Penulis: Marcello Salvares – Universitas Bunda Mulia
Lobotomi: Manusia Tanpa Jiwa yang Disebabkan oleh Kekejaman Medis. Mungkin kamu belum pernah menemukan kata itu sebelumnya. Namun, dalam bidang kesehatan mental, nama ini membawa sejarah paling kelam. Sebuah prosedur yang pernah dipuji sebagai sebuah terobosan besar akhirnya menjadi mimpi buruk bagi puluhan ribu orang. Salah satunya bernama Firman Wijaya.
Firman bukanlah seorang psikopat. Dia bukanlah seorang pembunuh atau penjahat; nyatanya dia tidak pernah menyakiti teman-temannya. Namun, Firman dianggap “bermasalah” oleh orang tuanya karena satu alasan sederhana yaitu ia terlalu sensitif. Firman sering menangis tanpa alasan, terkadang meluapkan amarahnya karena masalah kecil, dan beberapa kali mengancam akan meninggalkan rumah.
Di era modern saat ini, Firman mungkin hanya dirujuk ke psikolog untuk mendapatkan konseling atau mungkin diberi resep obat penenang. Namun, pada tahun 1950-an, bidang kesehatan mental mengalami keterbelakangan.
Di beberapa negara, rumah sakit jiwa terlalu penuh sehingga mampu menampung 120.000 pasien. Saat itu, psikiater belum memiliki obat yang efektif. Satu-satunya “senjata” mereka adalah kursi listrik, jaket pengekang, dan koma insulin. Mereka berada dalam situasi putus asa. Dan di tengah keputusasaan itu, muncullah “keajaiban” yang kemudian menjadi mimpi buruk terbesar dalam sejarah kedokteran.
“Keajaiban” ini dialami Firman setelah ibunya membaca artikel di surat kabar. Dokter Portugis António Egas Moniz menemukan metode untuk menenangkan individu yang tidak stabil secara mental dengan memutus sambungan saraf di bagian depan otak. Prosedur ini dikenal sebagai lobotomi.
Bahkan, Moniz dianugerahi Hadiah Nobel pada tahun 1949 atas penemuannya.
Namun yang benar-benar menggemparkan dunia adalah seorang dokter Amerika bernama Walter Freeman. Freeman berpendapat bahwa operasi otak memakan waktu terlalu lama. Dia mencari sesuatu yang lebih cepat. Suatu hari, dia mengambil pemecah es dari dapurnya.
Dia memodifikasinya menjadi alat bedah.
Sementara pasien tetap setengah sadar, seringkali hanya menerima sengatan listrik singkat untuk anestesi, Freeman akan menusukkan paku es ke sudut mata, menusuk di belakang bola mata, dan menusuk otak. Begitu masuk, dia memindahkan paku tersebut hingga merusak jaringan otak.
Seluruh proses selesai hanya dalam 10 menit. Ruang operasi yang steril tidak diperlukan. Faktanya, Freeman memajang papan reklame di mobilnya dan melakukan perjalanan dari kota ke kota. Mobil itu diberi nama “Lobotomobile”.
Firman Wijaya menjadi salah satu pasien Freeman.
Dia ditempatkan di kursi. Matanya dipenuhi obat bius. Freeman meletakkan alat itu di sudut mata Firman. Retakan. Terdengar suara kecil. Lalu, bergerak cepat.
Ketika Firman terbangun, matanya menjadi hitam karena pukulan, membuatnya linglung selama beberapa hari. Ajaibnya, kemarahan Firman sirna. Dia menjadi sangat tenang.
Tapi, dia juga kehilangan orang lain.
Sejak saat itu, Firman tidak pernah lagi tersenyum lebar. Dia tidak pernah marah. Bahkan setelah ayahnya meninggal, Firman tetap tanpa ekspresi dan hanya duduk diam. Ia tidak lagi memiliki cita-cita menjadi pilot. Dia tidak peduli lagi dengan teman-temannya. Firman tetap hidup dan jiwanya mengembara, namun roh nya mati.
Dokter menjulukinya sebagai “sukses”, namun kenyataannya, lobotomi frontal lah yang menghancurkan bagian otak yang bertanggung jawab atas kemanusiaannya.
Puluhan ribu orang di Amerika saja pernah mengalami kasus serupa dengan Firman. Bahkan anak-anak berusia 12 tahun, seperti Howard Dully, menjadi korbannya. Dully menjalani lobotomi semata-mata karena ibu tirinya menganggapnya “nakal”, yang menyebabkan dia menghabiskan 40 tahun hidupnya bersepeda antara rumah sakit jiwa dan penjara.
Kisah yang paling memilukan mungkin adalah kisah keluarga paling terkenal di Amerika, keluarga Kennedy. Rosemary Kennedy adalah saudara perempuan Presiden John F. Kennedy. Kennedy adalah seorang gadis muda yang bahagia dengan cacat intelektual ringan.
Khawatir Rosemary akan merugikan kedudukan politik keluarga, ayahnya diam-diam mengatur agar Rosemary menjalani lobotomi pada usia 23 tahun.
Setelah operasi, Rosemary tidak lagi dapat berbicara dengan jelas. Tangannya tidak bisa bergerak. Pikiran dan kepribadiannya hancur selamanya. Dia menghabiskan sisa hidupnya di sebuah institusi, tidak mampu mengurus dirinya sendiri.
Ironisnya, saudara laki-lakinya, Presiden Kennedy, begitu terpukul sehingga dia kemudian mengeluarkan undang-undang kesehatan mental yang penting untuk mencegah hal serupa terjadi pada orang lain.
Kejadian ini meninggalkan sebuah misteri besar, apakah mereka yang sudah kehilangan jiwanya masih seorang manusia? Dan apa sebenarnya yang membuat metode mengerikan ini ditemukan?
*****

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.