Skip to main content

Majalah Sunday

Mengapa Perbuatan Jahat Kadang Lebih Mudah Diingat
Namun Perbuatan Baik Sering Terlupakan?

Penulis: Fariz Ilham – Telkom University Purwokerto

Hi Sunners! Siapa di sini yang pernah merasa kalau satu kesalahan kecil di sekolah atau media sosial langsung menghapus puluhan kebaikan yang pernah kamu lakukan di mata orang lain? Atau mungkin kamu masih terus kepikiran gara-gara satu komentar negatif, padahal sebelumnya banyak orang memberikan pujian. Kok bisa ya kita lebih fokus pada hal-hal buruk seperti itu?

Nah, ternyata kondisi ini bukan sekadar perasaan atau tanda kalau kamu terlalu sensitif. Dalam psikologi, ada fenomena yang disebut negative bias, yaitu kecenderungan otak manusia untuk lebih memperhatikan, mengingat, dan merespons pengalaman negatif dibandingkan pengalaman positif. Lalu, apa penyebabnya dan bagaimana dampaknya bagi kehidupan remaja? Yuk, kita bahas lebih lanjut!

Apa itu Negative Bias?

Negative bias adalah kecenderungan alami otak untuk memberikan bobot yang lebih besar pada pengalaman negatif daripada pengalaman positif. Konsep ini diperkuat oleh penelitian psikologi klasik Bad Is Stronger Than Good yang dilakukan Roy F. Baumeister dan rekan-rekannya pada tahun 2001. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa kritik, kegagalan, atau pengalaman buruk memiliki dampak psikologis yang lebih kuat dan bertahan lebih lama dibandingkan pujian atau pengalaman baik dengan tingkat yang sama.

Akibatnya, satu kesalahan kecil sering kali terasa lebih besar daripada puluhan keberhasilan yang telah kita capai. Hal inilah yang membuat seseorang mudah terjebak dalam overthinking dan merasa dirinya buruk hanya karena satu pengalaman negatif.

Mengapa Otak Lebih Mengingat Hal Buruk daripada Hal Baik?

Lalu, mengapa otak kita bekerja seperti itu? Para peneliti menjelaskan bahwa kecenderungan ini merupakan hasil dari proses evolusi manusia. Pada masa lalu, kemampuan mengenali ancaman seperti hewan buas atau lingkungan berbahaya jauh lebih penting untuk bertahan hidup dibandingkan menikmati pengalaman yang menyenangkan. Oleh karena itu, otak berkembang menjadi lebih peka terhadap hal-hal negatif.

Walaupun sekarang ancaman fisik sudah jauh berkurang, cara kerja otak tersebut masih tetap ada. Bedanya, ancaman yang kita hadapi saat ini lebih sering berupa kritik, komentar pedas di media sosial, nilai yang jelek, atau rasa malu karena melakukan kesalahan. Itulah mengapa pengalaman negatif lebih mudah tersimpan dalam ingatan dibandingkan pengalaman positif.

Dampaknya bagi Remaja di Sekolah dan Media Sosial

Dalam kehidupan remaja, negative bias sering muncul ketika seseorang lebih mengingat satu komentar yang menyakitkan dibandingkan puluhan komentar yang mendukung. Misalnya, kamu sudah berusaha aktif di sekolah, membantu teman, dan memiliki prestasi yang baik. Namun, ketika melakukan satu kesalahan, justru kesalahan itulah yang terus menjadi bahan pembicaraan.

Kondisi ini dapat memicu overthinking, menurunkan rasa percaya diri, hingga membuat seseorang terlalu bergantung pada validasi dari orang lain. Akibatnya, banyak remaja merasa bahwa dirinya tidak cukup baik, padahal penilaian tersebut lebih dipengaruhi oleh cara kerja otak daripada kenyataan yang sebenarnya.

Cara Menghadapi Negative Bias

Kabar baiknya, negative bias bukan berarti kita harus terus terjebak dalam pikiran negatif. Langkah pertama adalah menyadari bahwa kecenderungan tersebut merupakan proses psikologis yang normal. Dengan memahami hal ini, kita dapat berhenti menyimpulkan bahwa satu kesalahan mencerminkan seluruh nilai diri kita.

Selain itu, bias negatif dapat dikurangi dengan membiasakan diri mengingat pencapaian, menerima pujian tanpa meremehkannya, serta membatasi kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain di media sosial. Fokus pada proses belajar dan perkembangan diri juga membantu kita melihat bahwa setiap kesalahan hanyalah bagian dari perjalanan, bukan identitas kita.

Pada akhirnya, penelitian Bad Is Stronger Than Good mengajarkan bahwa kecenderungan mengingat hal-hal buruk merupakan sifat alami otak manusia. Jadi, jika kamu masih terus memikirkan satu kesalahan, bukan berarti kamu adalah orang yang gagal atau tidak berharga. Bisa jadi, itu hanyalah efek dari negative bias.

Mulai sekarang, cobalah untuk tidak membiarkan satu pengalaman buruk menghapus semua hal baik yang sudah kamu lakukan. Hargai setiap proses, rayakan pencapaian sekecil apa pun, dan ingat bahwa nilai dirimu tidak ditentukan oleh satu kesalahan, melainkan oleh bagaimana kamu terus belajar dan berkembang setiap harinya.

*****

Majalah Sunday, Teman Memahami Tips Belajar, Edukasi Seksual dan Kesehatan Mental

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.

Ikutan berkarya di
Majalah Sunday

Post Views: 4