Penulis: Raihan Nur Gunawan
Namaku Ray, aku adalah seorang remaja berumur 17 tahun yang menyukai langit. Meskipun terkadang langit tak selalu cerah, terkadang mendung, dan tak jarang hujan turun dengan lebat. Namun di samping itu semua, langit selalu memberikanku perasaan tenang dan damai. Setiap kali aku merasa cemas atau bingung aku menatap langit. Langit selalu ada untukku, menerima segala cerita dan keluh kesahku. Aku sangat mencintai langit dengan segala cuacanya.
Aku sering duduk sendiri bertemankan sepi untuk sekedar menatap langit biru di siang hari atau menikmati keindahan langit gelap yang bertaburan bintang di malam hari. Langit selalu menjadi tempatku pulang, tempatku cerita tanpa penghakiman. …
“Halo Ray, gimana kabarnya? Are you okay?” notif masuk di layar ponselku.
“Of course Mey,” Aku jawab seadanya.
Begitu terus pertanyaan dan jawaban yang sama di setiap pertemuan kami.
Namanya Mey, kami saling mengenal lewat Instagram, saling mengikuti. Belum terlalu lama, mungkin sekitar 5 bulan yang lalu. Namun dalam rentang waktu tersebut kami telah menjadi sahabat dekat, meski bisa dibilang karena dia yang selalu mengawali percakapan.

“Gimana nih, udah jadi belum progresmu Ray?” tanyanya.
“Belum Mey, tinggal tahap finishing nih,” balasku.
“Aku tunggu yhaa, pokoknya aku harus jadi penonton pertamanya okeyy? Gak mau tau titik, wkwk,” tambahnya.
“Iyalahh…” balasku lagi.
Begitulah Mey, dia selalu excited ketika tau aku akan mengunggah postingan terbaru di konten langitku. Mungkin wajar karena dia tinggal di perkotaan. Sebagai anak kota tentunya sangat sulit untuk bisa mendapatkan foto langit yang indah, disebabkan banyaknya polusi cahaya di sana. Mungkin suatu hari nanti aku akan berkunjung ke kotanya, mengajaknya menikmati indahnya langit bersama.
“Mey, pernah gak si kamnu kepikiran, seluas apa sih langit itu? Apakah langit itu ada ujungnya?” tanyaku.
“Ntahlah Ray, aku pun juga gak tau. Susah ngebayanginnya, hehe,” jawabnya sambil bercanda.
“Iya si…” aku memakluminya.
“Iyaa…” timpalnya.
Percakapan diakhiri dengan sepatah dua patah kalimat.
Ponsel kuletakkan. kembali menatap langit sore, nampak matahari yang sebentar lagi akan terbenam. “Layaknya siang dan malam, kehadirannya melengkapi satu sama lain.”
Aku melihat sekeliling, mataku lantas tertuju pada sebuah cermin yang retak di tanah. Aku menghela napas. Aku mendekati cermin tersebut, mengamati setiap retakan yang membelah permukaannya. Cermin ini, seperti diriku, telah rusak oleh waktu, oleh tekanan dalam hati. Mungkin dulu aku terlihat sempurna di hadapannya, tetapi sekarang ditengah semua ketidaksempurnaan ini, aku tak bisa lagi melihat diriku dengan jelas. Aku menunduk, mencoba merangkai kembali potongan cermin tersebut, tapi aku tau, meskipun aku bisa mencoba memperbaikinya, cermin ini tidak akan pernah sama lagi. Begitu juga denganku. Tidak ada yang bisa mengembalikan masa lalu. Tak ada yang bisa menghapus kesalahan dan luka yang sudah terjadi. Namun, mungkin ada kekuatan dalam menerima ketidaksempurnaan itu, mungkin cermin yang retak ini bisa mengajarkanku untuk menerima diriku dengan segala cacat dan celanya.

“Cermin ini bukan hanya benda mati. Ia adalah pengingat bahwa hidup ini penuh dengan retakan-retakan yang mengajarkan kita untuk lebih kuat, lebih bijaksana, dan lebih memahami bahwa keindahan datang dari ketidaksempurnaan yang kita peluk dengan sepenuh hati.”
Aku jadi teringat dengan perkataan Mey dalam suatu percakapan kami, dia pernah bilang “Tidak ada yang sempurna Ray, tapi yakinlah pasti tetap ada yang tepat untuk kita. Dan ketidaksempurnaan itu adalah pelajaran yang membuat kita menjadi lebih kuat.”
…
Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Kini waktu telah mendewasakanku.
Pada akhirnya aku belajar untuk tidak menyalahkan keadaan, karena banyak hal yang terjadi di luar dugaan.
Diriku yang sekarang adalah sosok yang kuat, yang dapat menerima segala bentuk ketidaksempurnaan di dunia ini. Termasuk jika itu harus kehilangan “dirinya”. Aku… harus siap menerimanya. Sebab beginilah alurnya.
Semoga kita masih bisa dipertemukan kembali. Meski di kehidupan yang lain…
*****

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.