Penulis: Ghina Aprilia Mufidah – Universitas Sultan Ageng Tirtayasa
Sunners, pernah nggak sih merasa bersalah saat sedang istirahat? Atau merasa harus selalu mengerjakan sesuatu agar dianggap produktif? Jika iya, bisa jadi kamu sedang menghadapi toxic productivity. Di era sekarang ini, banyak remaja merasa harus terus berprestasi dan sibuk agar tidak tertinggal dari orang lain. Padahal, produktif memang penting, tetapi jika dilakukan secara berlebihan justru dapat berdampak buruk bagi kesehatan fisik dan mental.
Yuk, kenali lebih jauh tentang toxic productivity!
Toxic productivity adalah kondisi ketika seseorang merasa harus selalu produktif setiap saat dan menganggap waktu istirahat sebagai sesuatu yang tidak berguna. Orang yang mengalami toxic productivity cenderung memaksakan diri untuk terus bekerja, belajar, atau melakukan berbagai aktivitas meskipun tubuh dan pikirannya sudah lelah.
Produktivitas yang sehat membantu seseorang mencapai tujuan dengan tetap memperhatikan keseimbangan hidup. Sebaliknya, toxic productivity membuat seseorang terjebak dalam tekanan untuk terus menghasilkan sesuatu tanpa memberi ruang bagi dirinya untuk beristirahat.

Toxic productivity tidak muncul begitu saja loh sunners. Ada beberapa faktor yang membuat remaja merasa harus selalu produktif dan sulit memberi waktu untuk beristirahat, di antaranya:
Melihat pencapaian orang lain di media sosial sering membuat remaja merasa harus selalu produktif agar tidak tertinggal.
Tuntutan nilai, tugas, dan target pendidikan dapat membuat remaja terus memaksakan diri untuk belajar.
Harapan dari keluarga, teman, atau lingkungan sekitar terkadang membuat remaja merasa harus selalu menunjukkan prestasi.
Rasa takut tertinggal dengan orang lain dapat mendorong seseorang untuk terus bekerja tanpa mengenal batas.
Jika dibiarkan terus-menerus, toxic productivity dapat memberikan berbagai dampak negatif bagi kesehatan fisik maupun mental remaja. Misalnya seperti:
Sunners, meskipun toxic productivity dapat memberikan berbagai dampak negatif, kondisi ini bukan berarti tidak bisa diatasi. Setelah mengetahui berbagai penyebab dan dampaknya, penting bagi kita untuk mulai menerapkan pola hidup yang lebih seimbang. Permasalahan ini dapat kamu atasi dengan langkah-langkah sederhana yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, sebagai berikut:
Istirahat membantu tubuh dan pikiran kembali segar sehingga lebih siap beraktivitas.
Fokus pada hal-hal yang penting dan jangan memaksakan diri melakukan semuanya sekaligus.
Setiap orang memiliki proses yang berbeda, jadi fokuslah pada perkembangan diri sendiri.
Sunners bisa mencoba melakukan hobi, berolahraga, membaca buku, atau sekadar bersantai. Aktivitas tersebut dapat membantu menjaga kesehatan mental dan mengurangi tekanan.
Tidak apa-apa jika sesekali merasa lelah atau belum mencapai target tertentu. Mengenali batas kemampuan diri merupakan langkah penting untuk menjaga keseimbangan antara produktivitas dan kesehatan.

Nah, Sunners, produktif memang baik, tetapi jangan sampai membuat kita lupa untuk menjaga diri sendiri. Ingat, istirahat bukan tanda malas, melainkan bagian penting dari proses untuk tetap sehat dan berkembang.
Yuk, mulai terapkan pola hidup yang lebih seimbang! Karena produktivitas yang sehat bukan tentang bekerja tanpa henti, melainkan tentang mampu mencapai tujuan tanpa mengorbankan kesehatan fisik dan mental.
*****

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.