Skip to main content

Majalah Sunday

Kenapa Kita Sering Merasa Bersalah Saat Memilih Diri Sendiri

Penulis: Keisya Rahardjo – SMK 1 Perguruan Cikini

Sunners, pernah nggak kamu ingin menolak ajakan teman karena sedang lelah, tetapi setelahnya malah merasa tidak enak? Atau ketika memilih sesuatu yang sebenarnya kamu inginkan, tiba-tiba muncul pikiran, “Apa aku egois?”

Mungkin juga kamu pernah ingin beristirahat, tetapi merasa seharusnya melakukan sesuatu yang lebih “berguna”. Atau ingin memilih jurusan, pekerjaan, maupun jalan hidup yang kamu mau, tetapi takut mengecewakan keluarga. Padahal, belum tentu ada yang salah dari pilihan tersebut.

Kadang, rasa bersalah muncul bukan karena kita melakukan sesuatu yang buruk, tetapi karena kita terlalu terbiasa mempertimbangkan kebutuhan dan perasaan orang lain sampai lupa bahwa diri sendiri juga punya kebutuhan.

Memilih Diri Sendiri Bukan Berarti Egois

Memilih diri sendiri sering kali disalahartikan sebagai hanya mementingkan diri sendiri. Padahal, keduanya berbeda.

Memilih diri sendiri bisa berarti memberi waktu untuk beristirahat ketika tubuh sudah lelah, menetapkan batas ketika sesuatu sudah terlalu berat, atau mengambil keputusan yang sesuai dengan nilai dan kebutuhan pribadi. Hal tersebut lebih dekat dengan self-care, yaitu usaha untuk menjaga kesehatan fisik, psikologis, dan emosional.

Jadi, menjaga diri bukan berarti berhenti peduli kepada orang lain. Kita tetap bisa peduli kepada orang lain sambil menyadari bahwa diri kita juga perlu diperhatikan.

self love dan kesiapan menjalin hubungan romantis

Lalu, Kenapa Rasanya Tetap Bersalah

Manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial. Kita membutuhkan hubungan, penerimaan, dan rasa menjadi bagian dari suatu kelompok.

Sejak dulu, hubungan dengan kelompok memiliki peran penting dalam kehidupan manusia. Karena itu, kita secara alami cukup sensitif terhadap penolakan, konflik, dan kemungkinan kehilangan hubungan.

Rasa bersalah sendiri sebenarnya memiliki fungsi yang baik. Ketika kita menyakiti seseorang atau melakukan sesuatu yang bertentangan dengan nilai kita, rasa bersalah dapat mendorong kita untuk memperbaiki keadaan.

Masalahnya muncul ketika rasa bersalah datang meskipun kita sebenarnya tidak melakukan kesalahan.

Misalnya:

“Aku nggak ikut karena sedang capek.”

Kemudian muncul:

“Aku teman yang buruk.”

Padahal, mengambil waktu untuk beristirahat bukan berarti kita tidak peduli kepada teman.

Ketika Kita Terbiasa Menyenangkan Orang Lain

Salah satu hal yang bisa membuat seseorang sulit memilih dirinya sendiri adalah people-pleasing.

Orang yang terbiasa menyenangkan orang lain mungkin sering merasa harus mengatakan “iya”, takut mengecewakan, sulit menolak, atau merasa bertanggung jawab atas perasaan orang lain. Lama-kelamaan, muncul keyakinan bahwa nilai diri bergantung pada seberapa berguna kita bagi orang lain.

Akibatnya, ketika suatu hari kita mengatakan “tidak”, rasa bersalah langsung muncul.

Padahal, kemampuan membantu orang lain bukan satu-satunya ukuran bahwa kita adalah orang baik. Kita tetap berharga meskipun sedang tidak bisa memenuhi semua kebutuhan orang lain.

Takut Dianggap Egois

Banyak dari kita tumbuh dengan nasihat seperti “jangan mengecewakan orang lain”, “pikirkan orang lain”, atau “jangan cuma mementingkan diri sendiri”.

Nasihat tersebut sebenarnya memiliki sisi positif. Kita memang perlu belajar mempertimbangkan orang lain. Namun, kalau dibawa terlalu jauh, kita bisa mulai percaya bahwa kebutuhan sendiri tidak sepenting kebutuhan orang lain.

Ada perbedaan antara:

“Aku perlu mempertimbangkan orang lain.”

dan:

“Kebutuhanku tidak penting selama orang lain bahagia.”

Yang pertama adalah kepedulian. Yang kedua bisa membuat kita terus mengorbankan diri.

Menghargai diri sendiri bukan berarti menjadi egois. Kita bisa tetap mempertimbangkan orang lain sambil mengatakan, “Aku juga punya batas.”

Ketika Keluarga dan Lingkungan Ikut Membentuk Pilihan Kita

Rasa bersalah juga bisa muncul karena nilai yang kita pelajari dari keluarga dan lingkungan.

Dalam banyak keluarga dan budaya yang menekankan keharmonisan, menghormati orang tua, serta menjaga hubungan, keputusan pribadi terkadang terasa seperti sesuatu yang harus selalu disesuaikan dengan harapan orang lain. Misalnya, seorang remaja ingin mengambil jurusan yang sesuai dengan minatnya, tetapi keluarganya memiliki pilihan lain.

Di satu sisi ada keinginan:

“Aku ingin menjalani sesuatu yang memang aku suka.”

Di sisi lain ada ketakutan:

“Kalau aku memilih ini, apakah aku mengecewakan keluargaku?”

Konflik seperti ini bisa terasa berat, terutama ketika seseorang masih mencari tahu siapa dirinya dan seperti apa masa depannya.

Kita Juga Takut Kehilangan Orang yang Kita Sayangi

Memilih diri sendiri kadang terasa menakutkan karena kita menghubungkannya dengan kehilangan hubungan.

“Apa mereka akan marah?”

“Apa mereka akan menjauh?”

“Apa mereka masih menyukaiku kalau aku tidak selalu membantu?”

Dalam Self-Determination Theory, manusia memiliki kebutuhan untuk merasa memiliki kendali atas hidupnya (autonomy), merasa mampu (competence), dan merasa terhubung dengan orang lain (relatedness).

Masalah dapat muncul ketika seseorang merasa harus mengorbankan autonomy agar tetap diterima oleh orang lain. Padahal, hubungan yang sehat seharusnya tidak mengharuskan seseorang terus-menerus mengabaikan dirinya sendiri.

Ketika Identitas Kita Terlalu Bergantung pada Peran

Kadang kita juga terbiasa mengenal diri melalui peran yang kita jalankan.

“Aku anak yang harus membanggakan orang tua.”

“Aku teman yang selalu membantu.”

“Aku orang yang selalu bisa diandalkan.”

Peran-peran tersebut tidak salah. Namun, kalau seluruh nilai diri bergantung pada peran itu, mengatakan “tidak” bisa terasa seperti kehilangan bagian dari diri sendiri. 

Misalnya, seseorang yang selalu membantu teman akhirnya tidak bisa membantu sekali. Ia mungkin langsung berpikir:

“Aku bukan teman yang baik.”

Padahal, menjadi teman yang baik tidak berarti harus selalu tersedia. Kita boleh punya batas. Kita boleh lelah. Kita boleh tidak mampu membantu setiap saat.

Remaja Juga Sedang Belajar Menemukan Dirinya

Hal ini bisa terasa semakin rumit selama masa remaja. Remaja sedang berada dalam proses membentuk identitas. Ada banyak pertanyaan yang mulai muncul:

“Sebenarnya aku seperti apa?”

“Apa yang penting buatku?”

“Aku ingin menjadi siapa?”

Namun di saat yang sama, ada kebutuhan untuk diterima oleh teman, keluarga, dan lingkungan.

Akhirnya muncul konflik antara keinginan untuk menjadi diri sendiri dan ketakutan kehilangan penerimaan.

Wajar kalau proses ini terasa membingungkan. Menemukan diri sendiri memang tidak selalu berarti langsung tahu apa yang kita mau. Kadang kita justru perlu mencoba, berubah pikiran, dan belajar menentukan batas untuk memahami diri sendiri.

Media Sosial Bisa Membuat Kita Semakin Sulit Berhenti

Media sosial juga bisa menambah tekanan.

Kita melihat orang lain yang terlihat produktif, aktif, sukses, membantu banyak orang, atau seolah selalu punya energi untuk melakukan berbagai hal.

Tanpa sadar, kita mulai membandingkan diri:

“Kok aku nggak bisa seperti mereka?”

Bahkan beristirahat bisa terasa seperti sesuatu yang harus disalahkan.

Budaya hustle juga dapat membuat produktivitas seolah menjadi ukuran nilai seseorang. Akibatnya, ketika kita memilih istirahat atau melakukan sesuatu untuk diri sendiri, muncul perasaan bahwa kita sedang membuang waktu.

Padahal manusia bukan mesin yang harus terus bekerja.

Memilih Diri Sendiri Tetap Membutuhkan Keseimbangan

Memilih diri sendiri bukan berarti kita harus selalu mendahulukan kebutuhan pribadi.

Ada kalanya kita memang perlu berkompromi, membantu orang lain, atau melakukan sesuatu yang tidak sepenuhnya kita inginkan.

Yang penting adalah keseimbangan.

Kita bisa bertanya kepada diri sendiri:

“Apakah aku melakukan ini karena memang ingin membantu, atau karena takut merasa bersalah?”

Pertanyaan sederhana ini bisa membantu membedakan kepedulian dengan pengorbanan diri yang berlebihan. Kita juga bisa belajar mengatakan “tidak” tanpa harus merasa menjadi orang jahat.

Tidak:

“Aku nggak peduli.”

Tetapi:

“Aku paham kamu membutuhkan bantuanku, tapi kali ini aku belum bisa.”

Kita bertanggung jawab atas tindakan dan cara kita memperlakukan orang lain. Namun, kita tidak selalu bertanggung jawab atas setiap perasaan yang muncul pada orang lain.

Jadi, Kapan Rasa Bersalah Perlu Dipertanyakan

Coba perhatikan kalau kamu sering:

– merasa bersalah ketika beristirahat,

– sulit menolak permintaan,

– takut mengecewakan orang,

– membutuhkan persetujuan orang lain untuk mengambil keputusan,

– mengabaikan kebutuhan sendiri,

– atau merasa bertanggung jawab atas kebahagiaan semua orang.

Bukan berarti kamu pasti melakukan sesuatu yang salah. 

Mungkin justru ada bagian dari dirimu yang terlalu lama belajar bahwa kebutuhan orang lain harus selalu berada di atas kebutuhan sendiri.

Belajar memilih diri sendiri memang membutuhkan waktu. Kita mungkin masih merasa bersalah ketika pertama kali menetapkan batas. Itu tidak selalu berarti keputusan kita salah. Kadang, rasa bersalah hanya muncul karena kita sedang melakukan sesuatu yang belum terbiasa kita lakukan.

Pada akhirnya, kedewasaan bukan tentang selalu memilih diri sendiri atau selalu mengorbankan diri untuk orang lain.

Kedewasaan adalah ketika kita mulai memahami bahwa:

“Aku penting, tetapi orang lain juga penting.”

Kita bisa peduli kepada orang lain tanpa kehilangan diri sendiri. Kita bisa menyayangi orang lain tanpa harus selalu mengatakan “iya”. Dan kita bisa memilih sesuatu untuk diri sendiri tanpa otomatis menjadi egois.

Karena menjaga diri bukan berarti berhenti peduli.

Terkadang, itu justru cara kita belajar bahwa diri sendiri juga layak dipedulikan.

Produk Rekomendasi Sunday

Pada akhirnya, merasa bersalah saat memilih diri sendiri bukan selalu berarti kita melakukan sesuatu yang salah. Rasa tersebut bisa muncul karena kita terbiasa mencari penerimaan, takut mengecewakan orang lain, atau menganggap kebutuhan orang lain lebih penting daripada kebutuhan sendiri. Padahal, menjaga diri, menetapkan batas, dan mengambil keputusan sesuai kebutuhan bukan berarti egois. Kita tetap bisa peduli kepada orang lain tanpa harus terus-menerus mengorbankan diri. Karena memilih diri sendiri bukan tentang mengutamakan diri di atas semua orang, tetapi tentang menyadari bahwa diri kita juga layak diperhatikan.

*****

Majalah Sunday, Teman Memahami Tips Belajar, Edukasi Seksual dan Kesehatan Mental

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.

Ikutan berkarya di
Majalah Sunday

Post Views: 8