. Lingsir Wengi biasanya dilantunkan Sunan Kalijaga setelah melakukan shalat di malam hari. Dan sebagaimana lagu-lagu yang diciptakan oleh seorang wali atau ulama, tembang ini berisi doa-doa dan pujian kepada Sang Pencipta.
Buat masyarakat pada zaman itu, tembang seperti ini gampang dihafal, gampang diwariskan dari mulut ke mulut, dan terasa dekat dengan keseharian.

Selain dilantunkan selepas shalat malam, dulu tembang Lingsir Wengi juga dipakai para ibu sebagai lagu pengantar tidur untuk anak-anaknya.
Fungsinya bukan cuma bikin anak cepat tertidur, tapi juga dipercaya untuk menolak bala dan gangguan dari makhluk halus ketika tidur pada malam hari. Jadi, di masa itu tembang ini justru dianggap penenang dan pelindung, bukan pemanggil hantu.
Terus kenapa sekarang jadi identik sama hal-hal mistis?
Sejak film-film horor Indonesia mulai memakai tembang ini sebagai musik latar adegan kemunculan sosok gaib, terutama pada film Kuntilanak, telinga kita jadi dilatih mengaitkan alunannya dengan hal-hal mistis.
Dari situ, mitos tumbuh dan menyebar dari mulut ke mulut sampai banyak orang percaya tembang ini bisa mengundang makhluk halus.

Nggak semua yang kita kenal sebagai cerita horror cuma punya sisi horrornya aja. Kadang dibalik sesuatu yang keliatannya menyeramkan, juga ada fakta sejarah, dan budaya di dalamnya.
Jadi, apa kalian masih takut untuk dengerin tembang jawa yang satu ini setelah tau fakta dibaliknya?
Jadi, daripada keburu parno duluan, saatnya kita untuk mengenal kalau Lingsir Wengi ini bukan cuma sebagai “lagu pemanggil hantu”, tapi juga menjadi bagian dari budaya Jawa yang menarik untuk dipelajari.
*****

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.