Meutia Amalia Putri – UIN Jakarta
Dalam hubungan yang sehat, rasa aman dan saling menghormati seharusnya menjadi dasar utama. Namun, ada kondisi ketika rasa sakit justru dianggap sebagai bentuk kenikmatan atau bukti kedekatan emosional. Fenomena inilah yang dikenal sebagai masokisme. Tanpa pemahaman yang tepat, masokisme bisa disalahartikan sebagai hal wajar, padahal berisiko menimbulkan dampak fisik dan psikologis, terutama bagi remaja yang masih dalam tahap pencarian jati diri.
Masokisme adalah kondisi ketika seseorang merasa mendapatkan kepuasan atau kenikmatan dari rasa sakit, baik secara fisik maupun emosional. Rasa sakit ini bisa berupa disakiti, direndahkan, atau diperlakukan tidak menyenangkan oleh orang lain.
Dalam konteks seksual, masokisme merujuk pada dorongan untuk menikmati penderitaan atau perlakuan menyakitkan saat berhubungan intim. Namun, penting dipahami bahwa tidak semua bentuk rasa sakit atau pengorbanan dalam hubungan adalah hal yang sehat.
Masokisme bisa terjadi karena berbagai faktor, terutama yang berkaitan dengan kondisi psikologis dan pengalaman hidup seseorang. Pada sebagian orang, pengalaman masa lalu seperti pernah mengalami kekerasan, tekanan emosional, atau relasi yang tidak sehat dapat membentuk pola pikir bahwa rasa sakit adalah hal yang wajar atau bahkan dianggap sebagai bentuk kasih sayang.
Selain itu, kurangnya pemahaman tentang hubungan yang sehat juga berperan. Remaja yang belum mengenal batasan diri dan persetujuan bisa salah mengartikan pengorbanan atau penderitaan sebagai bukti cinta. Terdapat juga pada faktor lingkungan, pengaruh media, serta dinamika relasi yang timpang, di mana satu pihak lebih dominan juga dapat mendorong seseorang menerima atau mencari perlakuan menyakitkan.
Masokisme dan hubungan sehat adalah dua hal yang sangat berbeda.
Dalam hubungan sehat, kedua pihak merasa aman, dihargai, dan bebas mengatakan “tidak” tanpa takut kehilangan atau disakiti. Setiap keputusan didasarkan pada persetujuan, rasa nyaman, dan saling menghormati.
Sebaliknya, masokisme sering melibatkan rasa sakit baik fisik maupun emosional yang dinormalisasi sebagai bagian dari kedekatan. Salah satu pihak bisa merasa terpaksa, takut menolak, atau mengorbankan diri demi mempertahankan hubungan. Jika rasa sakit, tekanan, atau penderitaan justru menjadi hal yang rutin, itu bukan tanda cinta yang sehat.
Singkatnya, hubungan sehat membuatmu merasa lebih baik dan lebih percaya diri, sedangkan masokisme cenderung membuat seseorang merasa terluka, tertekan, dan kehilangan batas diri.

Masokisme memiliki risiko dan dampak serius, terutama jika terjadi dalam hubungan yang tidak sehat. Secara fisik, seseorang bisa mengalami luka, cedera, atau gangguan kesehatan akibat perlakuan menyakitkan. Secara emosional dan mental, masokisme dapat menurunkan rasa percaya diri, memicu stres, kecemasan, hingga depresi.
Selain itu, masokisme juga berisiko membuat seseorang menormalisasi kekerasan dan sulit mengenali batasan diri. Pada remaja, kondisi ini bisa memengaruhi cara mereka membangun hubungan di masa depan, sehingga lebih rentan terjebak dalam relasi yang manipulatif atau abusif. Jika dibiarkan, dampaknya tidak hanya jangka pendek, tetapi bisa berlanjut hingga dewasa.
Remaja bisa melindungi diri dengan mengenali batasan pribadi dan berani mengatakan tidak pada hal apa pun yang membuat tidak nyaman. Hubungan yang sehat tidak pernah memaksa atau menyakiti. Penting juga untuk membangun komunikasi yang jujur, memahami arti persetujuan, dan tidak menormalisasi rasa sakit sebagai bukti cinta.
Jika mulai merasa tertekan atau terluka, jangan hadapi sendirian. Ceritakan pada orang dewasa tepercaya seperti orang tua, guru BK, atau konselor. Diperlukan juga mencari informasi yang benar tentang hubungan sehat dan menjaga kesehatan mental adalah langkah penting agar remaja tetap aman dan percaya diri dalam menjalin relasi.

Remaja perlu mencari bantuan segera jika hubungan membuat mereka merasa takut, tertekan, atau terluka baik secara fisik maupun emosional. Tanda lainnya adalah ketika kamu merasa terpaksa menuruti keinginan pasangan, sulit berkata tidak, atau sering merasa bersalah dan menyesal setelah disakiti.
Bantuan juga perlu dicari jika perilaku menyakiti diri sudah mulai dianggap wajar atau berdampak pada kesehatan mental, seperti cemas berlebihan, sedih terus-menerus, atau kehilangan kepercayaan diri. Jangan ragu untuk berbicara dengan orang tua, konselor, atau tenaga profesional lainnya. Meminta bantuan bukan tanda kelemahan, melainkan langkah berani untuk melindungi diri.
Rasa sakit bukanlah ukuran cinta atau kedekatan. Hubungan yang sehat tidak membuat seseorang merasa terpaksa, terluka, atau kehilangan harga diri. Dengan mengenali masokisme sejak dini, remaja dapat lebih bijak dalam membangun relasi dan berani memilih hubungan yang aman, sehat, dan saling menghargai.
*****

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.