Penulis: Agung Izzul Haqq Laksono – Universitas Jenderal Soedirman
Sunners, pernah nggak sih kamu jadi musuh terbesar buat dirimu sendiri? Pas bikin satu kesalahan kecil, langsung mikir “Duh, bodoh banget sih gue!” lalu menyalahkan diri terus-terusan. Kebiasaan menghukum diri ini racun banget, lho. Padahal, ada cara yang lebih adem buat mental, yaitu self acceptance. Secara definisi, self acceptance adalah kondisi psikologis di mana kita mengakui dan merangkul semua aspek diri, baik kelebihan maupun kekurangan, dengan perspektif yang realistis dan seimbang. Intinya, ini adalah seni menerima diri tanpa syarat dan tanpa penghakiman yang kejam.

Seringkali kita ketukar antara self acceptance dan self esteem, padahal beda banget, lho! Self esteem itu sifatnya fluktuatif atau naik turun karena bergantung pada pencapaian eksternal dan pendapat orang lain. Kalau kamu juara kelas, self esteem naik, tapi pas gagal, langsung anjlok.
Sebaliknya, self acceptance adalah tentang kedamaian batin yang stabil. Ia tetap ada di sana menemani kamu, nggak peduli kamu lagi sukses atau lagi gagal total. Ia lebih fokus pada pandangan diri yang realistis daripada sekadar perasaan bangga sesaat.
Menerapkan penerimaan diri ini punya manfaat ajaib buat kesehatan mental. Hal ini terbukti bisa menurunkan emosi negatif seperti kecemasan, kebiasaan mengkritik diri sendiri, rasa bersalah, dan rasa malu.
Dengan menerima diri, kamu menciptakan “ruang aman” di dalam hati yang bebas dari penghakiman sadis. Jadi, saat dunia lagi jahat sama kamu, setidaknya kamu nggak ikutan jahat sama diri sendiri. Bonusnya, hubunganmu dengan orang lain juga bakal lebih sehat karena kamu jadi lebih punya empati.
“Kalau menerima diri apa adanya, nanti jadi malas berkembang dong?” Eits, salah besar! Justru, merangkul siapa dirimu yang sebenarnya akan memfasilitasi perbaikan diri yang tulus. Self acceptance adalah cara ampuh untuk mengurangi perfeksionisme yang merusak dan ketakutan akan kegagalan.
Kamu jadi lebih berani ambil risiko dan tangguh karena tahu kalaupun gagal, kamu nggak akan menghukum diri sendiri secara berlebihan. Jadi, ini bukan soal pasrah, tapi soal bangkit tanpa menyiksa diri.
*****
Kesimpulannya, menjadi manusia itu berarti satu paket, ada bagusnya dan ada kurangnya. Kebahagiaan sejati dimulai saat kita berhenti mencari validasi orang lain dan mulai nyaman dengan diri sendiri, terlepas dari prestasi atau kegagalan kita.
Yuk, mulai belajar memaafkan satu kesalahan kecilmu hari ini. Coba tulis di kolom komentar, hal apa dari dirimu yang dulunya bikin insecure tapi sekarang sudah mulai bisa kamu terima?
*****

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.