Penulis: Larissa Fiapermata Feby – Universitas Islam Negeri Fatmawati Sukarno Bengkulu
Pernah merasa tubuh kita baik-baik saja, tidak mengantuk, tidak capek, tapi saat belajar pikiran justru ke mana-mana? Buku terbuka, layar menyala, tapi perhatian terasa pecah. Kondisi ini sering membuat kita bingung dan menyalahkan diri sendiri. Padahal, dalam kajian psikologi pendidikan, fokus belajar memang tidak hanya ditentukan oleh kondisi fisik, tetapi juga oleh kesiapan mental dan cara otak memproses informasi (Ormrod, 2012).
Fokus atau atensi adalah kemampuan otak untuk memilih informasi yang relevan dan mengabaikan rangsangan lain. Menurut penelitian dalam psikologi kognitif, kapasitas perhatian manusia bersifat terbatas, sehingga otak tidak bisa bekerja optimal saat terlalu banyak informasi bersaing dalam waktu bersamaan (Goldstein, 2014). Inilah alasan mengapa fokus belajar bisa menurun meskipun tubuh tidak merasa lelah.

Salah satu faktor penting adalah beban kognitif. Teori Cognitive Load menjelaskan bahwa ketika terlalu banyak informasi diproses sekaligus, memori kerja menjadi kewalahan dan fokus menurun (Sweller, 1988). Selain itu, tekanan akademik, distraksi digital, dan kebiasaan multitasking membuat otak kita jarang benar-benar berada dalam mode fokus penuh. Tanpa disadari, pikiran kita lelah sebelum tubuh merasakannya.
Ketika fokus terganggu, proses belajar menjadi dangkal. Kita mungkin merasa sudah belajar lama, tetapi pemahaman tidak bertahan. Penelitian menunjukkan bahwa atensi yang terpecah berdampak langsung pada rendahnya pemahaman konsep dan daya ingat jangka panjang (Santrock, 2018). Akibatnya, belajar terasa berat dan hasilnya tidak sebanding dengan usaha yang kita keluarkan.

Sulit fokus saat belajar bukan selalu tanda kemalasan atau kurang disiplin. Sering kali, itu adalah sinyal bahwa otak kita sedang bekerja di luar kapasitas optimalnya. Dengan memahami cara kerja atensi dan beban kognitif, kita bisa lebih bijak dalam menyikapi proses belajar. Belajar tidak harus selalu dipaksakan; justru ketika kita memahami batas dan kebutuhan pikiran kita, proses belajar bisa menjadi lebih efektif, manusiawi, dan berkelanjutan.
*****

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.
