Skip to main content

Majalah Sunday

Ketika Malam Terasa Lebih Nyaman Dari Siang

Penulis: Keisya Rahardjo – SMK 1 Perguruan Cikini

Buat sebagian orang, malam bukan sekadar waktu untuk tidur. Justru ketika suasana mulai sepi, lampu-lampu mulai redup, dan orang-orang sudah sibuk dengan urusannya masing-masing, ada rasa tenang yang sulit ditemukan di siang hari.

Mungkin kamu pernah merasa ide-ide justru muncul saat malam. Lebih fokus mengerjakan sesuatu ketika tidak banyak notifikasi yang masuk, atau sekadar merasa lebih nyaman ketika akhirnya tidak ada tuntutan dari siapa pun. Siang terasa ramai dan melelahkan, sedangkan malam seperti memberikan ruang untuk bernapas.

Perasaan ini sebenarnya cukup masuk akal. Ada beberapa hal yang bisa membuat malam terasa lebih nyaman, mulai dari kondisi lingkungan, kebutuhan untuk memiliki ruang pribadi, sampai ritme biologis tubuh.

Ketika Dunia Mulai Lebih Sepi

Buat sebagian orang, malam bukan sekadar waktu untuk tidur. Justru ketika suasana mulai sepi, lampu-lampu mulai redup, dan orang-orang sudah sibuk dengan urusannya masing-masing, ada rasa tenang yang sulit ditemukan di siang hari.

Mungkin kamu pernah merasa ide-ide justru muncul saat malam. Lebih fokus mengerjakan sesuatu ketika tidak banyak notifikasi yang masuk, atau sekadar merasa lebih nyaman ketika akhirnya tidak ada tuntutan dari siapa pun. Siang terasa ramai dan melelahkan, sedangkan malam seperti memberikan ruang untuk bernapas.

Perasaan ini sebenarnya cukup masuk akal. Ada beberapa hal yang bisa membuat malam terasa lebih nyaman, mulai dari kondisi lingkungan, kebutuhan untuk memiliki ruang pribadi, sampai ritme biologis tubuh.

Malam biasanya hening, namun puisi ini akan cocok bagimu, di mana merasakan tengah malam yang berisik, tepatnya di hatimu

Ketika Dunia Mulai Lebih Sepi

Salah satu alasan sederhana mengapa malam terasa nyaman adalah karena stimulus yang kita terima mulai berkurang.

Siang hari bisa dipenuhi suara kendaraan, percakapan, notifikasi, tugas, sekolah, pekerjaan, dan berbagai interaksi sosial. Tanpa disadari, semua itu membutuhkan perhatian dan energi mental. Dalam psikologi, banyaknya informasi yang harus diproses ini berkaitan dengan cognitive load atau beban kognitif.

Ketika terlalu banyak hal harus dipikirkan sekaligus, kita bisa lebih mudah merasa lelah dan sulit berkonsentrasi. Malam kemudian memberikan perubahan suasana yang cukup besar. Ketika gangguan berkurang, otak seolah punya lebih banyak ruang untuk memproses apa yang benar-benar ingin kita pikirkan.

Mungkin itu sebabnya setelah seharian menjalani berbagai kewajiban, muncul perasaan, “Akhirnya aku punya waktu untuk diriku sendiri.”

Malam Bisa Terasa Seperti Ruang Pribadi

Siang hari sering membuat kita berada dalam “mode sosial”. Kita perlu berbicara dengan orang lain, mengikuti aturan, memenuhi tanggung jawab, dan terkadang menyesuaikan diri dengan ekspektasi lingkungan.

Sementara itu, malam bisa memberikan rasa privasi yang lebih besar.

Tidak ada banyak orang yang memperhatikan apa yang sedang kita lakukan. Kita bisa membaca, mendengarkan musik, menulis, menggambar, bermain game, atau sekadar melamun tanpa merasa harus melakukan sesuatu untuk orang lain.

Bagi sebagian orang, rasa bebas inilah yang membuat malam terasa nyaman. Bukan karena mereka tidak menyukai orang lain, tetapi karena mereka akhirnya memiliki waktu untuk menjadi diri sendiri tanpa banyak tuntutan.

Tapi, Tidak Semua Orang Memiliki Energi yang Sama

Ada juga faktor biologis yang berperan. Setiap orang memiliki chronotype, yaitu kecenderungan alami mengenai kapan tubuh merasa paling aktif dan kapan mulai mengantuk.

Ada orang yang lebih mudah fokus di pagi hari, sementara yang lain baru merasa energinya meningkat pada sore atau malam. Perbedaan ini dapat dipengaruhi oleh faktor genetik, hormon, usia, serta lingkungan.

Karena itu, seseorang yang merasa lebih produktif pada malam hari belum tentu sekadar “malas bangun pagi”. Bisa saja ritme tubuhnya memang cenderung lebih aktif pada waktu tersebut.

Hal ini juga cukup relevan pada remaja. Selama masa pubertas, ritme tidur mengalami perubahan dan rasa kantuk secara alami dapat bergeser menjadi lebih malam. Akibatnya, remaja bisa merasa sulit mengantuk terlalu awal dan justru lebih terjaga pada malam hari.

Malam dan Rasa "Tidak Perlu Berprestasi"

Ada perbedaan suasana psikologis antara siang dan malam.

Siang mungkin identik dengan tugas, sekolah, pekerjaan, target, dan berbagai hal yang harus diselesaikan. Malam sering kali terasa seperti tanda bahwa semua tuntutan tersebut sudah selesai untuk sementara.

Karena itu, aktivitas yang sebenarnya sederhana bisa terasa lebih menyenangkan ketika dilakukan malam hari.

Membaca buku pada siang hari mungkin terasa seperti kewajiban. Membaca buku pada malam hari bisa terasa seperti pilihan.

Perubahan kecil dalam konteks ini dapat memberikan rasa autonomy, yaitu perasaan bahwa kita memiliki kendali atas apa yang ingin kita lakukan.

Kenapa Ide Malah Bermunculan Saat Malam?

Ketika gangguan berkurang, pikiran juga bisa lebih bebas berpindah dari satu hal ke hal lain.

Ada jaringan otak yang dikenal sebagai Default Mode Network (DMN), yang berkaitan dengan aktivitas seperti mengingat masa lalu, membayangkan masa depan, melamun, dan melakukan refleksi diri.

Suasana malam yang tenang dapat memberikan ruang bagi aktivitas seperti ini. Tidak heran kalau tiba-tiba muncul ide untuk menulis, membuat sesuatu, memikirkan rencana masa depan, atau bahkan menemukan solusi dari masalah yang sebelumnya terasa buntu.

Namun, bukan berarti malam secara otomatis membuat seseorang lebih kreatif. Bisa jadi kondisi yang mendukung kreativitaslah yang lebih mudah ditemukan pada malam hari: lebih sedikit gangguan, lebih banyak waktu sendiri, dan tekanan yang lebih rendah.

Malam Juga Bisa Menjadi Waktu untuk Pulih dari Interaksi Sosial

Setelah seharian berbicara dengan orang lain, mengikuti kegiatan, atau berada di lingkungan yang ramai, seseorang mungkin membutuhkan waktu untuk sendiri.

Hal ini sering disebut sebagai kelelahan sosial. Bukan berarti seseorang membenci interaksi atau tidak menyukai teman-temannya. Interaksi sosial memang membutuhkan energi, sehingga waktu sendiri dapat menjadi kesempatan untuk memulihkan diri.

Karena itu, orang yang menikmati malam tidak selalu berarti introvert. Seseorang bisa saja ekstrovert tetapi tetap menyukai suasana malam karena lebih tenang. Begitu juga sebaliknya.

Yang berpengaruh bukan sekadar kepribadian, tetapi juga kebutuhan terhadap stimulasi, kebiasaan, kondisi lingkungan, dan ritme energi masing-masing.

Saat Malam Membuat Kita Lebih Banyak Berpikir

Tapi ada sisi lain dari malam yang mungkin pernah kamu rasakan.

Ketika suara-suara dari luar mulai berkurang, perhatian kita bisa kembali tertuju pada pikiran sendiri. Hal-hal yang selama siang hari berhasil kita abaikan tiba-tiba muncul lagi.

Kejadian yang tadi siang terasa sepele bisa dipikirkan kembali. Percakapan lama bisa teringat. Masa depan mulai dipertanyakan. Bahkan sesuatu yang sebenarnya belum terjadi bisa membuat kita terus membuat berbagai kemungkinan di kepala.

Jadi, bagi sebagian orang, malam adalah waktu paling tenang. Bagi sebagian lainnya, justru malam adalah waktu ketika pikiran paling ramai.

Keduanya sama-sama bisa terjadi.

Ada Rasa Aman Ketika Tidak Banyak yang Melihat

Malam juga dapat mengurangi perasaan sedang diamati atau dinilai orang lain.

Ketika lingkungan lebih sepi, seseorang mungkin merasa lebih bebas dari ekspektasi sosial. Tidak perlu terlalu memikirkan bagaimana dirinya terlihat, apa yang sedang dilakukan orang lain, atau apakah dirinya sudah memenuhi standar tertentu.

Perasaan ini bisa terasa sangat melegakan, terutama bagi seseorang yang sepanjang hari banyak memikirkan penilaian dari lingkungan.

Malam akhirnya bukan hanya terasa sunyi, tetapi juga terasa lebih personal.

Namun, Nyaman dengan Malam Bukan Berarti Harus Begadang

Menjadi seseorang yang lebih aktif pada malam hari bukan sesuatu yang otomatis buruk. Yang perlu diperhatikan adalah apakah pola tersebut tetap memberikan kesempatan bagi tubuh untuk mendapatkan tidur yang cukup dan menjalani aktivitas sehari-hari dengan baik.

Masalah bisa muncul ketika seseorang terus tidur terlalu larut tetapi tetap harus bangun pagi. Lama-kelamaan, kurang tidur dapat membuat tubuh lebih lelah, sulit berkonsentrasi, dan memengaruhi suasana hati.

Malam juga sebaiknya tidak menjadi satu-satunya tempat untuk melarikan diri dari masalah. Merasa nyaman sendirian itu wajar, tetapi tetap membutuhkan hubungan sosial dan menghadapi hal-hal yang perlu diselesaikan juga merupakan bagian dari menjaga keseimbangan.

Jadi, kalau kamu merasa lebih nyaman saat malam, mungkin tidak ada yang aneh denganmu. Bisa jadi tubuhmu memang memiliki ritme tertentu, atau kamu hanya menemukan ketenangan yang lebih sulit didapatkan ketika siang terlalu ramai.

Yang penting bukan apakah kamu lebih suka siang atau malam, tetapi apakah pola yang kamu jalani tetap membuatmu bisa beristirahat, menjalani aktivitas, dan merasa baik-baik saja.

Karena terkadang, alasan kita menyukai malam bukan karena kita membenci siang. Kita hanya membutuhkan sedikit waktu ketika dunia terasa lebih pelan, tuntutan berkurang, dan akhirnya kita bisa mendengar diri sendiri tanpa terlalu banyak suara dari luar.

Produk Rekomendasi Sunday

Pada akhirnya, merasa lebih nyaman di malam hari bukan berarti ada yang salah dengan diri kita. Suasana yang lebih tenang, berkurangnya tuntutan sosial, ritme biologis, hingga kesempatan untuk memiliki waktu sendiri bisa membuat malam terasa lebih aman dan nyaman bagi sebagian orang. Namun, kenyamanan itu tetap perlu diimbangi dengan tidur yang cukup dan kehidupan yang seimbang. Karena mungkin, yang kita cari dari malam bukan sekadar kesunyian, melainkan sebuah ruang untuk berhenti sejenak dari ramainya dunia dan kembali mendengarkan diri sendiri.

*****

Majalah Sunday, Teman Memahami Tips Belajar, Edukasi Seksual dan Kesehatan Mental

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.

Ikutan berkarya di
Majalah Sunday

Post Views: 5