Penulis: Latisha Adenia Putri – Universitas Negeri Surabaya
Sunners, siapa yang disini berasal dari Jawa? Kalian bisa gak nih ngomong pakai bahasa Jawa atau hanya sekedar punya darah keturunan aja? Nah, disini kita akan membahas mengenai bahasa tersebut, yang ternyata dalam bahasa ini terdapat beragam macamnya lho. Ada yang bahasanya tergolong kasar dan halus, serta di tiap daerah ada ciri khasnya masing-masing.

Sebelumnya, tingkatan bahasa ini sangat banyak. Namun, saat ini bisa dikatakan hanya dikenal dengan tiga tingkatan aja yaitu dalam bentuk ngoko, madya, dan krama. Berikut merupakan penjelasannya:
Bahasa Jawa Ngoko ini biasa digunakan dengan penutur yang lebih tua kepada orang yang lebih muda. Seperti seorang nenek ngobrol ke anak muda, biasanya itu memakai bahasa Ngoko Lugu. Hal ini nggak ada ketentuan tertentu yang mengharuskan pakai bahasa ini, tetapi beda lagi jika si anak muda ini mempunyai kasta yang lebih tinggi. Dikarenakan itu, nenek ini harus memakai bahasa Ngoko Andhap. Bahasa ini juga dikenal lebih kasar daripada yang lainnya sehingga hanya bisa digunakan kepada yang udah kenal dekat aja.
Bahasa Jawa Madya ini lebih mengarah ke bahasa yang digunakan saat berbisnis aja. Seperti contohnya kita mau beli bahan masak ke pasar dan ingin nawar harga, biasanya memakai bahasa Madya Ngoko. Sedangkan, kalau hubungannya seperti bos dan bawahan, maka dapat menggunakan bahasa Madyantara. Bahasa ini sedikit sopan dan setengah halus, memang harus sesuai diperuntukkan untuk siapa.
Bahasa Jawa Krama ini dapat digunakan oleh penutur yang lebih muda kepada orang yang lebih tua. Seperti kita sebagai anak ke orang tua, Ayah maupun Ibu. Bisa juga kita ke bangsawan atau ningrat, hal ini bisa dikatakan sebagai bahasa Krama Inggil. Bahasa ini juga dikenal bahasa yang paling halus dari semuanya sehingga tatanan bahasanya juga halus.
Berdasarkan kanal Youtube milik Keluarga Arif Com, beliau menjelaskan mengenai perbedaan-perbedaan bahasa Jawa terutama pada bagian dialek dan frasanya. Disini akan dijelaskan beberapa dialek yang terdapat di daerah pulau Jawa Tengah dan Jawa Timur:
Dialek ini merupakan dialek Jawa halus yang biasa digunakan di daerah Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur. Lebih jelasnya digunakan di daerah Yogyakarta, Magelang, Klaten, Boyolali, Sukoharjo, Wonogiri, Karanganyar, Sragen, Grobogan, Magetan, Ponorogo, Pacitan, Ngawi, Madiun, Ngawi, Kediri, Trenggalek, Tulungagung, dan Blitar.
Contoh kalimat:
“Aku dekwingi mari nangis gara-gara tiba teka pedah montor.”
Aku kemarin habis nangis gara-gara jatuh dari sepeda motor.
Dialek ini biasanya digunakan oleh penutur Jawa Timuran atau biasa disebut dengan Suroboyoan, dialek ini banyak digunakan setelah mataraman Dialek ini digunakan di daerah Lamongan, Gresik, Sidoarjo, Surabaya, Mojokerto, Jombang, Malang, dan Pasuruan.
Contoh kalimat:
“Mene sido budal neng XXI ta?“
Besok kita jadi pergi ke XXI?
Dialek ini biasa digunakan oleh orang asli daerah Semarang. Sebenarnya dialek ini hampir sama dengan dialek Mataraman tetapi lebih banyak variasi lainnya juga. Dialek ini sering didengar di daerah Semarang, Demak, dan Kendal.
Contoh kalimat:
“Ndes koe wes ajar?“
Kamu udah belajar?
Dialek ini juga dikenal dengan dialek Banyumasan. Dialeknya selalu diucapkan dengan tegas dan lugas, konsonan akhirnya juga berbunyi dengan jelas. Dialek ini terdapat di daerah Cilacap, Banyumas, Banjarnegara, Purbalingga, Kebumen, Pemalang, Tegal, dan Brebes.
Contoh kalimat:
“Mbokan mengko ono sing teka.“
Siapa tau nanti ada yang datang.
Dialek Osing ini dulu masih menjadi bagian dari bahasa Jawa. Namun, gak lama habis itu diputuskan untuk menjadi bahasa sendiri yang disebut Bahasa Osing. Bahasa ini juga lebih banyak berasal dari Jawa kuno dan lebih sering dipakai di daerah Banyuwangi.
Contoh kalimat:
“Sing biso sabar riko ikai.“
Nggak bisa sabar kamu ini.

Setelah kita bahas mengenai bahasa Jawa, ternyata terdapat tingkatan dan perbedaan yang signifikan pada bahasa tersebut. Hal ini dipengaruhi oleh perbedaan daerah sehingga terdapat ciri khas tertentu, perbedaan dialek juga mempengaruhi penggunaan bahasanya. Walaupun bahasa ini beragam, namun semakin kaya juga bahasanya tanpa menghilangkan identitas utama dari bahasa tersebut. Oleh karena itu, bahasa ini perlu dijaga dan dipelajari agar nilai budaya dan keberagamannya tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
*****

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.