Naylah Sakhi Raihanah – SMKN 67 Jakarta
AI sekarang jadi teman sehari-hari. Bisa bantu bikin tugas, kasih ide, sampai bikin hidup lebih gampang. Tapi hati-hati, kalau terlalu bergantung, otak bisa jadi malas mikir. Supaya tetap tajam, kita perlu trik biar otak tetap aktif walau sering pakai AI.

Otak itu kayak otot: semakin sering dipakai akan semakin kuat. Sebaliknya, kalau jarang dipakai, bisa melemah. AI emang bikin hidup gampang, tapi kalau semua hal langsung dilempar ke AI, otak kita jadi jarang mikir.
Kejadian ini disebut cognitive offloading dimana kamu kebiasaan menyerahkan pekerjaan ke AI. Awalnya aman buat hal kecil (kayak pas pakai kalkulator untuk berhitung), tapi kalau kebiasaan ini dipakai buat hal besar, otak bisa kehilangan ketajamannya.
Kalo kamu ngerasa kerja otakmu melemah seperti kesulitan dalam mengerjakan tugas yang sederhana, coba cara ini deh:
Latihan mikir tanpa AI: coba kerjain tugas atau bikin ide sendiri dulu, baru minta AI bantu nyempurnain.
Tantang otak di luar sekolah: main game strategi, belajar bahasa baru, atau sekadar baca buku. Itu kayak gym buat otak.
Biasakan nulis atau bikin draft sendiri: misalnya bikin outline esai atau caption, baru minta AI bantu poles.
Diskusi langsung sama orang: ngobrol, debat, atau tanya pendapat teman. AI emang bisa kasih ringkasan, tapi rasa empati dan nuansa cuma bisa didapat dari interaksi nyata.
AI memang bisa merusak, tapi bukan berarti kamu full boikot penggunaan AI. Berikut cara untuk bersahabat dengan AI tanpa mengurangi kerja otakmu:
AI adalah partner, bukan bos: anggap AI kayak teman brainstorming, bukan guru yang jawab semua soal.
Selalu cek ulang jawaban AI: jangan asal percaya sama hasil dari AI. Kamu harus riset sendiri juga, misalnya seperti bertanya pendapat ke orang lain, membaca buku, nonton video atau search di browser kamu.
Bikin aturan pribadi: misalnya, “aku cuma pakai AI buat nyari inspirasi, bukan buat ngerjain full tugas.”
Gunakan AI buat memperluas ide: bandingin hasil pikiranmu dengan ide dari AI, terus pilih mana yang paling masuk akal. Karena kadang AI bisa ngawur
AI itu keren, tapi jangan sampai bikin otak jadi malas. Ingat: mikir dulu, baru pakai AI buat penyempurnaan. Latih otak dengan tantangan nyata, selalu penasaran, dan seimbangkan dengan aktivitas non-AI. Mulai sekarang, jadikan AI partner, bukan pengganti otakmu!
*****

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.