Penulis: Indira Salsabila – SMAN 1 Gebog
Dukun adalah istilah yang kerap memicu perdebatan panjang di tengah masyarakat Indonesia. Sebagian orang merasa takut, sementara yang lain justru diliputi rasa penasaran.
Istilah ini biasanya langsung memunculkan bayangan ritual malam hari. Kepulan asap kemenyan, mantra-mantra, hingga bisikan gaib sering dianggap mampu mengubah garis nasib seseorang.
Berbagai cerita pun beredar luas. Ada yang mengaku hidupnya berubah drastis setelah mendatangi seorang praktisi spiritual. Sebagian merasa sembuh dari penyakit yang lama diderita.
Namun, tidak sedikit pula yang mengalami kejadian aneh yang sulit dijelaskan secara logika.
Di balik selubung misteri tersebut, muncul pertanyaan: apakah benar fenomena ini murni berasal dari kekuatan supranatural?
Atau justru ada peran budaya, psikologi, serta kekuatan sugesti yang membentuk narasi besar tentang dukun di masyarakat?
Artikel ini akan membedah fakta dan mitos tentang dukun yang jarang diketahui.

Mitos paling umum adalah anggapan bahwa semua dukun identik dengan santet atau guna-guna. Padahal, realitasnya jauh lebih beragam.
Di berbagai daerah, dikenal dukun bayi yang membantu proses persalinan tradisional. Ada pula dukun patah tulang yang memahami struktur tubuh meski tanpa pendidikan medis formal.
Fakta ini menunjukkan bahwa tidak semua praktik bertujuan mencelakai orang lain. Memberi label negatif secara menyeluruh jelas tidak adil.
Dalam film dan cerita rakyat, sosok dukun sering digambarkan memiliki kemampuan luar biasa. Mulai dari memindahkan penyakit hingga mendatangkan kekayaan dalam semalam.
Secara realistis, klaim kekuatan tanpa batas lebih bersifat teatrikal. Tujuannya adalah membangun citra dan otoritas di hadapan orang yang datang meminta bantuan.
Kepercayaan memegang peran penting. Tanpa keyakinan, efek psikologis dari ritual tersebut biasanya tidak akan terasa.
Tidak sedikit orang mendatangi dukun demi jabatan, kelancaran usaha, atau keberuntungan cepat. Mitosnya, ritual tertentu mampu menghapus semua hambatan hidup.
Dalam banyak kasus, yang terjadi justru dorongan motivasi tambahan. Rasa yakin membuat seseorang lebih percaya diri dan berani mengambil keputusan.
Kesuksesan yang diraih sering kali merupakan hasil usaha pribadi yang terpicu oleh sugesti positif, bukan semata kekuatan gaib.
Setelah membedah mitosnya, sekarang mari kita bicara soal fakta yang didukung oleh catatan sejarah maupun penjelasan psikologis yang masuk akal.

Faktanya, sebelum ilmu medis modern dari Barat masuk ke Indonesia, para praktisi tradisional ini adalah garda terdepan kesehatan masyarakat.
Mereka adalah para ahli botani pada zamannya.
Mereka memahami ribuan jenis tanaman herbal dan akar-akaran yang secara ilmiah memang memiliki kandungan zat aktif untuk menyembuhkan.
Jadi, kesembuhan yang dialami pasien sering kali bukan karena mantra, melainkan karena ramuan jamu yang tepat sasaran.
Di masa lalu, mereka tidak hanya mengobati fisik, tetapi juga jiwa.
Banyak orang yang datang sebenarnya hanya membutuhkan teman bicara atau penasihat spiritual untuk masalah keluarga mereka.
Dalam dunia modern, peran ini sebenarnya sangat mirip dengan psikolog atau konselor.
Kehadiran mereka memberikan ketenangan batin melalui ritual yang dianggap sakral, yang mana ketenangan tersebut sangat membantu proses penyembuhan alami tubuh.
Dalam dunia kedokteran, dikenal istilah efek plasebo.
Ini adalah kondisi di mana pasien merasa sembuh hanya karena mereka percaya bahwa obat yang mereka minum manjur, padahal obat tersebut mungkin hanya berisi gula.
Hal serupa terjadi dalam praktik tradisional.
Ritual yang rumit, syarat-syarat yang unik, dan suasana yang mencekam menciptakan sugesti yang sangat kuat di otak pasien.
Akibatnya, otak melepaskan endorfin dan dopamin yang secara otomatis meningkatkan sistem imun tubuh.
Kehadiran mereka di beberapa daerah adalah cara masyarakat menjaga warisan leluhur.
Ritual-ritual yang dilakukan sering kali merupakan simbol penghormatan terhadap alam semesta.
Faktanya, keberadaan mereka menunjukkan betapa kuatnya ikatan masyarakat Indonesia dengan sejarah masa lalu.
Mereka adalah penjaga cerita, mantra lama, dan tata cara adat yang mungkin akan hilang jika tidak dipraktikkan secara turun-temurun.
Sunners mungkin bertanya, mengapa praktik seperti ini tetap bertahan di era teknologi modern?
Jawabannya terletak pada kebutuhan akan kepastian. Saat sains belum mampu memberi jawaban atas penderitaan tertentu, manusia cenderung mencari alternatif yang menawarkan harapan.
Faktor ekonomi juga berperan. Biaya pengobatan medis yang tinggi membuat sebagian masyarakat memilih jalur tradisional yang dianggap lebih terjangkau dan personal.
Cerita tentang dunia gaib memang selalu menarik. Namun, penting untuk membedakan antara nilai budaya dan eksploitasi ketakutan.
Menghormati tradisi tidak berarti mengabaikan logika. Untuk masalah kesehatan serius, layanan medis tetap menjadi rujukan utama.
Sisi tradisional dapat dipandang sebagai kekayaan antropologi, bukan sebagai pengganti ilmu pengetahuan modern.
Kesan mistis tentang dukun terbentuk dari perpaduan budaya, ritual simbolik, cerita turun-temurun, dan sugesti yang terus hidup di masyarakat.
Fenomena ini mencerminkan upaya manusia mencari keseimbangan antara logika dan keyakinan, antara yang terlihat dan yang tak kasat mata.
Oleh karena itu, Sunners harus menyikapi cerita mistis dengan rasa penasaran sekaligus nalar yang jernih.
Tidak langsung percaya, namun juga tidak menolak konteks budaya yang melatarbelakanginya.
Dengan memahami sisi sejarah dan psikologisnya, masyarakat dapat lebih bijak dan tidak mudah menyebarkan narasi yang belum tentu benar.
Apakah Sunners memiliki pengalaman unik terkait praktik dukun di daerah sekitar? Tulis dan bagikan di kolom komentar, ya!
*****

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.
