Skip to main content

Majalah Sunday

Jangan Terima Mentah-Mentah Hasil Terjemahan dari Mesin Penerjemah

Di zaman sekarang, menerjemahkan bahasa asing terasa jauh lebih mudah. Hanya dengan mengetik beberapa kata di Google Translate atau aplikasi penerjemah lainnya, kita bisa langsung mendapatkan hasil dalam hitungan detik.

Buat pelajar yang sedang mengerjakan tugas bahasa Inggris, membaca artikel asing, atau memahami konten dari luar negeri, teknologi ini tentu sangat membantu. Namun, apakah hasil terjemahan mesin selalu bisa dipercaya begitu saja?

Jawabannya: belum tentu.

Menurut Gunawan Tambunanribu, dosen Program Studi Sastra Inggris Fakultas Sastra dan Bahasa Universitas Kristen Indonesia, teknologi penerjemahan memang berkembang pesat, tetapi masih memiliki keterbatasan, terutama ketika berhadapan dengan bahasa yang memiliki unsur budaya, keindahan, dan makna tersirat.

Inilah alasan mengapa ilmu penerjemahan tetap penting untuk dipelajari.

Jangan Terima Mentah-Mentah Hasil Terjemahan dari Mesin Penerjemah

Bahasa Bukan Sekadar Mengganti Kata

Banyak orang mengira bahwa menerjemahkan berarti hanya mengganti kata dari satu bahasa ke bahasa lain. Misalnya, kata dalam bahasa Indonesia dicari padanannya dalam bahasa Inggris, lalu disusun kembali.

Padahal, penerjemahan tidak sesederhana itu.

Setiap bahasa memiliki struktur, kebiasaan, dan cara menyampaikan pesan yang berbeda. Sebuah kata bisa memiliki makna tertentu tergantung konteks, budaya, bahkan emosi yang ingin disampaikan oleh penulis.

Misalnya, dalam karya sastra seperti puisi atau novel, penulis sering menggunakan permainan kata, metafora, perumpamaan, hingga gaya bahasa tertentu untuk membangun suasana.

Jika diterjemahkan secara langsung oleh mesin, pesan tersebut bisa kehilangan keindahannya.

Bayangkan sebuah puisi yang memiliki rima tertentu. Dalam bahasa aslinya, susunan kata mungkin terdengar indah karena memiliki pola bunyi yang khas. Namun, ketika diterjemahkan menggunakan mesin, fokusnya biasanya hanya pada arti kata, bukan bagaimana kata tersebut terdengar atau terasa bagi pembaca.

Akibatnya, pesan mungkin tetap tersampaikan, tetapi pengalaman membaca bisa berubah.

Ketika Terjemahan Literal Menghasilkan Makna yang Aneh

Salah satu tantangan terbesar dalam penerjemahan adalah memahami bahasa kiasan atau figurative language.

Bahasa kiasan adalah cara menyampaikan sesuatu tidak secara langsung, melainkan melalui gambaran tertentu agar pesan terasa lebih kuat dan menarik.

Contohnya, kalimat:

“Suaranya menggelegar membelah bumi.”

Kalimat tersebut tentu bukan berarti suara seseorang benar-benar membelah bumi. Ini adalah hiperbola, yaitu gaya bahasa yang menggunakan ungkapan berlebihan untuk menunjukkan bahwa suara tersebut sangat keras.

Jika diterjemahkan secara literal oleh mesin, hasilnya bisa menjadi aneh karena mesin hanya menerjemahkan kata demi kata.

Padahal, dalam bahasa Inggris terdapat ungkapan lain yang memiliki efek serupa, misalnya menggambarkan suara yang sangat keras hingga “terdengar sampai ke tempat yang jauh”.

Hal seperti ini membutuhkan pemahaman manusia. Seorang penerjemah harus mampu menangkap maksud, suasana, dan efek emosional dari sebuah kalimat, bukan hanya arti permukaannya.

Budaya Memengaruhi Cara Kita Berbahasa

Selain memahami kata, seorang penerjemah juga harus memahami budaya.

Sebuah perumpamaan yang terasa alami dalam satu budaya belum tentu memiliki makna yang sama di budaya lain.

Misalnya, dalam bahasa Indonesia kita bisa mengatakan:

“Wajahnya pucat seperti kapas.”

Kapas sering digunakan sebagai gambaran sesuatu yang putih dan bersih. Namun, jika diterjemahkan langsung ke bahasa Inggris menjadi “his face is as white as cotton”, kalimat tersebut terdengar kurang alami bagi penutur asli bahasa Inggris.

Dalam budaya bahasa Inggris, gambaran yang lebih umum adalah:

“his face is as white as snow.”

Mengapa? Karena salju merupakan sesuatu yang lebih dekat dengan pengalaman budaya mereka sebagai simbol warna putih.

Contoh sederhana ini menunjukkan bahwa penerjemahan bukan hanya tentang bahasa, tetapi juga tentang memahami cara suatu masyarakat melihat dunia.

Apakah Mesin Penerjemah Akan Menggantikan Manusia?

Dengan perkembangan teknologi kecerdasan buatan, mesin penerjemah memang semakin canggih. Namun, menurut Gunawan, mesin belum dapat sepenuhnya menggantikan peran manusia, terutama dalam menerjemahkan karya sastra.

Mesin sangat membantu untuk memahami informasi dasar, mencari arti kata, atau mendapatkan gambaran umum sebuah teks. Namun, ketika berhadapan dengan tulisan yang membutuhkan rasa, kreativitas, dan pemahaman konteks, kemampuan manusia masih sangat dibutuhkan.

Seorang penerjemah tidak hanya bertugas menyampaikan kata, tetapi juga membawa pesan, emosi, dan keindahan dari satu bahasa ke bahasa lainnya.

Karena itu, penerjemah harus memiliki kemampuan memahami budaya, gaya bahasa, serta pilihan kata yang tepat agar hasil terjemahan tetap terasa alami.

Gunakan Teknologi dengan Bijak

Bukan berarti kita tidak boleh menggunakan mesin penerjemah. Justru, teknologi tersebut dapat menjadi alat yang sangat membantu dalam proses belajar.

Namun, jangan langsung menerima hasilnya tanpa mengecek kembali.

Saat menggunakan aplikasi penerjemah, cobalah tanyakan beberapa hal:

  • Apakah kalimatnya terdengar alami?
  • Apakah maknanya sesuai dengan konteks?
  • Apakah ada kemungkinan kata tersebut memiliki arti lain?
  • Apakah ungkapan tersebut memang digunakan oleh penutur asli?

Sikap kritis seperti ini penting, terutama bagi pelajar yang sedang belajar bahasa asing.

Teknologi dapat membantu mempercepat proses belajar, tetapi pemahaman manusia tetap menjadi kunci utama.

*****

Produk Rekomendasi Sunday

Pada akhirnya, bahasa bukan hanya kumpulan kata. Bahasa adalah cara manusia menyampaikan pikiran, perasaan, budaya, dan pengalaman. Karena itu, memahami bahasa berarti juga memahami manusia di balik bahasa tersebut.

Jadi, ketika menggunakan mesin penerjemah, jangan hanya mencari hasil tercepat. Belajarlah memahami maknanya, karena terkadang satu kata bisa membawa cerita yang jauh lebih besar daripada sekadar terjemahan di layar.

*****

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.

Ikutan berkarya di
Majalah Sunday

Post Views: 4