Penulis: Marcello Salvares – Universitas Bunda Mulia
Namanya Fausta, dia berumur tujuh belas tahun. Seperti kebanyakan remaja seusianya, ia sibuk dengan sekolah, mengumpulkan tugas, dan terkadang begadang untuk bermain game hingga dini hari. Dia tidak istimewa dalam hal apapun. Hingga suatu hari selepas pulang sekolah, dia merasa sedikit pusing dan berbaring di tempat tidur. Lima belas menit kemudian, jantungnya berhenti berdetak. Hal ini bukan karena kondisi bawaan, itu bukanlah suatu kebetulan tapi jantungnya berhenti begitu saja. Selama beberapa waktu, Fausta absen dari dunia ini. Kemudian dia kembali dengan kenangan tak biasa dan beberapa rahasia yang masih belum berani dia bagikan kepada siapa pun.
Fausta tidak pernah percaya pada hal-hal supranatural. Baginya, kematian hanyalah kematian. Jantung berhenti, otak mati, dan semuanya berakhir. Tidak ada cahaya. Tidak ada apa pun di sana.
Apa yang ada dipikiran Fausta adalah hal normal yang dialami oleh remaja seusianya, dimana paham skeptis terbentuk karena pemikiran mereka yang mulai abstrak, kritis, dan sudah melek akan teknologi masa kini.
Tapi disinilah letak uniknya, alam semesta memiliki kebiasaan aneh dalam mengubah orang yang skeptis menjadi percaya.
Hari itu, Fausta pulang sekolah, makan siang, lalu berbaring di tempat tidur. Dia merasa sedikit pusing. Lima belas menit kemudian, dadanya terasa seperti ada batu berat yang menekan. Dia berusaha berteriak, tetapi tidak ada suara yang keluar. Lalu semuanya menjadi gelap.
Tidak segelap saat tidur. Namun keadaannya gelap gulita seperti televisi yang dimatikan.
Saat bangun, Fausta mengalami kebingungan total.
Dia bangun. Namun, dia tetap berbaring.
Saat dia melihat ke bawah ada hal tak logis yang ia temukan, Fausta melihat tubuhnya sendiri. Wajahnya tampak sangat pucat. Bibirnya memiliki warna kebiruan. Dia masih memegang ponsel di tangan kanannya.
Dengan rasa kebingungan yang belum terjawab, dia mendengar suara ibunya yang baru saja pulang dari pasar. Tapi disini Ibu nya malah berteriak, menangis, dan meneriakkan namanya.
“Aku di sini, Bu. Di atas sini.” Fausta yang berusaha memanggil Ibu nya yang bersedih.
Tapi Ibu tidak bisa mendengarnya.
Kemudian Fausta menyadari sesuatu yang aneh. Di sudut ruangan, terdapat bayangan hitam tak bergerak, dan hanya berdiri diam. Ini bukan gambaran biasa, bayangan itu berdiri di dinding meski tidak ada sumber cahaya. Dan bayangan itu tampak sedang menatapnya.
Fausta merasa ingin berteriak. Namun, dia baru sadar kalau ternyata dia tidak punya mulut.
Tiba-tiba, tanpa penjelasan apapun, Fausta mendapati dirinya berada di sebuah lorong. Panjang, gelap dan tidak ada tanda-tanda akan berakhir.
Jauh dari sana, sebuah cahaya kecil bersinar. Warnanya emas. Hangat. Dan anehnya, cahaya itu menyebutkan namanya. Bukan melalui suara, tapi melalui perasaan. “Fausta.”
Dia merasakan keinginan yang kuat untuk mendekat. Setiap langkah maju, perasaannya seolah menjadi damai dan keinginan untuk melangkah semakin kuat.
Namun, suara lain terdengar dari belakang. Lebih lambat. Lebih berat. Dan itu terasa tidak benar.
“Jangan pergi ke sana.”
Fausta berbalik. Dalam kegelapan, dia melihat dua titik merah kecil. Seperti mata. Bukan mata manusia. Terlalu besar. Terlalu terang. Dan juga terlalu sabar. Mata itu tetap diam. Hanya menatap. Tunggu.
“Jika kamu pergi ke sana, kamu tidak akan pernah kembali,” kata suara itu.
Fausta bingung. Cahaya lembut memberi isyarat dari depan. Kegelapan muncul di belakangnya, berfungsi sebagai peringatan.
Lalu suara dari cahaya berkata, “Ini belum waktunya, Fausta.” kamu harus pulang.
Sebelum Fausta sempat memilih, jantungnya kembali berdetak.
Fausta terbangun di rumah sakit. Tubuhnya basah oleh keringat. Dia merasa pusing.
Dokter menyatakan bahwa dia mengalami serangan jantung mendadak.Untuk beberapa saat, tapi baginya itu terasa lama sekali.
Sang ibu memeluknya erat-erat sambil menangis. Namun Fausta tak menitikkan air mata. Dia tetap diam, tenggelam dalam pemikiran tentang dua mata merah dalam kegelapan itu.
Fausta menggambarkan terowongan cahaya, tentang perasaan damai. Iya menunjukkan hal tersebut pada Dokter dan Ibunya. Dokter menjelaskan, halusinasi tersebut merupakan hal yang wajar akibat kekurangan oksigen di otak.
Namun ada satu hal yang Fausta tidak pernah bagikan kepada siapa pun.
Di lorong yang gelap, sebelum cahaya muncul, Fausta mendengar suara ketiga. Suara yang paling tidak biasa. Itu tidak datang dari depan atau belakang. Tapi dari dalam dirinya sendiri.
“Kamu bukan Fausta.”
Sejak saat itu, Fausta merasakan ada sesuatu yang berubah. Terkadang dia mengingat kenangan yang tidak terasa seperti miliknya. Rumah yang tidak pernah dia datangi. Wajah yang belum pernah dilihat sebelumnya.
Suatu hari dia bertanya kepada ibunya, “Bu, apakah kita pernah memelihara kucing putih?”
Ibu menjawab, “ tidak pernah, memangnya kenapa nak?.”
“Nggak ada apa-apa kok bu” kata Fausta dengan raut wajah bingung.
Namun, di ingatan Fausta. Dia ingat sedang menggendong kucing putih di teras. Dia ingat kucing itu ditabrak mobil. Dan dia ingat menangis di pangkuan seorang lelaki tua yang memanggilnya “Cucu”.
Isunya, kakek Fausta telah meninggal dunia sepuluh tahun sebelum ia dilahirkan.
Disinilah pertanyaan tak terjawab, “sebenarnya apa yang terjadi? Dan apakah Fausta tidak pulang ke hidupnya sendiri?”. Hingga saat ini Fausta memilih untuk diam, dan menjalani hidup dengan penuh syukur. Tapi anehnya, setiap kali ada temannya yang ingin melakukan bunuh diri. Ia seakan tau dan dari situ, Fausta melihat sosok bayangan dengan mata merah itu menempel pada temannya. Tidak tinggal dia, ia pun menghentikan teman-temannya yang memiliki alasan beragam mulai dari bullying, depresi, kecewa, bahkan sakit hati. Bukan karena sok tapi karena ia memilih menghargai sebuah kehidupan.
*****

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.