Penulis: Maharani Intan Phitaloka – Universitas Pendidikan Indonesia
Maya ingin memesan satu porsi cilok, tapi yang akhirnya ia telan adalah satu porsi malu sebab hinaan.

Maya menggenggam uang lima puluh ribu yang lusuh, siap menyantap cilok kuah kacang yang mengepul di depannya. Aroma gurih itu seolah menjawab teriakan lapar perutnya setelah seharian di sekolah. Dengan penuh semangat, ia melangkah maju untuk memesan satu porsi lengkap dengan bumbu pedas incarannya.
Namun, tepat saat hendak memesan, langkahnya terhenti oleh sebuah ingatan mendadak.
Tiba-tiba, aroma gurih cilok tak lagi menggoda. Suara uap panci kalah oleh denging ejekan yang memburu di benaknya—bisik-bisik tajam yang sengaja dibiarkan terdengar.
“Diet kek, May! Biar nggak gendut!”
“Udah kayak tong berjalan, masih doyan kalap jajan?”
Suara-suara itu memuakkan, membuat Maya merasa telanjang di bawah tatapan jijik yang seolah menguliti fisiknya dari ujung rambut hingga kaki.
Nafsu makan Maya langsung lenyap, menguap bersama uap cilok. Perasaannya berubah menjadi rasa malu yang hebat, mencekik, dan memuakkan.
Lagi-lagi ia merasa seluruh mata di jalanan sedang menatapnya, menghakimi setiap jengkal tubuhnya, dan menghitung setiap kalori yang mungkin ia konsumsi.
Dengan kaku, Maya menurunkan tangannya, berjalan menjauh dari gerobak dengan pandangan perih. Deretan batagor, sempol, siomay, hingga mochi di sepanjang jalan kini tampak seperti dosa besar.
Di dalam kepalanya, sebuah pikiran berputar-putar seperti rekaman rusak: Apa aku harus berhenti jajan selamanya? Apa aku pantas mendapatkan makanan yang enak?

Maya terus melangkah berat hingga terhenti di depan gerobak batagor. Di kaca beningnya, ia menatap pantulannya sendiri: seragam yang ketat dan lengan yang besar.
Fakta bahwa ia gendut terpampang jelas, namun batinnya mulai memberontak, “Meski aku gendut, apa aku pantas diperlakukan tidak baik? Apa aku tidak berhak bahagia?”
Kenangan pahit saat teman sebangkunya pindah karena alasan “Maya bikin sempit” melintas. Namun, ia tersadar bahwa dialah yang menjalani hidup, bukan mereka. Perutnyalah yang lapar, bukan ego rapuh teman-temannya. Sebuah percikan perlawanan muncul dalam benaknya:
“Aku tidak perlu memikirkan kata mereka. Mereka tidak tahu betapa berartinya cilok ini setelah hari yang panjang.”
Berbekal keyakinan baru, ia memutar langkah menuju gerobak mochi yang sempat dilewati. Aroma tepung ketan dan coklat seolah memanggilnya untuk membeli dua bungkus, satu untuk dirinya, satu untuk sang adik. “Ayo, kamu bisa,” bisiknya menyemangati diri sendiri.
Namun, tepat di depan gerobak, langkahnya kembali membatu. Suara-suara itu menyerang lagi, kali ini lebih keras dan menghakimi seolah enggan melepas mangsanya.
“Makannya mochi, gimana mau kurus?”
“Lihat deh, lagi-lagi makanan. Gak ada kapoknya?”
Ketakutan akan penghakiman akhirnya memenangkan pertempuran batin itu. Maya menarik kembali tangannya, menyembunyikan uang lusuhnya, dan pulang dengan perut kosong yang meronta.
Di balik rasa “aman” dari ejekan, hatinya hancur. Ia menumbalkan kebahagiaan sederhana demi opini orang asing yang tak mengenalnya.
Di depan gerobak mochi tadi, ia mungkin menghindari cercaan, namun ia kehilangan dirinya sendiri. Kini, satu porsi malu terasa jauh lebih kenyang daripada porsi makanan manapun di dunia.
Maya tidak sedang berjuang melawan rasa lapar, melainkan melawan stigma yang membelenggu dirinya. Melalui kisah ini, kita melihat betapa sesaknya ketika seseorang terpaksa menelan satu porsi rasa malu hanya untuk merasa aman dari pandangan menghakimi orang lain.
Mari mulai menghargai setiap orang tanpa memandang fisik. Jangan biarkan siapapun terpaksa mengonsumsi satu porsi hinaan saat mereka hanya ingin menikmati kebahagiaan sederhana. Dukung lingkungan yang lebih ramah dan bebas dari body shaming!
*****

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.