Majalah Sunday

Sebuah Cerpen - Test Dadakan

Penulis: Lubna Apdria Kuwaysa – SMKN 48 Jakarta

Jam menunjukkan pukul 09.17 pagi waktu tragedi test dadakan itu terjadi.

Kelas XI IPS 2 lagi asik-asiknya ngerumpi sebelum pelajaran dimulai. Ada yang masih makan cilok sisa istirahat pertama, ada yang pura-pura baca buku padahal aslinya scroll chat gebetan di bawah meja, ada juga yang udah pasrah tidur dengan posisi kepala nempel di lengan kayak orang habis begadang nonton drama.

Lalu pintu kelas kebuka.

Tok.

Masuklah Bu Ratna dengan tas cokelat kesayangannya, wajah datar tanpa ekspresi, dan map biru yang langsung bikin satu kelas merinding berjamaah.

“Selamat pagi, anak-anak.”

Pagi itu mendadak nggak ada yang selamat.

Karena setelah beliau naruh mapnya di meja dan ngeluarin setumpuk kertas, kalimat yang keluar berikutnya adalah kalimat paling ditakuti sejuta umat pelajar:

“Hari ini kita test dadakan.”

Dan seketika, suasana kelas berubah dari pasar malam jadi kuburan sunyi.

Di antara kekacauan batin yang lagi terjadi, ada empat tipe siswa yang langsung kelihatan mencolok banget.

Tipe-tipe siswa saat mengerjakan test dadakan
Tipe pertama : Si Pintar

Namanya Arka. Duduk di bangku depan, kacamata tipis, rambut selalu rapi, dan aura “aku-sudah-siap-sejak-lahir” terpancar jelas dari mukanya. Begitu Bu Ratna bilang test dadakan, Arka cuma ngangguk kecil. Nggak panik, nggak kaget, nggak drama.

Karena buat dia, ini bukan dadakan. Ini cuma “hari biasa”.

Arka tuh tipe yang kalau guru baru selesai jelasin satu materi, dia udah ngerti sampai akar-akarnya. Catatannya lengkap, stabilo warna-warni, bahkan ada sticky notes kecil di pinggir buku. Kalau ada yang bilang belajar itu berat, Arka mungkin bakal bingung, karena buat dia belajar ya tinggal baca, pahami, selesai.

Begitu lembar soal dibagi, Arka langsung baca cepat, matanya gerak gesit kayak scanner. Alisnya nggak berkerut sama sekali. Bahkan ada sedikit senyum tipis di sudut bibirnya, kayak lagi nemuin soal favorit.”

Sementara yang lain masih baca nomor satu sambil mikir keras, Arka udah sampai nomor lima.

Tangannya nulis dengan ritme tenang. Nggak buru-buru, tapi juga nggak ragu. Setiap jawabannya kayak udah dipikirin jauh-jauh hari. Sesekali dia berhenti cuma buat ngecek ulang, bukan karena nggak yakin, tapi karena dia perfeksionis.

Di dunia test dadakan, Arka adalah karakter utama yang kebal plot twist.

Tipe-tipe siswa saat mengerjakan test dadakan.
Tipe Kedua : Si Alim

Namanya Naila. Duduk di barisan tengah dekat jendela. Begitu dengar kata “test dadakan”, dia refleks narik napas panjang

Bukan panik.

Tapi mode spiritual langsung aktif.

Sebelum lembar soal sampai ke mejanya, Naila udah mulai komat-kamit pelan. Tangannya dirapatkan di atas meja, matanya terpejam sebentar.

Doanya nggak main-main.

Paket lengkap.

Dari minta dilancarkan, dimudahkan, diingatkan kembali apa yang pernah dipelajari, sampai janji bakal lebih rajin belajar kalau kali ini dikasih kelancaran. Bahkan mungkin sekalian nitip doa buat keluarga dan kucingnya di rumah.

Buat Naila, usaha itu penting, tapi berserah diri itu kunci. Dia memang belajar, tapi bukan tipe yang ambis banget. Nilainya stabil, nggak selalu paling tinggi, tapi juga nggak pernah jeblok.

Begitu soal ada di tangan, dia baca pelan-pelan. Kalau nemu soal yang bikin kening berkerut, dia berhenti sebentar, tarik napas, lalu berbisik lirih, “Bismillah.”

Tangannya nulis dengan hati-hati. Nggak secepat Arka, tapi juga nggak asal. Setiap pilihan dipikirin. Kalau ragu, dia tutup mata sebentar, kayak minta petunjuk lewat sinyal WiFi dari langit

Dan anehnya, sering banget feeling-nya tepat.

Naila mungkin nggak hafal semua teori, tapi dia punya ketenangan yang bikin test dadakan nggak terasa seganas itu.

Tipe-Tipe siswa saat mengerjakan test dadakan dari sekolah
Tipe Ketiga : Si Paling Cap cip cup

Namanya Dimas.

Duduk di pojok belakang, posisi strategis buat menghindari tatapan guru. Rambut agak berantakan, wajahnya tipe yang ekspresif banget kalau lagi stres.

Dan test dadakan jelas bikin dia stress.

“Ya ampun, kenapa sih hidupku selalu penuh cobaan,” gumamnya pelan begitu kertas soal mendarat di mejanya.

Dimas adalah tipe yang belajar kalau ingat. Dan kebanyakan… nggak ingat.

Begitu baca soal nomor satu, dia langsung mengernyit.

“Ini materi kapan, ya?”

Nomor dua.

“Hah?”

Nomor tiga.

“Oke, kita masuk mode bertahan hidup.”

Dimas punya strategi andalan yang sudah teruji zaman: cap cip cup.

Setiap kali nemu soal pilihan ganda yang otaknya nggak bisa proses, dia tutup mata, jarinya gerak-gerak di atas pilihan A, B, C, D.

“Cap cip cup, kembang kuncup…”

Dan berhenti di satu huruf.

“Yaudah, B aja. B itu bagus. B itu berani.”

Kadang dia coba pakai logika sedikit. Misalnya, kalau jawabannya kelihatan terlalu panjang, dia mikir, “Biasanya yang paling panjang itu benar.” Atau kalau pilihan C belum kepilih dari tadi, dia mikir mungkin semesta lagi ngasih kode.

Mukanya serius banget, padahal isi pikirannya random total.

Sesekali dia melirik ke atas, berharap dapat wangsit. Tapi yang ada cuma kipas angin muter tanpa jawaban.

Ajaibnya, dari sekian banyak cap cip cup yang dia lakukan selama hidup sekolahnya, nilainya nggak pernah benar-benar hancur. Selalu aja ada keberuntungan absurd yang bikin dia lolos dari jurang remedial.

Dimas hidup dari keberanian dan hoki.

Tipe-tipe siswa saat mengerjakan test dadakan.
Tipe Keempat : Pakai soal buat jawab soal

Namanya Rafi.

Kalau Arka adalah simbol persiapan, Rafi adalah simbol kreativitas di saat kepepet.

Begitu tahu test dadakan, dia nggak langsung panik. Dia cuma nyengir tipis, kayak lagi nemuin tantangan seru.

Rafi bukan nggak bisa belajar. Dia sebenarnya cukup paham materi, tapi nggak sedalam Arka. Dia juga bukan tipe religius kayak Naila, dan jelas nggak sepasrah Dimas.

Rafi itu tipe yang otaknya jalan ke mana-mana.

Begitu baca soal nomor satu, dia nggak cuma fokus ke pertanyaannya. Dia juga baca semua pilihan jawabannya dengan teliti. Lalu dia mulai menganalisis pola.

“Hmm… opsi A sama C mirip. Biasanya guru nggak mungkin bikin dua jawaban hampir sama kalau dua-duanya benar…”

Dia juga merhatiin gaya bahasa di soal.

“Kalimatnya pakai kata ‘paling tepat’. Berarti jawabannya bukan yang ekstrem banget…”

Kadang dia bahkan pakai soal lain buat bantu jawab soal sebelumnya.

Misalnya, di nomor tujuh ada penjelasan panjang yang secara nggak langsung ngejawab nomor tiga. Mata Rafi langsung berbinar.

“Wah, makasih ya, Bu Ratna. Soalnya saling bocorin satu sama lain.”

Tangannya gerak cepat, bukan karena hafal, tapi karena dia lagi main teka-teki logika versi sekolah.

Kalau nemu soal yang bener-bener mentok, baru deh dia pakai strategi cadangan: eliminasi.

“Yang ini jelas salah. Yang ini kayaknya juga salah. Oke, tinggal dua. Kita pikirkan dengan kepala dingin.”

Rafi menikmati prosesnya. Buat dia, test dadakan itu kayak escape room kecil-kecilan. Harus mikir, harus jeli, harus bisa nemuin celah.

Dan jujur aja, sering kali cara mengakalinya berhasil.

Sementara empat tipe itu sibuk dengan dunianya masing-masing, kelas XI IPS 2 terasa seperti arena survival.

Ada yang mukanya pucat. Ada yang ngetuk-ngetuk meja pelan karena gugup. Ada yang melotot ke kertas soal seolah berharap huruf-hurufnya berubah jadi jawaban yang masuk akal.

Bu Ratna duduk di kursinya, memperhatikan dengan tenang. Sesekali beliau jalan pelan di antara bangku, bikin beberapa siswa langsung pura-pura serius walau dari tadi bengong.

Waktu berjalan pelan tapi pasti.

Arka sudah hampir selesai dan lagi ngecek ulang jawabannya untuk ketiga kali.

Naila masih fokus di nomor terakhir, bibirnya bergerak pelan membaca soal sekali lagi sebelum memutuskan.

Dimas baru saja menyelesaikan ritual cap cip cup terakhirnya dan terlihat seperti habis lari maraton mental.

Rafi sedang menatap satu soal esai pendek dengan ekspresi mikir keras, mencoba menyusun jawaban yang terdengar meyakinkan walau setengahnya hasil improvisasi.

Di menit-menit akhir, suasana makin tegang.

“Lima menit lagi,” kata Bu Ratna.

Kalimat itu rasanya lebih menyeramkan daripada pengumuman film horor.

Arka santai mengumpulkan lembar jawabannya lebih dulu. Jalannya ke depan kelas tenang, kayak orang habis ngerjain tugas ringan.

Naila menyusul beberapa menit kemudian, dengan ekspresi lega tapi tetap kalem.

Rafi mengumpulkan tepat sebelum waktu habis, sambil dalam hati berharap logikanya tadi nggak meleset jauh.

Dimas? Dia adalah orang terakhir yang berdiri, mengumpulkan kertas dengan wajah campuran pasrah dan berharap keajaiban.

Seminggu kemudian, hasilnya dibagikan.

Dan di situlah plot twist kecil terjadi.

Arka tentu saja dapat nilai hampir sempurna. Nggak ada yang kaget.

Naila dapat nilai bagus, bahkan lebih tinggi dari biasanya. Dia tersenyum kecil, bersyukur dalam hati.

Rafi dapat nilai yang… mengejutkan. Hampir setara dengan Arka. Beberapa jawabannya yang hasil analisis dan ngakal tadi ternyata tepat sasaran.

Dan Dimas?

Dia melihat angkanya beberapa detik, lalu mengucek mata.

Nilainya… aman.

Nggak tinggi banget, tapi jauh dari kata gagal. Beberapa jawaban cap cip cup-nya ternyata benar.

Dia langsung nyengir lebar.

“Ternyata semesta masih sayang sama gue,” bisiknya.

Bu Ratna berdiri di depan kelas, lalu berkata, “Ibu sengaja mengadakan test dadakan untuk melihat kesiapan kalian. Ingat, bukan cuma soal nilai, tapi soal kebiasaan belajar dan cara kalian menghadapi situasi mendadak.”

Kalimat itu menggantung di udara.

Karena sebenarnya, dari empat tipe tadi, semuanya punya cara masing-masing buat bertahan.

Arka dengan persiapannya. Naila dengan ketenangannya. Rafi dengan kecerdasannya mengolah keadaan. Dan Dimas dengan keberanian plus sedikit nekat.

test dadakan itu mungkin bikin panik, tapi juga memperlihatkan karakter asli tiap orang.

Dan di kelas XI IPS 2, hari itu jadi cerita yang bakal dikenang lama.

Bukan cuma soal angka di kertas.

Tapi soal bagaimana setiap kepala punya cara sendiri buat menghadapi kejutan hidup yang datang tanpa aba-aba.

Karena pada akhirnya, hidup juga mirip test dadakan.

Nggak selalu ada bocoran. Nggak selalu sempat belajar. Dan nggak semua jawaban bisa dicari pakai cap cip cup.

Tapi semua orang tetap harus ngerjain soalnya, dengan cara terbaik versi mereka masing-masing.

*****

Majalah Sunday, Teman Memahami Tips Belajar, Edukasi Seksual dan Kesehatan Mental

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.

Ikutan berkarya di
Majalah Sunday

Post Views: 2