Skip to main content

Majalah Sunday

Gejala Hikikomori di Indonesia

Penulis: Fariz Ilham – Telkom University Purwokerto

Pernah merasa lebih nyaman berada di kamar daripada bertemu orang lain?

Sesekali ingin menyendiri sebenarnya adalah hal yang wajar. Setelah menjalani hari yang melelahkan, kita mungkin membutuhkan waktu untuk beristirahat, bermain gim, menonton film, atau sekadar menikmati waktu sendiri.

Namun, bagaimana jika seseorang mulai menghindari hampir seluruh aktivitas sosial dan terus menghabiskan waktunya di rumah selama berbulan-bulan?

Fenomena seperti ini dikenal dengan istilah hikikomori.

Hikikomori merupakan bentuk penarikan diri sosial yang berat dan berkepanjangan. Istilah ini pertama kali banyak digunakan untuk menggambarkan fenomena di Jepang, tetapi penelitian kemudian menemukan kondisi serupa di berbagai negara. PubMed Central (PMC)

Karena itu, penting untuk mengenal hikikomori tanpa buru-buru memberikan label kepada diri sendiri ataupun orang lain.

Apa Itu Hikikomori?

Secara umum, hikikomori menggambarkan kondisi ketika seseorang mengalami penarikan diri sosial yang sangat kuat dan lebih banyak menghabiskan waktu di rumah.

Dalam kriteria yang diusulkan Kato, Kanba, dan Teo, tiga karakteristik utamanya adalah:

  • adanya isolasi sosial yang nyata di rumah,
  • berlangsung secara terus-menerus selama setidaknya enam bulan, dan
  • menimbulkan gangguan terhadap fungsi kehidupan atau tekanan psikologis (distress). PubMed Central (PMC)

Penarikan diri tersebut dapat membuat seseorang berhenti atau sangat mengurangi aktivitas seperti bersekolah, bekerja, bertemu teman, maupun melakukan interaksi sosial lainnya.

Hikikomori juga lebih tepat dipahami sebagai spektrum penarikan diri sosial, bukan sekadar kondisi “suka berada di rumah”.

Gejala Hikikomori di Indonesia

Apa Saja Gejala Hikikomori?

Tidak ada satu tanda yang bisa langsung membuktikan seseorang mengalami hikikomori. Namun, beberapa karakteristik yang perlu diperhatikan antara lain:

a. Lebih banyak menghabiskan waktu di rumah

Seseorang hampir selalu berada di rumah dan sangat jarang melakukan aktivitas di luar.

b. Menghindari interaksi sosial

Pertemuan dengan teman, kegiatan sekolah, kuliah, pekerjaan, atau aktivitas sosial lainnya mulai dihindari secara terus-menerus.

c. Hubungan sosial semakin terbatas

Interaksi dengan teman maupun orang lain dapat berkurang secara signifikan. Pada kondisi yang lebih berat, seseorang bahkan dapat membatasi interaksi dengan anggota keluarga yang tinggal bersamanya. PubMed Central (PMC)

d. Penarikan diri berlangsung dalam waktu lama

Durasi merupakan salah satu aspek penting. Kriteria yang diusulkan Kato dan rekan-rekannya menggunakan batas enam bulan atau lebih untuk hikikomori. PubMed Central (PMC)

e. Kehidupan sehari-hari mulai terganggu

Penarikan diri dapat berdampak pada pendidikan, pekerjaan, hubungan sosial, serta aktivitas sehari-hari lainnya.

Suka Menyendiri Apakah Berarti Hikikomori?

Belum tentu.

Menikmati waktu sendiri, tidak terlalu suka keramaian, atau lebih nyaman berada di rumah tidak otomatis berarti seseorang mengalami hikikomori.

Misalnya, kamu memilih menghabiskan akhir pekan di kamar karena ingin beristirahat setelah seminggu beraktivitas. Selama kamu masih dapat menjalani sekolah, kuliah, pekerjaan, hubungan sosial, dan aktivitas sehari-hari dengan baik, kondisi tersebut tidak bisa langsung disebut hikikomori.

Yang menjadi perhatian adalah ketika penarikan diri berlangsung lama, sangat membatasi kehidupan sosial, dan mulai mengganggu fungsi sehari-hari atau menimbulkan tekanan yang berarti. PubMed Central (PMC)

Jadi, jangan menggunakan istilah hikikomori hanya karena seseorang jarang nongkrong, tidak aktif di media sosial, atau lebih suka menghabiskan waktu sendirian.

Apa yang Bisa Menyebabkan Seseorang Menarik Diri?

Hikikomori tidak selalu memiliki satu penyebab.

Penelitian menunjukkan bahwa penarikan diri sosial dapat berkaitan dengan berbagai faktor psikologis, sosial, keluarga, maupun lingkungan. Hikikomori juga dapat muncul bersamaan dengan kondisi kesehatan mental tertentu, sehingga hubungan antara keduanya cukup kompleks. PubMed Central (PMC)

Karena itu, penting untuk tidak langsung mengatakan:

“Dia malas.”

atau

“Dia memang nggak mau bersosialisasi.”

Perilaku menarik diri bisa memiliki latar belakang yang berbeda pada setiap orang. Memahami penyebabnya membutuhkan percakapan dan, bila diperlukan, bantuan dari tenaga profesional.

Apa yang Bisa Dilakukan Jika Mengalaminya?

Kalau kamu merasa semakin lama semakin menjauh dari lingkungan sosial, jangan langsung menyalahkan diri sendiri.

Kamu bisa mencoba memulai dari langkah kecil.

Mulai berinteraksi dengan orang yang dipercaya.

Tidak harus langsung bertemu banyak orang. Mengirim pesan atau berbicara dengan satu orang yang membuatmu merasa aman bisa menjadi awal.

Kembali melakukan aktivitas secara bertahap.

Misalnya keluar kamar untuk makan bersama keluarga, berjalan sebentar di sekitar rumah, atau kembali melakukan aktivitas yang sebelumnya kamu sukai.

Ceritakan apa yang kamu rasakan.

Kalau menarik diri sudah berlangsung lama dan mulai mengganggu sekolah, pekerjaan, hubungan, atau kehidupan sehari-hari, cobalah berbicara dengan orang yang dipercaya atau tenaga profesional kesehatan mental.

Dan yang paling penting, jangan mendiagnosis diri sendiri hanya berdasarkan artikel atau konten di internet.

remaja sedang curhat kepada sahabat dan orang tuanya tentang financial abuse
(Klik gambar di atas, ketikan alt text yang di dalamnya harus ada keyphrase, jika sudah pilih caption, pilih custom caption)

Produk Rekomendasi Sunday

Menyendiri bukanlah sesuatu yang selalu buruk. Setiap orang membutuhkan ruang untuk beristirahat dan mengisi kembali energinya.

Namun, ketika seseorang terus-menerus menghindari lingkungan sosial, hampir selalu berada di rumah, dan kondisi tersebut berlangsung dalam waktu lama hingga mengganggu kehidupannya, hal itu patut diperhatikan.

Hikikomori bukan sekadar “suka di kamar”.

Memahami gejalanya bukan bertujuan untuk memberikan label, melainkan agar kita bisa lebih peka terhadap diri sendiri dan orang-orang di sekitar.

Kalau kamu melihat seseorang yang semakin menarik diri, jangan buru-buru menghakimi.

Mungkin, daripada bertanya “Kenapa kamu nggak mau keluar?”, kita bisa mulai dengan pertanyaan sederhana:

“Kamu baik-baik saja?”

Karena terkadang, seseorang tidak membutuhkan tekanan untuk segera berubah, tetapi membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan.

*****

Majalah Sunday, Teman Memahami Tips Belajar, Edukasi Seksual dan Kesehatan Mental

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.

Ikutan berkarya di
Majalah Sunday

Post Views: 3