Penulis: Lubna Apdria Kuwaysa – SMKN 48 Jakarta
Hidup manusia tidak selalu lancar. Ada kok kejadian dimana kehidupan kita menjadi terhambat karena otak kita sendiri sudah lelah dengan keadaan. Mari kita lihat nasib kelima pemuda yang berpikir mereka hidup aman sentosa.
Sore itu, Danang merasa perutnya sudah tidak bisa diajak kompromi. Ada panggilan alam yang sangat mendesak dari bagian bawah perutnya. Dengan langkah seribu, ia berlari menuju area belakang rumahnya. Pikirannya cuma satu: kelegaan luar biasa di balik pintu kayu bercat putih itu.
Namun, entah karena sinyal dari saraf ke ototnya mengalami gangguan teknis atau memang otak Danang sedang mengalami Short circuit, ia malah berbelok tajam ke arah rak piring.
Tanpa ekspresi, Danang mengambil sebuah piring makan bermotif bunga matahari, lalu berdiri mematung di depan wastafel dapur.
Ia menatap piring itu dengan tatapan kosong. “Loh,” gumamnya pelan. “Kok piring?”
Beberapa detik berlalu sampai rasa mulas itu kembali menyentak kesadarannya. Danang tersentak, menaruh kembali piring itu dengan gerakan kaku, lalu berputar balik menuju kamar mandi yang sebenarnya hanya berjarak dua meter dari situ. Sambil berlari, ia merutuki betapa otak miliknya terkadang suka mengambil rute jalan pintas yang salah di saat-saat genting.

Ojan sedang asyik mencatat jadwal tugas kuliahnya yang menumpuk setinggi gunung Merapi. Di meja belajar, ia terlihat sangat serius, pena di tangan kanan dan kalender di tangan kiri. Namun, tiba-tiba sebuah awan mendung menutup jalur logikanya.
Ia menoleh ke arah teman sekamarnya yang sedang asyik main Game. “Jan,” panggilnya (iya, namanya sendiri Ojan, tapi dia sering panggil temannya ‘Jan’ juga). “Hari Jumat itu hari apa ya?”
Temannya berhenti memencet tombol stik Controller. Hening sejenak. “Maksud lo?”
“Maksud? Gue nanya Jumat itu hari apa?” tanya Ojan dengan nada yang sangat tulus dan tanpa dosa.
Temannya melempar bantal ke arah wajah Ojan. “Ya hari Jumat, Ojan! Nama harinya aja udah Jumat! Lo kira Jumat itu nama makanan?!”
Ojan hanya bisa nyengir kuda sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sepertinya otak Ojan butuh di-restart total atau minimal diberi asupan vitamin karena sudah tidak bisa lagi membedakan antara konsep waktu dan nama hari. Dalam hatinya, ia membatin bahwa otak manusia memang sebuah misteri yang terkadang sangat memalukan.

Nabil sedang berada di tengah ujian lisan Bahasa Inggris. Pak Guru di depannya memberikan sebuah taman di Inggris yang sedang ada Parade. Nabil harus menjelaskan apa yang baru saja terjadi dalam gambar tersebut menggunakan Past tense.
“I… I…” Nabil mulai berkeringat dingin. Matanya menatap tulisan di kertas panduannya yang berbunyi I saw it.
“Ayo, Nabil. Lanjutkan,” perintah Pak Guru.
“I saw it.” ucap Nabil pelan. Tiba-tiba, pendengarannya sendiri memproses kata itu dengan cara yang sangat lokal. Matanya membelalak. “Loh, Pak? Sawit? Emang di Inggris ada sawit? Inggris mau jadi saingan negara kita kah?”
Pak Guru memijat pelipisnya, merasa gajinya tidak sebanding dengan beban mengajar Nabil hari itu. “Ini tuh Saw it, Nabil! Artinya ‘melihatnya’! Bukan kelapa sawit buat bikin minyak goreng!”
Nabil terdiam. Ia merasa otak miliknya baru saja melakukan translasi otomatis ke bahasa perkebunan tanpa izin. Ia menyadari bahwa di dalam otak miliknya, kamus Bahasa Inggris dan kamus Pertanian ternyata tinggal di satu folder yang sama dan sering tertukar

Gian adalah pemilik warung nasi Padang “Sederhana Tapi Sayang”. Sore itu, seorang pelanggan pria yang terlihat sangat lapar dan terburu-buru datang menghampiri etalase kacanya. Pelanggan itu menunjuk-nunjuk ke arah deretan piring gulai.
“Mas, ada otak, ga?” tanya pelanggan itu dengan suara agak keras karena bising suara kendaraan.
Gian yang baru saja bangun tidur siang dan nyawanya baru terkumpul 15% langsung berdiri tegak. Mukanya merah padam. Ia merasa harga dirinya sebagai pengusaha muda diinjak-injak.
“Maksud Mas apa? Mau ngehina saya? Saya ini lulusan SMA ya Mas, biarpun jualan nasi, saya sekolah! Kok tega banget nanya saya punya otak apa nggak!” bentak Gian sambil memegang sendok nasi besar.
Pelanggan itu melongo, lalu menunjuk ke piring gulai yang kosong di pojok etalase. “Maksud saya… Gulai otak Sapi-nya ada nggak, Mas? Itu piringnya kosong!”
Gian seketika membeku. Ia melihat ke piring yang ditunjuk. Kosong melompong. “Oh…” Gian langsung memaksakan senyum paling manis sejagat raya. “Maaf Mas, otak saya… eh maksud saya Gulai otak-nya lagi habis. Lagi dimasak di belakang.”
Gian segera masuk ke dapur sambil memukul jidatnya sendiri. Ternyata otak miliknya sedang mode defensif berlebihan sampai lupa kalau dia jualan jeroan.

Ophan merasa haus. Sangat haus. Ia berjalan mantap dari kamarnya menuju dapur dengan tujuan tunggal: mengambil segelas air dingin dari dispenser. Langkahnya tegap, matanya fokus, tujuannya jelas.
Namun, tepat saat tangannya baru saja menyentuh pintu lemari es, tiba-tiba koneksi antara jiwa dan raga Ophan terputus. Ia membeku. Tangannya tetap menempel pada gagang pintu, tapi matanya menatap kosong ke arah magnet kulkas berbentuk buah jeruk.
Satu menit berlalu. Dua menit. Ophan masih berdiri di sana seperti patung pahlawan yang lupa ditaruh di alun-alun.
“Gue mau ngapain ya?” bisiknya pada diri sendiri.
Ia mencoba menelusuri kembali jejak pikirannya, tapi yang ia temukan hanyalah kegelapan total. Pikirannya kosong seolah-olah seluruh data di dalam otak miliknya baru saja diformat ulang secara paksa. Ia merasa sedang berdiri di depan pintu gerbang menuju dimensi lain di mana fungsi otak tidak lagi diperlukan.
Akhirnya, Ophan memutuskan untuk kembali ke kamar tanpa minum. Baru saja bokongnya menyentuh kasur, ia langsung berseru, “OH IYA, MAU MINUM!”

Kelima pemuda ini adalah bukti nyata bahwa secerdas apa pun manusia, akan ada saatnya di mana otak kita memutuskan untuk mengambil cuti mendadak selama beberapa detik.
Entah itu Danang yang hampir “setor” di rak piring, Ojan yang lupa kalender, Nabil sang juragan sawit, Gian yang tersinggung soal gulai, atau Ophan si patung dispenser—mereka semua dipersatukan oleh satu hal: otak yang sedang asyik main petak umpet.
*****

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.